PRESIDEN SOEHARTO 75 TAHUN

PRESIDEN SOEHARTO 75 TAHUN[1]

 

Jakarta, Kompas

PADA tanggal 8 Juni ini, Presiden Soeharto genap berusia 75 tahun. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, kali ini pun peringatan hari ulang tahun Presiden Soeharto dirayakan secara terbatas di kalangan keluarga saja.

Yang berbeda, peringatan hari ulang tahunnya yang ke-75 kini tidak dihadiri oleh istrinya yang tercinta, Ny. Siti Hartinah Soeharto, yang akrab dengan panggilan Ibu Tien. Ibu Tien yang dinikahinya 26 Desember 1947, dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa 28 April lalu.

Peringatan hari ulang tahun Presiden Soeharto yang ke-75 itu diadakan di Ndalem Kalitan, Solo, dalam suasana yang jauh dari hiruk-pikuk. Dua hari lalu, Presiden Soeharto bersama keluarga dan kerabat baru saja menyekar ke pemakaman Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam rangka memperingati 40 hari meninggalnya Ibu Tien.

Kepergian Ibu Tien itu merupakan suatu kehilangan yang besar, yang tak ternilai harganya. Hal itu dinyatakan sendiri oleh Presiden Soeharto, 3 Mei lalu, sebelum acara peringatan tujuh hari meninggalnya Ibu Tien.

Sejak hari Minggu pagi, 28 April 1996, ada sesuatu yang hilang dari tengah-tengah keluarga kami, sesuatu yang tak ternilai harganya bagi kami. Keluarga besar kami kehilangan seorang istri pendamping setia, seorang ibu tercinta, seorang eyang, dan seorang eyang-buyut yang penuh kasih. Keluarga besar kami telah kehilangan seseorang tempat kami mencurahkan segala kasih sayang.

“Kami kehilangan seorang yang melimpahkan segala kasih sayangnya kepada kami.” ujar Presiden saat itu.

Tanpa kehadiran Ibu Tien, perjalanan hidup Presiden Soeharto menjadi sangat

berbeda. Kepergian istri yang selama hampir 50 tahun mendampinginya dalam susah dan senang, tentunya akan memberi pengaruh tersendiri, 0.G. Roeder dalam buku Anak Desa, Biografi Presiden Soeharto, PT Gunung Agung, Jakarta 1976, menyebutkan sebagai seorang wanita dengan perasaan kewanitaan nya yang tebal Ibu Tien Soeharto adalah teman Presiden yang paling setia. Presiden pernah menyebut istrinya sebagai pembantu saya yang terdekat dan setia.

Posisi Ibu Tien sebagai Ibu Negara tidak tergantikan. Semula ada usulan agar putri tertua Presiden, Ny. Siti Hardiyanti Hastituti Rukmana, yang akrab dengan nama Mbak Tutut, bisa menggantikan posisi Ibu Negara.

Namun, usul itu ditolak Presiden Soeharto. Menteri Negara Sekretariat Negara (Mensesneg) Moerdiono 23 Mei lalu mengungkapkan, Presiden Soeharto menegaskan, tidak akan menggantikan posisi Ibu Negara. Posisi itu tidak dapat digantikan siapa pun. Walaupun begitu dalam keadaan tertentu, misalnya kunjungan ke daerah, tidak tertutup kemungkinan salah satu putri Presiden akan ikut serta dalam rombongan resmi kepresidenan, tetapi kedudukannya hanya sebagai putri Presiden.

Kepergian Ibu Tien yang dirasa agak mendadak, sempat menimbulkan kekhawatiran atau lebih tepat dikatakan spekulasi bahwa Presiden Soeharto tidak akan melanjutkan sisa masa baktinya yang akan selesai tahun 1998. Namun, spekulasi itu tidak sempat berkepanjangan karena sebelum acara peringatan tujuh hari meninggalnya Ibu Tien itu juga, Presiden mengatakan,

“Saya mohon doa restu seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan sepenuh-penuhnya tugas kenegaraan yang dipercayakan di atas pundak saya.”

Di usianya yang ke-75, Presiden Soeharto bisa dikatakan sangat baik kondisi kesehatannya. Dengan demikian, wajar saja, kalau ada yang mengharapkan Soeharto kembali menduduki jabatan Presiden untuk periode 1998-2003.

Menjawab usulan agar ia kembali menjadi Presiden dalam temu wicara dengan para lansia (lanjut usia) di Desa Pucang Gading, Demak, sekitar 18 kilometer di timur Semarang, Jawa Tengah, 29 Mei lalu, Soeharto menegaskan,

“Hal itu sepenuhnya tergantung kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan bukan pada dirinya.”

“Terus terang saja, supaya diketahui, nanti (tahun 1998, Red), saya sudah berumur 77 tahun, jadi sudah tua juga, masuk pada lansia. Ini dengan sendirinya harus diperhitungkan.” ujarnya.

Soeharto sama sekali tidak menyebutkan harapannya dalam kesempatan itu. Ia hanya mengatakan, agar dalam membicarakan masalah kepemimpinan nasional, bangsa Indonesia berpikir secara konstitusional.

“Kita ingin menegakkan mekanisme kepemimpinan nasional dengan siklus lima tahunan. Itu yang harus kita tegakkan. Segala sesuatunya tergantung pada MPR, dan mudah-mudahan MPR bisa memikirkan kepentingan negara dan bangsa. Itu yang penting, agar pembangunan kita bisa berjalan lancar dan baik.” katanya.

SANGAT sukar membayangkan bagaimana keadaan Indonesia tanpa kehadiran Presiden Soeharto, mengingat ia telah memegang jabatan itu selama 28 tahun.

Jabatan Presiden memang baru disandangnya 27 Maret 1968 melalui Ketetapan MPR No XLIV/MPRS/1968. Namun, sesungguhnya tugas kepresidenan telah dijalankannya sejak diangkat menjadi Penjabat Presiden 22 Februari 1967 melalui Ketetapan MPR No XXXIII/1967.

Sejak tahun 1968 itu, Soeharto selalu terpilih kembali menjadi Presiden. Sampai saat ini, Soeharto telah menduduki jabatan Presiden selama lima periode, yakni 1968-1973, 1973-1978, 1978-1983, 1983-1988, dan 1988-1993. Tahun 1993, Soeharto memasuki periode nya yang keenam,dan akan berakhir tahun 1998 mendatang.

Selama 28 tahun ini, Soeharto memimpin bangsa ini memperjuangkan nasibnya untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Dibandingkan dengan ketika Soeharto pertama kali menduduki jabatan Presiden, keadaan saat ini bisa dikatakan sangat jauh lebih baik.

Di awal Orde Baru, keadaannya sangat kacau balau, baik itu dalam bidang politik maupun dalam bidang ekonomi. Keadaan ekonomi babak belur. Inflasi sangat tinggi, serta persediaan sandang dan pangan sangat terbatas.

Bagi Soeharto, pembangunan di bidang ekonomi itu sangat penting, meskipun disadari sepenuhnya bahwa tanpa stabilitas, pembangunan ekonomi itu tak mungkin tercapai. Pembangunan ekonomi tanpa pemerataan, hanya akan melebarkan kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Dan, melalui program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), Soeharto membawa bangsa Indonesia tahap demi tahap ke tingkat kehidupan yang lebih baik dan membanggakan. Apabila di tahun 1970 jumlah penduduk miskin Indonesia sekitar 70 juta orang, dari waktu ke waktu jumlah itu terus menurun, dan kini, tinggal sekitar 27 juta orang saja.

Hasil kerja Soeharto ini memperoleh perhatian dari lembaga-lembaga internasional. Tahun 1986, Presiden Soeharto memperoleh penghargaan berupa Medali Emas dari FAO (Food and Agriculture Organization), karena prestasinya di bidang pertanian, yang ditunjukkan dengan keberhasilan nya menjadikan Indonesia sebagai negara swadaya beras. Ia juga memperoleh penghargaan Kependudukan PBB (UNPA-United Nations Population Award) tahun 1989, dan Medali Emas Avicenna dalam bidang pendidikan dari Unesco tahun 1993.

Namun, harus diakui bahwa Orde Baru itu tidak sempurna, di sana-sini masih ada terdapat kelemahan. Sebab itu, adalah wajar apabila tidak semua kalangan masyarakat puas dengan apa yang dicapai oleh Presiden Soeharto dan Orde Barunya.

Prof. Donald W Wilson, guru besar Universitas Pitsburg, AS, salah seorang penulis buku tentang Soeharto, dalam wawancaranya dengan majalah Tempo tahun 1992 mengatakan,

“Boleh saja dikatakan bahwa saya memang pro-Soeharto dan pro­ Orde Baru, tetapi Anda harus ingat, saya punya pengalaman tinggal di Indonesia tahun 1949-1955. Saya tidak mengatakan Presiden Soeharto dan Orde Baru sempurna. Namun, saya yakin keberadaan Soeharto dan Orde Baru mempunyai hubungan sangat erat dengan keberhasilan Indonesia 25 tahun terakhir.”

“Mungkin saja Anda katakan, bila orang lain yang berkuasa keadaannya akan lebih baik. Tetapi peryataan itu sungguh hipotetis.” ujar Wilson.

MESKIPUN Presiden Soeharto berulang kali mengemukakan bahwa ia tidak menyiapkan putra mahkota, tetapi itu tidak berarti ia berambisi untuk menjadikan dirinya sebagai Presiden Seumur Hidup. Hal itu telah ditegaskan nya berulang kali.

“Ia pernah berkata bahwa pada saat yang tepat ia akan mundur. Ia bukan Presiden seumur hidup.” ujar Wilson dalam wawancaranya dengan Tempo.

Mantan Menteri Dalam Negeri Rudini kepada pers 28 Mei lalu mengemukakan, Presiden Soeharto tidak pernah mengusahakan agar dirinya terpilih kembali, karena pemilihan presiden di Indonesia sepenuhnya berada di tangan MPR.

“Presiden Soeharto juga menolak untuk menunjuk putra mahkota karena dirinya pun menjadi presiden tidak dipersiapkan lebih dahulu. Namun, Presiden mendorong kader-kader pimpinan nasional-mulai dari menteri, Gubernur sampai pimpinan AB RI untuk berprestasi di depan rakyat. Rakyatlah yang menilai mereka.” kata Rudini.

Kata konstitusional sangat penting bagi Presiden Soeharto. Sebab itu, siapa pun yang nantinya akan menggantikan Presiden Soeharto, kita tahu pasti bahwa orang itu muncul secara konstitusional.

Pentingnya kata “konstitusional” bagi Presiden Soeharto tampak dalam buku otobiografinya, “Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya” yang diterbitkan PT Citra Lamtoro Gung Persada, 1988. Dalam bukunya ia mengungkapkan, Saya didorong-dorong di tengah suasana konflik politik untuk tampil ke depan. Ada politisi yang tidak sabar akan perubahan dan pergantian pimpinan. Sampai-sampai mengusulkan supaya saya mengoper begitu saja kekuasaan negara. Usul itu segera saya jawab :

“Kalau caranya begitu, lebih baik saya mundur saja.”

Cara-cara seperti itu bukan cara yang baik. Merebut kekuasaan dengan cara militer tidak akan menimbulkan stabilitas yang langgeng. Saya tidak akan mewariskan sejarah, yang menunjukkan bahwa di Indonesia ini pernah terjadi perebutan kekuasaan dengan kekuatan militer. Saya tidak mempunyai sedikit pun pikiran di benak saya, untuk melakukan coup atau gerakan yang bernoda. Gerakan seperti itu, menurut saya, tidak akan berhasil.

Sumber : KOMPAS (08/06/1996)

_________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 732-736.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.