PRESIDEN SOEHARTO AKAN BUKA “INDONESIA SUMMIT 1996”

PRESIDEN SOEHARTO AKAN BUKA INDONESIA SUMMIT 1996” [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto, Senin 13 Mei, akan membuka “Indonesia Summit 1996.” suatu konferensi membahas perkembangan ekonomi-bisnis di Indonesia yang dihadiri sejumlah pakar ekonomi dan negarawan dari mancanegara.

“Para tokoh bisnis dan pakar ekonomi luar negeri akan saling bertukar pikiran dalam konferensi ini, sedangkan pemerintah Indonesia akan memimpin sidang diskusi mengenai arah dan perkembangan ekonomi negara ini di masa yang akan datang.” kata Deswandhy Agusman, Managing Director – Corporate Finance PT. Peregrine Sewu Securities kepada pers di Jakarta, Kamis.

Peregrine Investments Holdings Limited (PIV) yang berkedudukan di Hongkong bertindak sebagai sponsor resmi acara yang juga akan menghadirkan beberapa Menteri Kabinet Pembangunan VI sebagai pemakalah kunci.

Para menteri itu antara lain Menko Produksi dan Distribusi Hartarto, Menteri/Ketua BKPM Sanyoto Sastrowardojo, Menlu Ali Alatas, Menhub Haryanto Dhanutirto, Menteri PU Radinal Moochtar, Menparpostel JoopAve, Mentamben IB Sudjana, Gubernur BI Soedradjat Djiwandono, Menkeu Mar’ie Muhammad, dan Menperindag Tunky Ariwibowo.

Dari luar negeri akan hadir Presiden Bank Dunia James D Wolfenshon, Wakil PM RRC Zhu Rongji, Pimpinan PIV Philip Tose, Menteri Ekonomi Belanda GJ Wijers, Penasihat Khusus PM Kanada di bidang Perdagangan Internasional Roy Maclaren, Menteri Perdagangan Australia Tim Fisher, dan sejumlah pelaku bisnis nasional.

Dirut PT. Pere grine Sewu Securities Timothy S Gray mengatakan penyelenggaraan “Indonesia Summit 1996” akan berperan untuk menarik perhatian internasional terhadap kebijakan positif yang diambil pemerintah Indonesia, misalnya terus dilakukannya langkah-langkah deregulasi, pembukaan pasar baru, perubahan pasar modal, dan kelonggaran investasi asing.

Ia menegaskan penyelenggaraan konferensi ini membuat Indonesia berkesempatan luas untuk mempertegas konsistensinya di bidang pasar global termasuk investasi dan mendorong luas membantu meningkatkan pasar dalam negeri.

Deswandhy mengatakan saat ini Indonesia tergolong negara peringkat teratas mampu menarik investasi asing, antara lain didukung dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi delapan persen tahun lalu.

“Dengan pertumbuhan ekonomi delapan persen, itu cukup tinggi, lebih-lebih Indonesia cukup stabil sehingga tetap menarik pemodal asing.” katanya.

Pimpinan Peregrine Philip Tose yang akan menjadi pembicara utama dalam “Indonesia Summit 1996” dalam konferensi ini, menurut Deswandhy, juga akan mengulas  topik mengenai kiat menggalang modal domestik dan asing untuk pelaksanaan proses swastanisasi di Indonesia. (U.JKT-001/EU09 /9/05/96 15:29/RUl).

Sumber : ANTARA (09/05/1996)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 311-312.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.