PRESIDEN SOEHARTO AJAK RAKYAT TIMOR TIMUR MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN

PRESIDEN SOEHARTO AJAK RAKYAT TIMOR TIMUR MELAKSANAKAN PEMBANGUNAN

Presiden Soeharto mengajak segenap rakyat Timor Timur melaksanakan pembangunan bersama saudara2nya dari daerah lain, sebagai tugas terpokok setelah penjajahan asing terusir dari bumi Indonesia, khususnya dari wilayah Timor Timur.

“Pembangunan kita tujuannya sederhana saja, yakni bagaimana secara bersama­sama dan adil menikmati kemajuan dan kesejahteraan”, kata Kepala Negara di depan Sidang Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Timor Timur di Dilli, Senin pagi.

Tugas membangun masa depan, dinilai Presiden, sungguh besar dan berat tugas itu terasa lebih berat lagi di daerah Timor Timur, karena wilayah tersebut telah terbengkalai oleh warisan penjajahan yang sangat lama.

Timtim disebut Kepala Negara “masih penuh bekas luka, karena perjuangan mengusir penjajah”. Karena kemajuan dan kesejahteraan yang diperjuangkan adalah untuk seluruh rakyat, maka Presiden berpendapat:

“Kita harus berjuang bersama-sama untuk segera mengejar ketinggalan yang selama ini diderita Saudara2 di Timor Timur ini, agar secepatnya mengejar kemajuan2 yang telah dirasakan kita semua di daerah2 Indonesia lainnya”.

Dengan tandas Presiden berkata, “saudara2 di sini tidak perlu ragu-ragu, karena saudara tidak berjuang sendiri dalam membangun masa depan itu. Pemerintah Republik Indonesia mengambil tanggung-jawab penuh atas kemajuan daerah ini, sebab penggabungan Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan RI justru bertujuan melaksanakan pembangunan di alam merdeka”.

Kepala Negara mengungkapkan, sejak penggabungan dua tahun lalu, Pemerintah telah mengerahkan puluhan milyar rupiah untuk membiayai pembangunan daerah Tim-tim.

“Namun perlu saya tegaskan bahwa saya datang ke sini tidak untuk menjanjikan apa-apa. Lebih-lebih saya tidak menjanjikan keajaiban, dengan menyulap daerah ini mendadak maju dan makmur”,

Sebab, kata Kepala Negara, pembangunan bukanlah keajaiban. Pembangunan adalah kerja keras. Pembangunan adalah perjalanan panjang sebelum tiba pada kehidupan yang membahagiakan yang dicita2kan bersama.

“Sekarang, setelah penggabungan dalam Republik Indonesia, rakyat Timor Timur itu miliki kesempatan luas untuk membangun dirinya bersama saudara2nya dari daerah lain di Indonesia”, katanya.

Prioritas

Di depan pimpinan dan anggota DPRD serta Gubernur Timor Timur, Kepala Negara lebih jauh mengatakan, dalam membangun daerah tersebut ketepatan menentukan prioritas amat diperlukan, sebab demikian banyak masalah yang harus ditanggulangi.

Pemulihan keamanan dinilai Presiden sebagai masalah yang mendesak di Timor-Timur, karena masyarakat cukup lama menderita teror oleh mereka yang tidak bertanggungjawab.

“Saya sangat gembira melihat masyarakat sendiri ikut membantu alat keamanan negara dalam memulihkan keamanan, sehingga keamanan telah mantap seperti sekarang “, katanya.

Dengan pulihnya keamanan, pembangunan dapat dimulai. Untuk mengembalikan kehidupan normal, langkah penting adalah membuka kembali daerah Tim-tim dengan daerah Indonesia lainnya.

Terbukanya hubungan laut dan udara ke daerah Tim-tim diharapkan oleh Presiden akan melancarkan lalu lintas ekonomi dengan daerah lain. Dengan demikian ekonomi daerah akan hidup kembali dan pembangunan makin banyak dilakukan.

Hubungan batin dengan daerah lainnya dinilai Presiden, tidak kalah pentingnya untuk rakyat Timor Timur. Hubungan batin itu akan diperkuat melalui siaran TVRI yang stasiun relaynya diresmikan hari Minggu di Dilli.

Di Maliana akan segera dibangun irigasi yang akan dapat mengairi sawah seluas 17.000 hektar. Ini berarti dalam tahun2 mendatang darah itu akan menghasilkan produksi pangan yang cukup besar, yang juga berarti menambah penghasilan kaum tani dan anggota masyarakat lainnya.

“Ini barulah langkah permulaan untuk memajukan daerah ini. Langkah ini akan kita lanjutkan di masa datang, untuk itu segenap lapisan masyarakat perlu ikut serta dalam gerak pembangunan”.

“Saudara-saudara semua, para anggota DPRD, para wakil rakyat, hendaknya ikut memikirkan dan menggerakkan masyarakat dalam pembangunan ini”, demikian Kepala Negara mengajak.

Kekuatan Terbesar

Pada awal pidatonya Presiden berpendapat, persamaan nasib masa lampau, persamaan cita-cita dan kemauan untuk bersatu membangun masa depan adalah unsur pokok dari suatu bangsa.

Banyak bangsa modern yang sekarang kokoh bersatu dan maju, dahulunya malahan berasal dari berbagai bangsa yang berjauhan letaknya. Sebaliknya ada bangsa yang semula bersatu, kini malahan terpecah belah.

“Ini menunjukkan bahwa kemauan dan kesanggupan untuk bersatu adalah unsur pokok yang mutlak untuk membentuk suatu bangsa. Kita tidak akan melupakan unsur itu karena kita telah berbulat hati untuk bersatu bersama-sama dan bahagia bersama­ sama”, kata Presiden.

Kepala Negara mengingatkan, bangsa Indonesia memang terdiri banyak suku, bahasa dan adat istiadat yang berbeda. Memiliki wama kulit, bentuk muka dan rambut tidak sama. Mendiami pulau besar-kecil yang membentang di khatulistiwa dengan jumlah penduduk yang nomor lima besarnya di dunia.

“Dengan mempersatu padukan semuanya itu, maka sungguh akan merupakan kekuatan yang luar biasa besarnya untuk melaksanakan pembangunan.”

“Kita memang berbeda-beda. Kita tidak ingin menghilangkan keanekaragaman karena usaha semacam itu melawan kodrat, sia-sia dan tidak ada gunanya. Yang kita ingin pertahankan adalah persatuan dalam keindahan keanekaragaman dan persatuan seperti lambang negara kita; Bhineka Tunggal Ika”, demikian Kepala Negara mengatakan.

Rasa persatuan itulah, kata Presiden, yang merupakan kekuatan bangsa Indonesia yang paling besar. Dengan persatuan itu rakyat Indonesia dapat mengusir penjajah dari tanah airnya.

”Persatuan ini harus kita tempa di seluruh tanah air, di setiap daerah. Juga persatuan propinsi Timor Timur ini. Karena itu, kita lupakan perbedaan2 pendapat dimasa lampau, dan kita menyatukan tekad untuk membangun masa depan”, demikian Kepala Negara menegaskan.

Sidang Istimewa DPRD Timor-Timur itu dibuka ketuanya J. Carascalao, Gubernur Timor Timur Arnaldo Des Reis Araujo, dalam kesempatan itu melaporkan perkembangan wilayahnya dalam dua tahun terakhir ini, setelah resmi dijadikan propinsi lndonesia ke – 27 bulan Juli 1976. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (17/07/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 686-688.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.