Presiden Soeharto: ANGKATAN 45 BERKEWAJIBAN TUNJUKKAN JIWADAN NILAI 45

Presiden Soeharto:

ANGKATAN 45 BERKEWAJIBAN TUNJUKKAN JIWADAN NILAI 45

Angkatan 45 berkewajiban menunjukkan jiwa dan nilai 45 serta mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara nyata.

Keharusan yang harus dilaksanakan Angkatan 45 ini, ditegaskan Presiden Soeharto dalam pidatonya ketika membuka resmi Musyawarah Besar Nasional (Mubenas) Angkatan 45 yang keenam di Gedung Gelora Sriwijaya Palembang, Rabu pagi.

Di hadapan segenap Dewan Pimpinan Pusat dan kurang lebih 300 perutusan dari seluruh daerah di Indonesia, Kepala Negara menyatakan bahwa kewajiban menunjukkan jiwa dan nilai 45 yang harus dipikul Angkatan 45 merupakan kewajiban yang tidak ringan.

"Tentu saja tidak ada manusia tanpa cacat dan tidak ada generasi tanpa cela. Namun ini adalah kodrat manusia dan kodratnya suatu generasi," kata Presiden menambahkan.

Tapi karena generasi 45 merasakan sendiri keampuhan jiwa dan nilai-nilai 45 yang telah melahirkan kemerdekaan nasional itu, generasi inilah yang wajib mewariskan jiwa dan nilai-nilai tadi kepada generasi selanjutnya.

Presiden mengharapkan usaha mewariskan jiwa dan nilai-nilai 45 inihendaknya merupakan babak terakhir pengabdian generasi 45 kepada bangsa dan negara.

Tapi Presiden menekankan bahwa yang penting dalam pewarisan ini bukan apa yang dikatakan melainkan, melainkan apa yang dikerjakan.

Apabila generasi 45 dengan berlandaskan kepada nilai-nilai 45 telah berhasil menegakkan kemerdekaan nasional, maka kini tugas Angkatan 45 yang tidak kalah pentingnya ialah meneruskan nilai-nilai 45 itu kepada generasi yang lebih muda sebagai modal mental dan semangat untuk meneruskan perjuangan yang lebih besar dan berlangsung lebih panjang lagi.

Perjuangan itu tidak lain daripada perjuangan memberi isi pada kemerdekaan itu dengan pembangunan nasional yang bersifat menyeluruh itu, baik pembangunan politik, pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial budaya berdasarkan Pancasila.

Pembangunan yang dewasaini telah mulai dilaksanakan dengan sungguh-sungguh tentunya akan memberikan kebahagiaan dan kemajuan yang terasa adil bagi seluruh rakyat Indonesia, kata Presiden.

Arti Peristiwa 45

Ketika mengungkapkan kembali peristiwa penting dalam sejarah Indonesia untuk menjelaskan beberapa pokok mengenai usaha melestarikan nilai-nilai 45, Presiden menyatakan bahwa peristiwa bersejarah di tahun itu sesungguhnya merupakan hakekat semangat dan nilai-nilai 45.

Presiden mengatakan bahwa untuk memahami nilai-nilai 45 itu harus dilihat kembali sejarah bangsa Indonesia, bukan saja di sekitar tahun 45 melainkan lebih jauh lagi.

Peristiwa bersejarah yang terjadi di tahun 1945 itu tidak dapat dipisahkan dari perkembangan tahun 1928, mempunyai sambutan dengan sejarah tahun 1908 dan berakar lebih dalam lagi pada perjuangan ratusan tahun sebelumnya.

Presiden memaparkan bahwa bangsa Indonesia dahulu pada hakekatnya adalah bangsa yang besar yang mendiami dan berdiri tegak sebagai negara nasional yang merdeka.

Zaman kebesaran ini ditandai Kerajaan Sriwijaya, yang beribukota di daerah Palembang dan kemudian negara Kerajaan Majapahit yang sangat masyhur itu. Namun bangsa Indonesia juga pernah runtuh, yang kemudian meringkuk sangat lama 350 tahun di bawah penjajahan asing.

Tapi selama masa penjajahan yang pahit itu bangsa Indonesia terus berjuang untuk memperoleh kembali kehormatan dan kemerdekaan yang hilang. Timbullah nama-nama pahlawan di seluruh wilayah Nusantara ini seperti Teuku Umar, Imam Bonjol, Sisingamangaraja, Siliwangi, Diponegoro, Hasanuddin, Pattimura dan para pahlawan.

Peristiwa yang tetjadi di masa lampau itu menjadi unsur penting dalam perkembangan jiwa bangsa Indonesia. Ini merupakan harapan masa depan dari unsur pemeliharaan rasa percaya pada diri sendiri.

Cita-cita untuk menjadi bangsa merdeka tidak pemah padam. Kemudian tampak tahap selanjutnya dari perjuangan kemerdekaan kebangsaan, yang tampak jelas dalam kebangkitan nasional tahun 1908 dengan lahirnya Budi Utomo, yang kemudian makin jelas dengan lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

Dengan lahirnya Sumpah Pemuda, mulailah tertanam benih persatuan Indonesia. Perjalanan panjang perjuangan bangsa akhirnya mencapai puncaknya di tahun 1945, yang melahirkan Proklamasi Kemerdekaan.

Kemerdekaan Milik Tertinggi

Presiden menyatakan bahwa yang paling menonjol dari nilai 45 adalah anggapan bahwa kemerdekaan adalah milik dan kehormatan bangsa yang tertinggi.

Nilai 45 juga mengandung harga diri dan percaya pada diri sendiri. Karena kemerdekaan nasional adalah milik dan kehormatan tertinggi, maka bangsa Indonesia secara tegas bersikap anti penjajahan.

Karena itu pula, untuk kemerdekaan itu dipertahankan dengan penuh keyakinan, jika perlu mengorbankan pribadi yang tertinggi yaitu jiwanya sendiri.

Semboyan pada waktu itu "Merdeka atau Mati". Tapi meskipun demikian, Angkatan 45 tidak pernah merasa sebagai yang paling berjasa karena sejarah menunjukkan hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia, suatu perjuangan yang sangat berat dan panjang, demikian Presiden.

Mubenas VI Angkatan 45 ini bertemakan: "Melestarikan jiwa dan nilai-nilai 45 Melalui Pemantapan Pengamalan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945".

Hadir dalam upacara peresmian Mubenas VI Angkatan 45 yang berlangsung 25 sampai 29 Juni itu, Menko Polkam M. Panggabean, Menko Kesra/Ketua Umum DPP Angkatan 45 Surono, Menhankam/Pangab M. Jusuf, Mendagri Amirmachmud, Menteri Perdagangan dan Koperasi Radius Prawiro, Menpen Ali Murtopo, Menteri Agama Alamsyah, Menteri Perindustrian A.R. Suhud, Menteri Sosial Supardjo, Mensesneg Sudharmono dan Wakil Ketua DPA John Naro.

Selain itu hadir Kepala Staf ketiga angkatan masing-masing Jenderal Poniman, Laksamana Waluyo Sugito, Marsekal Ashadi Tjahyadi dan Kapolri Jenderal Pol. Awaluddin Djamin. Bekas Gubernur DKI Ali Sadikin hadir dalam Mubenas tersebut selaku Ketua I DPP Angkatan 45.

Kunjungan Presiden Soeharto ke Sumsel untuk membuka Mubenas VI Angkatan 45 merupakan salah satu kunjungan Kepala Negara yang tersingkat, berlangsung kurang lebih hanya dua setengah jam.

Presiden yang didampingi lbu Tien Soeharto serta rombongan tiba kembali di Jakarta, Rabu tengah hari. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (25/07/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 862-865.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.