PRESIDEN SOEHARTO AKAN TERIMA PENGHARGAAN UNDP

PRESIDEN SOEHARTO AKAN TERIMA PENGHARGAAN UNDP[1]

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto dijadwalkan menerima tanda penghargaan atas keberhasilan Indonesia mengurangi jumlah penduduk miskin dari Program Pembangunan PBB (UNDP). Penghargaan itu akan diserahkan Ditjen UNDP James Gustave Speth, di Jakarta, 8 September 1997 mendatang.

Penegasan itu dikemukakan Menneg Kependudukan Kepala BKKBN Haryono Suyono yang didampingi Kepala Perwakilan UNDP untuk Indonesia Ravi Rajan di Jakarta, kemarin.

Menurut Haryono, alasan pemberian penghargaan itu didasarkan pada keberhasilan Indonesia menurunkan jumlah penduduk miskin dari 60 persen pada 1970 menjadi 11 persen pada 1996.

Seperti diketahui, penurunan jumlah penduduk miskin, tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi. Angka pertumbuhan mencapai rata-rata sekitar 7 persen setiap tahun. Ini ditambah lagi dengan keberhasilan di bidang pertanian, dimana Indonesia berhasil melakukan pembangunan sektor pertanian dan mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984.

“Prestasi ini diakui organisasi pangan dunia (FAO), dan Presiden Soeharto juga telah menerima penganugerahan medali dalam sidang FAO di Roma, tahun 1996 lalu.” jelas Haryono.

Di bidang pengentasan kemiskinan, Presiden Soeharto telah mengeluarkan Inpres No.5/1993, yakni Inpres Desa Tertinggal (IDT) yang memberikan bantuan modal kerja sebesar Rp 20 juta untuk tiap desa tertinggal guna mempercepat penghapusan kemiskinan melalui pemberian pinjaman modal kerja kepada penduduk tertinggal.

Di samping itu, dikeluarkan pula Inpres No.3/1996 untuk mempercepat penghapusan kemiskinan melalui pembangunan keluarga sejahtera (KS) yakni 11,5 juta keluarga tertinggal tergolong prasejahtera (pra-KS) dan KS-1 yang tinggal di luar desa IDT mendapatkan modal kerja.

Dalam Inpres itu disebutkan, setiap keluarga tertinggal mendapatkan hibah Rp 2.000, sebagai saldo awal Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra) yang selanjutnya mereka dapat meminjam modal kerja Rp 20 ribu, dan jika melunasinya dapat meminjam lagi dua kali lipat dari pinjaman sebelumnya.

Melalui gebrakan ini, dicapai target 96 persen keluarga di pedesaan menjadi penabung dan sekitar 3 juta kepala keluarga menjadi wirausaha dipedesaan sekaligus memperbaiki tingkat ekonominya. Demikian juga semakin menjamurnya kegiatan koperasi dan kelompok usaha di pedesaan. Kelompok itu diberikan kesempatan mengadakan usaha otonom yang mandiri dan dinamakan Prokesra.

Sumber : MERDEKA (14/06/1997)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 50-51.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.