PRESIDEN SOEHARTO: ABRI HARUS DAPAT TEMPATKAN DIRI DAN MAINKAN PERANAN YANG TEPAT

PRESIDEN SOEHARTO: ABRI HARUS DAPAT TEMPATKAN DIRI DAN MAINKAN PERANAN YANG TEPAT

Presiden Soeharto menegaskan, ABRI harus dapat menempatkan diri dan memainkan peranan yang tepat dalam situasi nasional, regional dan internasional sekarang ini karena ABRl merupakan salah satu modal dasar pembangunan nasional.

Penegasan ini dikemukakan Kepala Negara dalam amanatnya pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-34 Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang diselenggarakan di Parkir Timur Gelora Senayan Jakarta, Jum’ at pagi.

Presiden menyatakan bahwa peranan yang tepat iniharus dilakukan, sebagaimana ditegaskan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, ABRI adalah salah satu modal dasar pembangunan, baik sebagai kekuatan pertahanan-keamanan maupun sebagni kekuatan sosial.

Kepala Negara mengemukakan, Hari Ulang Tahun ABRI yang ke-34 ini ditandai tiga hal yang penting.

Bangsa Indonesia sekarang ini tengah memusuki pelaksanaan Repelita III yang memerlukan pengerahan segala kemampuan bangsa untuk meningkatkan pembangunan. Selain itu diperlukan suasana masyarakat yang bertambah bergairah dalam melaksanakan pembangunan itu.

Dalam memasuki pelaksanaan Repelita III ini, ABRI mulai mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan pembangunan fisiknya dalam usaha meningkatkan kemampuannya sebagai alat pertahanan-keamanan.

Dewasa ini keadaan di sekitar kawasan Indonesia dan berbagai perkembangan dunia memerlukan kewaspadaan yang setinggi-tingginya.

Presiden Soeharto menekankan pula pentingnya pembangunan bagi bangsa Indonesia yang dahulu berjuang dan memberikan pengorbanan yang tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia dengan cita-cita agar dalam alam kemerdekaan seluruh bangsa dapat merasakan kemajuan, kesejahteraan dan keadilan.

"Oleh karena itu pembangunan tidak dapat ditawar-tawar lagi sebab tanpa melaksanakan pembangunan segala cita-cita kemerdekaan itu tidak akan pemah terwujud, malahan makin jauh", kata Presiden

Bangsa Indonesia sekarang ini berada dalam pertengahan jalan untuk tiba pada landasan masyarakat maju yang berkemakmuran dan berkeadilan, yang akan dapat dicapai dalam lima sampai enam Repelita.

Dalam melaksanakan pembangunan itu tidak saja diperlukan modal dan keterampilan, tapi lebih-lebih lagi diperlukan kegairahan segenap lapisan masyarakat. Dalam menciptakan suasana bergairah itulah ABRI memainkan peranan besar sebagai dinamisator dan stabilisator masyarakat.

ABRI Harus Kuat

Presiden menegaskan pula bahwa bangsa Indonesia yang mendiami wilayah nusantara yang luas, yang menjadi wilayah penghubung dua samudera dan dua benua, mau tidak mau harus memiliki angkatan bersenjata yang kuat.

Tapi keharusan memiliki angkatan bersenjata yang kuat itu tidak untuk mengganggu atau memerangi bangsa lain. Bangsa Indonesia harus memiliki angkatan bersenjata yang kuat untuk menjamin keselamatan, keutuhan dan kehormatan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Peranan ABRI sebagai kekuatan keamanan dan sebagai kekuatan sosial telah dilaksanakan sejak semula, jauh sebelum dikenal istilah dwifungsi itu sendiri.

Selama perang kemerdekaan, ABRI disamping bertempur juga ikut membangun pemerintahan gerilya, menunjunkan diri di lapangan pendidikan dan menggerakkan rakyat meningkatkan produksi.

ABRI melaksanakan penumpasan pemberontakan, tidak hanya untuk melakukan kewajiban sebagai alat pertahanan-keamanan, tapi juga didorong oleh panggilan tugas sebagai pejuang yang harus menyelamatkan dan cita-cita kemerdekaan.

Setelah pemberontakan dipadamkan, ABRI melaksanakan rehabilitasi sosial untuk memulihkan rakyat pada kehidupan yang normal. Pemberontakan G-30-S/PKI merupakan bukti yang paling-penting dari kesadaran ABRI sebagai kekuatan sosial, pejuang dan pendukung dasar dan tujuan kemerdekaan, yaitu Pancasila dan UUD 1945.

Kiblat – Pancasila dan UUD 45

Presiden dalam pada itu menegaskan pula, sebagai pejuang dan pendukung cita­cita kemerdekaan kiblat ABRI tidak lain dan tidak bukan adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Kepala Negara mengajak segenap anggota ABRI untuk merenungkan kembali amanat Bapak Tentara Nasional Indonesia Jenderal Sudirman yang mengingatkan politik Tentara Nasional Indonesia adalah politik negara. Dalam semangat dwifungsi yang demikian itulah dwifungsi ABRI harus dilaksanakan.

Dwifungsi adalah panggilan dan tanggungjawab sejarah. Dalam menghadapi tantangan sejarah ABRI harus tetap menjadi pengawal dan pengaman cita-cita proklamasi, terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan, ABRI memikul tanggungjawab menjaga dan mempertahankan integritas wilayah Republik Indonesia serta membina dan meningkatkan stabilitas keamanan dalam negeri.

Sebagai kekuatan sosial, ABRI ikut bertanggungjawab mengerahkan dan mengarahkan segenap lapisan masyarakat agar menjadi kekuatan yang terpadu menuju terwujudnya cita-cita proklamasi.

Namun Presiden menekankan bahwa yang penting dari dwifungsi itu bukan saja harus dilandasi semangat dan idealisme perjuangan yang murni, tapi dilaksanakan dengan cara-cara yang penuh kewajaran sehingga mampu mendorong timbulnya dinamika serta tetap terpeliharanya stabilitas dalam masyarakat.

Dalam memainkan peranan sebagai stabilisator dan dinamisator kehidupan bangsa, dari ABRI dituntut tanggungjawab membina dan meningkatkan kemanunggalan ABRI dengan rakyat, sebab dalam kemanunggalan itulah terletak kekuatan ABRI, baik sebagai kekuatan pertahanan-keamanan maupun sebagai kekuatan sosial.

"Oleh karena itu, ABRI harus berdiri dan berjuang untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara secara keseluruhan, di atas kepentingan sesuatu golongan termasuk kepentingan ABRI sendiri", demikian Presiden Soeharto. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (05/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 175-177.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.