PRESIDEN SOEHARTO AJAK SELURUH RAKYAT TINGKATKAN DISIPLIN

PRESIDEN SOEHARTO AJAK SELURUH RAKYAT TINGKATKAN DISIPLIN

Presiden Soeharto mengajak seluruh rakyat Indonesia meningkatkan disiplin, sambil mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan amat tergantung pada kesanggupan mengendalikan diri, tidak hanyut dalam gaya hidup konsumtif "Gaya hidup seperti itu tidak selaras dengan kepribadian bangsa kita yang lebih mementingkan kewajaran dankeseimbangan," demikian Kepala Negara menegaskan dalam amanatnya ketika meresmikan berbagai proyek pembangunan di daerah Kalimantan Barat di Pontianak, hari Senin.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan mengendalikan diri itulah, Presiden mengajak seluruh masyarakat melaksanakan "Eka Prasetia Pancakarsa", yakni Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang sudah ditetapkan MPR.

"Dengan kemampuan mengendalikan diri pasti tidak sulit kita mewujudkan hidup sederhana, mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan menegakkan hidup disiplin, sebagai unsur-unsur yang sangat penting bagi kelanjutan pelaksanaan pembangunan di tahun-tahun mendatang," katanya.

Dalam upacara yang berlangsung di mesjid "Mujahidin" Pontianak itu, Kepala Negara menandatangani prasasti tanda diresmikannya proyek-proyek pembangunan di Kalbar, terdiri proyek pengerukan Alur Sungai Kapuas Kecil, Pusat Listrik Tenaga Disel di Siantan, Pasar Kapuas Indah, proyek jalan dan jembatan Ngabang – Sanggau serta proyek pembangunan Masjid Agung "Mujahidin" di Pontianak.

Kunjungan kerja Kepala Negara ke Kalbar kali ini disertai Ibu Tien Soeharto, Menteri Pertanian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Perhubungan, Menteri Agama dan Menteri Sekretaris Negara. Ikut pula dalam rombongan itu Menteri Muda Urusan Koperasi, Menmud Urusan Produksi Pangan dan Dubes Australia untuk Indonesia Thomas Critchley.

Tingkatkan Gairah Membangun

Kepala Negara lebih jauh menilai, dengan diresmikannya sejumlah proyek itu berarti gerak pembangunan di Kalbar, seperti juga di daerah lainnya, terus berjalan.

"Pembangunan dan hasil-hasilnya harus benar-benar dirasakan manfaatnya bagi rakyat banyak, karena pembangunan itu memang untuk rakyat. Bukan untuk pihak lain, bukan untuk Pemerintah dan juga bukan untuk pembangunan itu sendiri," demikian Presiden menandaskan.

Ia mengingatkan, proyek yang sudah diresmikan itu harus segera dimanfaatkan dan dipelihara agar berfungsi secara maksimal. Namun yang lebih penting lagi ialah bagaimana mendorong dan membangkitkan gairah rakyat agar meningkatkan usaha mereka sendiri.

"Rakyat harus menjadi pembangunan diri mereka sendiri," Presiden menegaskan.

Kepala Negara berpendapat, "salah satu prinsip yang harus dipegang teguh ialah bahwa pembangunan harus berpangkal dari manusia".

Pembangunan pertama berupa usaha membangun "manusia pembangun" yang bersifat produktif, bukan konsumtif semata-mata.

Disamping kegairahan kerja keras, menurut Presiden, "diperlukan pula kesadaran hidup disiplin. Tanpa disiplin masyarakat, bukan saja kita tidak akan menikmati ketertiban dan ketentraman, tapi juga tidak dapat menikmati hasil yang kita capai," katanya."

Ia memberi contoh, jalan yang kita bangun tidak akan memberi manfaat lama, apabila masyarakat pemakai jalan tidak mau memenuhi ketentuan cara menggunakan jalan itu.

"Oleh karena itu saya harapkan agar masalah peningkatan kesadaran hidup berdisiplin ini benar-benar kita perhatikan bersama, demi ketertiban dan kelancaran kehidupan masyarakat sendiri," demikian ditegaskannya.

Upacara peresmian di halaman mesjid yang megah itu, disebut Presiden sebagai hal yang tepat. Selain membuktikan bahwa pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia tidak mengabaikan bidang mental keagamaan, juga diharapkan agar pembangunan dibidang itu memberikan sumbangan bagi peningkatan hidup berdisiplin masyarakat. Sebab, katanya,

"kesadaran hidup berdisiplin menyangkut sikap mental masyarakat".

Dalam kesempatan itu kepala Negara menyampaikan rasa terima kasih pada Pemerintah Australia yang memberikan bantuan melalui "Colombo Plan" untuk membangunjalan sertajembatan antara Ngabang dan Sanggau.

Acara lain

Setelah meresmikan berbagai proyek pembangunan, Presiden dan rombongan hari Senin itu, meninjau pelabuhan Pontianak dan kapal keruk baru. Sore harinya menyaksikan peragaan anggrek alam serta pameran pembangunan daerah, dilanjutkan dengan acara kesenian daerah pada malam harinya di gedung "Arena Remaja", Pontianak.

Hari Selasa, menurut rencana, Kepala Negara dan rombongan meninjau daerah transmigrasi Rasau Jaya, menyaksikan demonstrasi peralatan di proyek jalan darat Ngabang – Sanggau serta menyusuri jalan baru tersebut.

Dari sana Presiden dan rombongan menggunakan helikopter langsung ke lapangan udara Supadio, Pontianak, untuk kemudian kembali ke Jakarta. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (23/10/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 740-742.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.