PRESIDEN SOEHARTO BAWA ROMBONGAN GUBERNUR KALBAR DAN SUMBAR MENINJAU TAPOS

PRESIDEN SOEHARTO BAWA ROMBONGAN GUBERNUR KALBAR DAN SUMBAR MENINJAU TAPOS [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto, minggu pagi, membawa rombongan Gubernur Kalimantan Barat dan Sumatera Barat meninjau Tapos (Bogor) tempat pengembangan dan pembibitan sapi dan domba.

Dalam suasana hujan gerimis Presiden mengantar dan memberikan penjelasan pada tiap-tiap kandang dengan jenis-jenis sapi yang dikembangkan seperti jenis Sancta Getrudes, Brahman, Devon dan Angus.

Dalam kesempatan bercakap2 dengan para Bupati dan dua orang Gubernur ini, Presiden menjelaskan, bertani tanpa memiliki ternak adalah kurang menguntungkan, karena kecuali dagingnya dan tenaganya untuk membantu menggarap sawah, yang penting lainnya adalah “kotoran sapi”-nya yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang.

Tetapi karena keadaan para petani Indonesia umumnya belum mampu membeli ternak yang baik, maka pemerintah telah berusaha membantu para petani dengan menyegarkan hasil pembibitan sapi jenis unggul ini agar dapat dikawinkan dengan sapi2 daerah.

Menurut Presiden sapi2 jenis unggul yang di-import dari luar negeri ini ternyata seluruhnya dapat dikawinkan dengan sapi yang ada didalam negeri, dan telah menghasilkan keturunan baru yang lebih baik dalam pertumbuhannya, maupun berat badannya.

Kepada para rombongan Gubernur ini, Presiden menjelaskan bahwa tanah Peternakan Tapos dan Ciomas adalah bekas perkebunan teh yang tidak dipergunakan lagi dan bukan milik pribadi tetapi merupakan tanah sewa garap dari Agraria, dengan jangka waktu tertentu.

Kecuali untuk percobaan pertanian daerah ini sepenuhnya dipergunakan untuk pengembangan dan pembibitan ternak agar dapat segera membantu perbaikan mutu ternak di Indonesia.

Mengenai pengelolaan tanah Tapos dan Ciomas serta pemeliharaannya adalah di bawah pengawasan suatu Badan Hukum, P.T. Rejosari Bumi dipimpin Sigit Suharto.

Mengenai Perumahan Murah, Presiden juga memberikan pengalamannya dalam percobaan pembuatan rumah murah dengan menggunakan bahan batu apung atau Panis yang banyak terdapat di bekas gunung berapi di daerah Bogor dan Sukabumi.

Presiden menganjurkan, sekiranya di daerah Sumbar dan Kalimantan dapat ditemukan cadangan batu ini kiranya dapat dicoba dengan menggunakan pengalaman dan sistem pembuatan seperti yang telah dilakukan di daerah Kelapa Gading Jakarta.

Proyek pembuatan rumah tersebut seluruhnya dikerjakan oleh para pengawal dengan pengawasan Presiden.

Menurut Presiden pembuatan rumah murah dengan menggunakan campuran pasir dan batu apung semen ini, rata2 setiap rumahhanya memerlukan 20 m3 (kubik) dengan tiap bagian dicetak, sehingga di samping cepat dan lebih murah, juga bahan ini tahan api dan kedap air. (DTS)

Sumber: ANTARA (17/01/1977)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 577-578.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.