PRESIDEN SOEHARTO : AKAN TERGULUNG, TOKOH YANG TAK KONSEKUEN

PRESIDEN SOEHARTO : AKAN TERGULUNG, TOKOH YANG TAK KONSEKUEN[1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto hari Rabu (11/9) menerima sembilan anggota Panitia Mahasabha VII Parisadha Hindu Dharma Indonesia yang dipimpin Ketua Umum PHDI Ida Pedanda Putra Telaga, di Bina Graha, Jakarta. Mereka didampingi oleh Menag Tarmizi Taher. Presiden Soeharto dalam kesempatan itu mengharapkan Mahasabha Parisadha Hindu Dhrama dijadikan sebagai sarana konsolidasi umat Hindu dalam rangka meningkatkan ketakwaan dan pengamalan ajaran agama. Musyawarah umat Hindu Indonesia itu akan dibuka Presiden Soeharto 17 September di Siti Hinggil Keraton Surakarta. Sebelum pembukaan, sekitar 10.000 umat Hindu akan bersembahyang di Candi Prambanan.

Presiden Soeharto menilai para tokoh yang bersuara lain, ketika masih memegang jabatan dan setelah lepas dari jabatannya, adalah orang-orang yang tidak konsekuen terhadap tekad Orde Baru untuk mengamalkan UUD 1945 dan Pancasila secara konsekuen. Menurut Kepala Negara, adanya para tokoh yang bersuara demikian itu tidak perlu dikhawatirkan, karena jumlah mereka hanya kecil dan akan tergulung.

Penegasan Kepala Negara itu disampaikan kepada wartawan oleh Ketua Umum Gema MKGR, Tantyo AP Sudharmono, usai diterima Presiden Soeharto di Bina Graha, Jakarta, Rabu (11/9). Hal serupa dijelaskan pula oleh Dewan Pembina Ikatan Keluarga Besar Laskar Arief Rahman Hakim, dan Eksponen’66, yang diantaranya didampingi Ekky Syachrudin (Dewan Pembina), Sugeng Satjadi (Dewan Penasehat) dan Djusril Djusan (Ketua Umum) di tempat yang sama.

Selain menerima Gema MKGR, Eksponen’66, dan Dewan Pembina Ikatan Keluarga besar Laskar Arief Rachman Hakim, Kepala Negara kemarin antara lain juga menerima Panitia Mahasabha Parisadha Hindu Dharma, Menag Tarmizi Taher, Menko KesraAzwar Anas, dan Panglima AB Cina, Jenderal Fu Quangycu.

Tidak Konsekuen

“Kami menyampaikan sedikit keprihatinan, bahwa ada beberapa, katakanlah tokoh atau orang yang pada waktu masih menjabat dengan setelah selesai menjabat, kok suaranya beda. Beliau (Presiden) menyampaikan kepada kami bahwa orang tersebut adalah orang yang memang tidak konsisten dan tidak konsekuen terhadap tekad Orde Baru yaitu mengamalkan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekuen.” kata Tantyo Sudharmono.

Walau begitu, menurut Tantyo, Presiden berpesan agar tidak terlalu mengkhawatirkan masalah itu.

“Presiden berpendapat tidak perlu terlampau dikhawatirkan, karena hanya kelompok kecil yang suatu saat juga pasti akan tergulung oleh perjalanan dari yang lain.” kata Tantyo mengutip ucapan Kepala Negara.

Kepada Kepala Negara Gema MKGR melaporkan rencana Munas Gema MKGR IV di Lampung dengan program yang tetap di titikberatkan pada upaya mensukseskan pembangunan pedesaan.

Abdul Gafur menambahkan Eksponen’66 berpendapat, peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan  oleh kelengahan dan adanya sement dalam Orde Baru yang tidak konsisten dan kurang konsekuen melaksanakan Pancasila dan UUD 45. Hal itu diungkapkan berdasarkan pengamatan sejak munculnya PRD. Untuk memperjelas masalah kelengahan tersebut, kata Abdul Gafur, Presiden menggambarkan peristiwa di Madiun tahun 1948 dan pemberontakan PKI tahun 1965.

“Bahwa kelengahan kita ini terhadap gerakan-gerakan yang berbau PKI tahun 1948 itu kita setengah-setengah. Apa akibatnya, pada tahun 1965, terjadi pemberontakan PKI lagi.” Kata Abdul Gafur mengutip penjelasan Presiden.

“Kita sudah tumpas habis itu, nah, sekarang ini jangan terulang lagi akibat kelengahan-kelengahan itu. Jadi, kita harus waspada terhadap gerakan-gerakan seperti itu. Artinya kalau timbul gerakan-gerakan seperti itu, kita harus mengantisipasi dan menindak.” lanjut Gafur.

Abdul Gafur menolak menjawab pertanyaan tentang siapa pelaku Orba yang kurang konsisten dan kurang konsekuen menjalankan Pancasila dan UUD 45.

“Tidak. Tidak sebut nama. Tapi, misalnya, dari kalangan sementara cendekiawan, lalu kaum muda kita yang menuntut ilmu di luar negeri, nah paham di luar negeri itu dibawa ke sini.” ujarnya.

Kepada Presiden, Abdul Gafur melaporkan rencana Rapim Ikatan Keluarga Besar Laskar Arief Rahman Hakim di Jakarta, tanggal 8 Oktober 1996, menyampaikan pikiran serta pengamatan Eksponen’66 terhadap perkembangan dan situasi negara.

Ajak Kembali

Menghadapi pandangan itu, Abdul Gafur mengatakan, Presiden Soeharto mengajak semua pihak kembali melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara konsisten, murni, dan konsekuen.

“Sebagai Presiden mandataris sebagaimana diamanatkan, akan tetap tegas melaksanakan amanat rakyat melalui GBHN akan tetap tegas melaksanakan Pancasila dan UUD 1945.” ujar Gafur.

Karena itu, lanjutnya, Presiden menyerahkan semua kepentingan kepada rakyat Indonesia.

“Apabila memang beliau (Presiden) melaksanakan itu sesuai dengan amanat rakyat, maka beliau tegas melaksanakan dengan sekuat tenaga.” katanya.

“Kemudian beliau katakan, pemerintah itu sudah memberikan keterbukaan, pelaksanaan demokrasi Pancasila, jangan diterjemahkan  sebagai  kelemahan pemerintah, lalu bikin macam-macam itu, menantang UU yang sudah ada, lalu kepartaian, Golkar, atau bikin partai baru. Ini kan menantang. Kembalilah kepada : semangat perjuangan Orde Baru kita.” Lanjut Abdul Gafur.

“Dan ada kalimat yang tadi kita sambut dengan senyum, jangan ada yang kumatlah. Tumbuh  lagi penyakit-penyakit  lama  untuk  liberalisme, menambah  partai baru dan sebagainya. Padahal kita sudah menegakkan system ini bertahun-tahun.” tambahnya.

Presiden menyerukan kepada Eksponen’66 agar bersatu padu bersama kekuatan Orba lain untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 45 sebagai pandu perjuangan Orba yang melaksanakan Pancasila sebagai satu-satunya asas dengan melaksanakan pembangunan sebagai wujud pengamalan Pancasila.

Sumber : KOMPAS (20/09/1996)

____________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 139-142.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.