PRESIDEN SOEHARTO: ABORSI BUKAN SUKSESKAN KB

PRESIDEN SOEHARTO: ABORSI BUKAN SUKSESKAN KB

 

Jakarta, Antara

Indonesia tetap tidak akan menggunakan aborsi sebagai cara untuk menurunkan angka kelahiran melalui program KB, meskipun hal itu diakui bisa mempengaruhi penilaian internasional terhadap keberhasilan pelaksanaan KB di Indonesia.

Presiden Soeharto dalam petunjuknya ketika menerirna Kepala BKKBN Pusat, Haryono Suyono di kediaman Jalan Cendana Jakarta, Selasa, mengatakan, Indonesia tidak akan menggunakan aborsi sebagai bagian dari program KB karena aborsi bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat.

“Kita melaksanakan program KB bukan untuk mendapat penilaian”.

Jadi, jangan sampai karena angka penilaian terhadap kita rendah, maka kita lalu ikut-ikutan melakukan aborsi, pesan Presiden sebagaimana dikutip Haryono Suyono kepada wartawan seusai diterima Kepala Negara.

Pesan Presiden tersebut disampaikan setelah Haryono melaporkan adanya penilaian suatu komisi kependudukan internasional mengenai pelaksanaan KB di berbagai negara termasuk Indonesia.

Berdasarkan penelitian Komisi Krisis Kependudukan yang berkedudukan di Washington, AS, yang diumumkan Oktober 1987, Indonesia secara keseluruhan menduduki peringkat ke-13 diantara negara-negara yang melaksanakan KB.

Akan tetapi, diantara 10 indikator yang dipakai komisi itu untuk menilai termasuk juga penyediaan pelayanan aborsi, sterilisasi pria dan pelayanan sterilisasi wanita, yang tidak dilaksanakan dalam program KB di Indonesia.

Menurut Kepala BKKBN Pusat, jika ketiga indikator tersebut tidak dipakai untuk menilai maka Indonesia dapat menempati peringkat kelima atau termasuk dalam peringkat “excellent”.

Hasil penelitian Komisi Krisis Kependudukan tersebut mengelompokkan 95 negara yang dinilainya kedalam empat kelompok, yaitu kelompok “excellent”, bagus, kurang, dan sangat kurang.

Indonesia termasuk dalam kelompok bagus, sedangkan lima negara yang masuk kelompok “excellent”, masing-masing Taiwan, Singapura, Korea Selatan, RRC, dan Hongkong.

Walaupun begitu, dalam penurunan fertilitas periode 1970-1975 ke 1985-1990, Indonesia termasuk diantara sepuluh besar.

Presiden menilai hal itu sebagai prestasi baik karena dicapai tanpa menggunakan aborsi, sterilisasi pria dan sterilisasi wanita, sementara negara-negara lain yang sejajar menggunakan cara-cara tersebut.

Komisi Krisis Kependudukan dalam laporannya yang dikutip Haryono Suyono juga mengumumkan bahwa di dunia dewasa ini terdapat sekitar 372 juta Pasangan Usia Subur (PUS) melakukan KB dengan cara-cara moderen.

Dari jumlah tersebut, sekitar 102 juta berasal dari negara maju, 146 juta dari RRC, dan sekitar 124 juta dari negara-negara berkembang termasuk antara 11-15 juta dari Indonesia.

Laporan komisi itu mengumumkan bahwa aborsi merupakan cara terbanyak yang dilakukan di dunia dan jumlahnya bisa mencapai antara 45-60 juta.

Presiden berpesan pelaksanaan KB Mandiri mendatang, hendaknya dilakukan melalui kerjasama seakrab-akrabnya dengan berbagai instansi serta masyarakat.

 

 

Sumber : ANTARA (06/01/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 500-451.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.