PRESIDEN SOEHARTO “BAPAK PENGGERAK KOPERASI”

PRESIDEN SOEHARTO “BAPAK PENGGERAK KOPERASI”[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto dijadwalkan akan dikukuhkan sebagai “Bapak Penggerak Koperasi” dalam suatu upacara memperingati HUT ke-50 Hari Koperasi pada 12 Juli 1997, di Jakarta.

Ketua Umum lnduk Koperasi Karyawan (Inkopkar) Agus Sudono kepada ANTARA di Jakarta, Jumat, mengatakan, pengukuhan gelar Bapak Penggerak Koperasi didasarkan atas jasa Presiden Soeharto yang selama PJP I telah berhasil mewujudkan gerakan koperasi secara nasional.

“Inkopkar telah menerima 100 surat lebih dari Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) di seluruh Indonesia yang mengusulkan Presiden Soeharto untuk dikukuhkan sebagai Bapak Penggerak Koperasi atas keberhasilnnya dalam menggerakan koperasi di Indonesia.” katanya.

Keberhasilan menggerakan koperasi ditandai dengan peningkatan jumlah koperasi.

Pada 1970 terdapat sekitar 15 ribu unit koperasi beranggotakan 4,6 juta orang dengan aset Rp 7 miliar, dan pada 1996 terdapat 46 ribu unit koperasi beranggotakan 26 juta orang dengan aset Rp 8 triliun.

Di samping itu, pembentukan Koperasi Unit Desa (KUD) yang dimulai sejak 1970-an kini berhasil menggerakkan masyarakat desa untuk aktif berkoperasi dan meningkatkan kesejahteraan, serta pembudayaan koperasi melalui pendidikan koperasi mulai SLTP hingga perguruan tinggi.

Agus Sudono mengatakan sebutan gelar “Bapak Koperasi Indonesia” telah dikukuhkan kepada almarhum Bung Hatta yang telah berjasa dalam meletakkan landasan filosopi koperasi sebagaimana dituangkan dalam penjelasan pasa133 UUD 1945.

Sementara itu, sejumlah kegiatan memperingati HUT ke-50 Hari Koperasi 12 Juli 1997 di Jakarta antara lain seminar Internasional tentang koperasi yang diikuti utusan negara-negara Asia-Pasifik dan pameran produk koperasi dari dalam dan luar negeri.

Sumber : ANTARA (06/06/1997)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 376.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.