PRESIDEN SOEHARTO BUKA AEMM, 12 SEPTEMBER

PRESIDEN SOEHARTO BUKA AEMM, 12 SEPTEMBER[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto akan membuka Pertemuan Para Menteri Ekonomi ASEAN (AEMM) di Istana Negara, Jakarta, 12 September, demikian Menko Prodis Hartarto di Istana Merdeka, Senin.

Hartarto setelah melapor kepada Presiden bersama dengan Mensesneg Moerdiono dan Menperindag Tunky Ariwibowo menjelaskan bahwa selama pertemuan yang akan berlangsung sampai 13 September, para menteri ekonomi ASEAN juga akan mengadakan serangkaian dialog dengan mitranya seperti AS, Jepang, Selandia Bam dan Australia.

AEMM akan membahas antara lain pelaksanaan penerapan AFTA tahun 2003 serta penerapan perdagangan bebas yang memberlakukan bea masuk antara nol sampai lima persen untuk semua sektor ekonomi yaitu hasil industri, pertanian dan jasa.

Bagi Indonesia dan negara anggota ASEAN lain,penetapan tahun 2003 itu sudah menjadi program kerja jangka pendek mengingat hanya tujuh tahun lagi, kata Menko.

Pertemuan tingkat menteri itu membahas masalah setelah tahun 2003 dengan tujuan untuk memperkuat dan meningkatkan ekonomi ASEAN.

Berbagai masalah lain yang dibahas menyangkut sikap ASEAN dalam kerjasama dengan APEC, WTO dan Eropa serta pengembangan Cekungan Mekong yang melibatkan Myanmar serta Laos, dan Kamboja. Dua negara terakhir itu juga merupakan calon anggota ASEAN, kata Menko menjelaskan. Menjawab pertanyaan, Hartarto mengatakan, masalah Mobnas merupakan masalah bilateral jadi AEMM tidak akan menyorotinya. Sebelum AEMM, diadakan pertemuan Dewan AFTA yang membahas berbagai masalah setiap Negara ASEAN dalam menerapkan AFTA itu.

Pada dasarnya, kata Hartarto, ASEAN memiliki persepsi yang sama dalam memecahkan setiap masalah perdagangan nya dengan menempatkan kesepakatan melalui perundingan sebagai prioritas.

Wakil Kongres RRC

Presiden Soeharto pada hari yang sama menerima Wakil Kongres Rakyat Nasional RRC Wan Guangying yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial dan Budaya China.

Ia didampingi antara lain oleh Ketua Lembaga Indonesia-China Sukamdani Sahid Gitosardjono dan Pembina Lembaga itu pengusaha besar Sudono Salim.

Tamu dari RRC itu hanya menjelaskan, ia sebelumnya pernah sekali ke Indonesia. Jadi tidak merasa asing dengan negara ini.

Sedangkan Sukamdani mengatakan Indonesia dalam hubungan dagangnya dengan RRC selalu mencatat surplus.

Sumber : ANTARA (09/09/1996)

__________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 412-413.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.