PRESIDEN SOEHARTO AJAK PEMUDA: MEMBANGUN MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN KEGIATAN PRODUKTIF DAN KONSTRUKTIF

PRESIDEN SOEHARTO AJAK PEMUDA: MEMBANGUN MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN KEGIATAN PRODUKTIF DAN KONSTRUKTIF

Pembangunan bangsa untuk mengisi kemerdekaan dewasa ini, mempunyai ciri menonjolkan kegiatan produktif dan konstruktif, bukannya destruktif. Presiden Soeharto dalam kesempatan membuka Simposium Penulisan Sejarah Pergerakan Pemuda di Indonesia yang berlangsung di Bina Graha, Kamis kemarin, dalam pengarahannya mengemukakan, ada perbedaan dasar antara watak peranan pemuda dalam perjuangan dan menegakkan pada masa lalu dengan perjuangan memberi isi terhadap kemerdekaan sekarang dan selanjutnya.

Dahulu, pemuda harus meruntuhkan kekuasaan penjajah, menembak musuh dan membumi hanguskan segalanya jika musuh dapat menduduki wilayah kita.

Berbeda dengan itu, sekarang dalam jaman pembangunan ini, kita harus membina secara tertib perumahan bangsa dan negara, harus membangun segala segi kehidupan bangsa dengan menonjolkan kegiatan yang produktif dan konstruktif.

Kepala Negara mengingatkan, dalam pelaksanaan pembangunan, pemuda bukan hanya sebagai objek atau sasaran pembangunan. Sebaliknya, pemuda merupakan pelaku dan penggerak pembangunan. Dalam Repelita IIl, ditempuh "delapan jalur pemerataan", yang di dalamnya mencakup pengertian memeratakan kesempatan berpartisipasinya generasi muda dalam pembangunan.

"Jika pemudadalam gerak pembangunan sekarang, maka sesungguhnya pemuda melanjutkan tugas sejarahnya di masa lampau. Jika di tahun 1908 pemuda mampu membangkitkan kesadaran nasional, juga di tahun 1928 pemuda menaburkan benih­benih persatuan Indonesia, jika di tahun 1945 pemuda menanamkan jiwa merdeka serta jiwa pejoang menentang penjajahan yang terpercaya, maka sekarang dan di masa datang, kita juga menginginkan agar pemuda menjadi tenaga-tenaga terpercaya untuk membangun bangsa dan negara kita yang telah merdeka ini," ucap Presiden.

Sejarah pergerakan pemuda, dijelaskan oleh Presiden, usaha memusatkan segala kekuatan danperhatian terhadap pelaksanaan pembangunan lahir batin, pada dewasa ini, bertujuan tidak lain memberi isi kemerdekaan nasional yang telah ditegakkan dengan segala pengorbanan di tahun ’45 demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kalaupun Proklamasi Kemerdekaan di tahun ’45 merupakan salah satu puncak hasil perjuangan, harus disadari bahwa sebelum itu bangsa Indonesia telah berjuang selama 350 tahun membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Tidak sedikit bangsa Indonesia memiliki pahlawan nasional yang tersebar diseluruh penjuru tanah air.

Perjuangan mereka melawan penjajahan, sambung menyambung dari kurnn waktu yang satu ke kurun yang lain.

Kenyataan ini, menurut Presiden, harus memberi kesadaran sejarah bahwa perjuangan untuk kembali hidup terhormat sebagai bangsa yang merdeka sama sekali bukan perjuangan yang ringan.

Diungkapkan oleh Presiden, sejarah modern pergerakan kebangsaan dalam arti perjuangan yang menggunakan asas-asas organisasi modern, menunjukkan betapa penting peranan kaum muda.

Tahun 1908, "Budi Utomo", dilahirkan oleh pikiran dan keputusan kaum muda. Tahun bersejarah itu sekarang kita lihat sebagai awal bangkitnya kesadaran nasional.

Melalui Budi Utomo ditumbuhkan kesadaran akan perlunya peningkatan pendidikan, bangsa Indonesia sebagai prasyarat untuk hidup terhormat Kenyataan itu jelas menunjukkan betapa kaum muda selalu peka dan memikirkan nasib bangsanya.

Kepeloporan kaum muda jelas pula ditampilkan kembali tahun 1928 dengan lahirnya "Sumpah Pemuda". Kaum mudalah yang menyuarakan Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Tanah Air, Indonesia.

Ini suatu keputusan sejarah yang berani dan tepat. Berani karena waktu itu kekuasaan penjajah dengan bengis menindas segala pikiran dan usaha menuju kemerdekaan nasional.

Hal itu merupakan keputusan yang tepat, sebab sejak itu mulai tertanam jiwa baru bangsa yang kemudian hari mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam tingkat perjuangan selanjutnya.

"Tidak dapat kita bayangkan bagaimana keadaan kita sekarang sekiranya bangsa Indonesia yang mendiami wilayah kepulauan yang demikian luas dan sangat majemuk ini tidak memiliki bahasa nasional yang sekaligus menjadi bahasa persatuan," katanya Presiden.

Bahasa nasional ini terus mengeratkan hubungan batin di antara bangsa Indonesia, yang dirasakan sebagai kebangsaan nasional dan sekaligus terus memperkokoh kita sebagai satu bangsa.

Kesadaran sebagai bangsa yang satu dan utuh ini menjadi kekuatan yang sangat besar dan telah membuat perjuangan mencapai puncak tertinggi dengan diproklamasikannya kemerdekaan.

Mengenai peranan pemuda pada saat-saat yang paling menentukan dalam Proklamasi kemerdekaan, disebutkan oleh Presiden, bahwa kedua Proklamasi masih berusia muda ketika mengumandangkan keputusan paling bersejarah bagi lahirnya bangsa merdeka waktu itu.

Pemimpin-pemimpin politik dan militer, negarawan dan pemimpin bangsa umumnya berusia muda waktu itu, setidak-tidaknya, dibandingkan dengan ukuran masa kini. Para mahasiswa, pelajar dan pemuda umumnya secara spontan dan serentak membentuk basis-basis perjuangan tentara pelajar berjuang di garis depan melawan pasukan penjajah yang ingin merenggut kembali kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Bangkitnya Orde Baru di tahun 1966 juga mencatat peranan yang besar dari kaum muda, dalam usaha bersama kembali berjalan lurus pada garis perjuangan yang ditujukan oleh Pancasila dan UUD ’45.

Berkesinambungan

Dengan meneliti kembali perjalanan sejarah itu, menurut Presiden, betapa konsisten dan bersambungnya pikiran-pikiran dan gerakan pemuda disatu kurun waktu dapat berbeda dengan kurun waktu yang lain, namun kaum muda telah memberikan jawaban yang paling tepat terhadap tantangan perjuangan yang dihadapi.

Peranan kaum muda dalam memberi arah pada perkembangan danpertumbuhan bangsa sedemikian besar sehingga menurut Presiden, simposium yang diselenggarakan dewasa ini sungguh tepat untuk mengetahui dan mempelajarinya.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga mengingatkan, sejarah setiap bangsa tidak hanya dipenuhi dengan halaman penuh catatan keberhasilan Sejarah setiap bangsa secara jujur, berisi pula lembaran yang diliputi kegelisahan, keragu-raguan dan mungkin kegagalan.

Sejarah pergerakan pemuda pun mempunyai warna seperti itu, sama halnya dengan sejarah perkembangan danpertumbuhan bangsa.

Namun, bangsa yapg kokoh dan kuat tidak harus bangsa yang penuh dengan kegemilangan saja, melainkan tahu diri ketika mengalami masa gemilang dan tahan diri ketika mengalami masa sulit. Bangsa yang kokoh, ialah bangsa yang dapat keluar sebagai pemenang dalam pergumulan melawan kesulitan dirinya sendiri.

Kepada para peserta Simposium, yang terdiri para ahli sejarah serta pelaku-pelaku sejarah dari berbagai generasi dan kurun waktu, Presiden mengharapkan agar dapat membantu melihat lebih jelas dan memberi arti yang lebih tepat terhadap sejarah pergerakan pemuda.

Penulisan sejarah dan penafsirannya tidak mudah dan minta tanggungjawab serta keterlibatan yang tinggi, lebih-lebih bila disadari, sejarah adalah milik nasional yang dapat menjadi sumber kekuatan jiwa bagi pertumbuhan bangsa selanjutnya.

Menelusuri Benang Merah

Menteri Muda Urusan Pemuda, dr. Abdul Gafur dalam sambutannya sebelum pengarahan Presiden menjelaskan Panitia Nasional peringatan hari Sumpah Pemuda/Hari Pemuda tahun ini, menonjolkan dua kegiatan penting, yaitu Kampanye bahasa Indonesia sejak 1 Oktober y.l. dan Simposium Pemuda dalam Perspektif Sejarah, sebagai langkah awal usaha penulisan Sejarah Pergerakan Pemuda Indonesia.

Dikatakannya, upaya menyusun penulisan sejarah pergerakan pemuda yang utuh, tidak dapat dilepaskan dari upaya pembinaan dan pengembangan generasi muda seperti diisyaratkan GBHN.

Penelaahan dan penyusunan sejarah pergerakan pemuda tidak boleh hanya menyimak dan mencatat berbagai fakta, waktu dan tempat terjadinya peristiwa, tetapi lebih penting menggali dan menelusuri benang merah motivasi yang justru mendasari peristiwa sejarah yang dicetuskan oleh kaum muda, setidak-tidaknya mereka yang berusia muda seperti lahirnya Budi Utomo tahun 1908, Kongres Pemuda 1926, Kongres Pemuda 1928 yang mengumandangkan sumpah pemuda yang amat mengandung ilham patriotisme dan kepahlawanan, perjuangan merebut kemerdekaan dan kelahiran negara Proklamasi tahun 1945, tumbuhnya gerakan pemuda dan mahasiswa yang makin modern setelah Proklamasi sampai tahun 1965 dan catatan sejarah mengenai bangkitnya pemuda dan mahasiswa tahun 1966,bersama ABRI dan seluruh rakyat mengoreksi jalannya sejarah perjuangan bangsa serta berdirinya KNPI.

Buku penerbitan yang berbicara tentang sejarah kepemudaan telah ada, tetapi kalau dikaji, penulisan-penulisannya masih cenderung bersifat deskriptif. Melalui simposium, diharapkan dari para ahli dan pelaku sejarah akan dapat mempertemukan pandangan dan pemikiran yang lebih analitis sehingga merupakan sumbangan besar bagi usaha penulisan sejarah pergerakan pemuda Indonesia.

Simposium itu berlangsung selama dua hari di Jakarta dan diikuti oleh 80 peserta dari berbagai unsur dari kalangan seperti ahli sejarah pelaku sejarah, pimpinan pemuda/KNPI, unsur perguruan tinggi, DPR RI dan tokoh pers.

Pembahasan dibagi menurut periode di mana pemuda terlibat dalam perjuangan yaitu mengenai perjuangan mencapai kemerdekaan dengan pembicaraan dan pembahas Hardi SH, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo dan Dr. Taufik Abdullah, mengenai perjuangan pemuda mempertahankan kemerdekaan akan ditampilkan sebagai pembicara dan pembahas TB Simatupang, Dahlan Ranumihardjo SH dan Ong Hok Ham, sedangkan mengenai perjuangan pemuda mengisi kemerdekaan dibagi menjadi dua tahap yakni tahap sebelum peristiwa G 30 S PKI dengan pembicara dan pembahas Harry Tjan Silalahi SH, Sabam Sirait dan Dr. Syarifuddin Harahap sedangkan perjuangan pemuda sesudahnya menampilkan pembicara dan pembahas Drs. Zamroni, David Napitupulu dan Marie Mohammad.

Simposium itu didampingi penasehat ahli terdiri Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, Dr. Marwati Djuned Pusponegoro, Dr. Taufik Abdullah dan Prof. Dr. Slamet Mulyono. (DTS).

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (24/10/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 636-639.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.