PRESIDEN SETUJUI UNTUK PERKUAT ARMADA PATROLI LAUT DAN UDARA DI PERAIRAN IRJA

PRESIDEN SETUJUI UNTUK PERKUAT ARMADA PATROLI LAUT DAN UDARA DI PERAIRAN IRJA [1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengabulkan permintaan Gubernur Irian Jaya Sutran untuk menambah armada laut dan udara bagi peningkatan patroli perairan di wilayahnya sehubungan dengan seringnya terjadi pencurian ikan oleh kapal2 asing.

Gubernur Sutran mengemukakan hal itu setelah bersama pejabat Muspida Irian Jaya diterima Presiden Soeharto di Cendana Rabu pagi.

Sutran mengatakan pencurian ikan di wilayahnya teijadi baik di perairan utara, selatan maupun barat dari Irian Jaya. Pencurian itu dilakukan secara besar2an dengan mempergunakan suatu armada yang terdiri dari 12 kapal.

Kapal2 pencuri ikan itu berbendera Jepang dan Taiwan. Aparat Pemerintah Daerah setempat sudah lama mengetahui adanya adanya pencurian ikan tersebut, tetapi tidak bisa berbuat apa2 karena tidak adanya fasilitas.

Sutran mengusulkan kepada Kepala Negara agar ditempatkan kapal2 Angkatan Laut di Merauke disamping penambahan pesawat udara.

Cuma Melihat dan Mengelus Dada Saja

Sutran yang terkenal suka berseloroh dalam aksen Jawanya masih kuat itu, sekalipun sudah beberapa tahun tinggal di Irian Jaya, mengatakan; ”Saya sering melihat pencurian ikan itu dari pesawat udara”. “Kenapa tidak dibom saja pak?”, tanya seorang wartawan. Atas pertanyaan ini, Sutran ganti bertanya: “Apa untuk bom, wong naik pesawat Merpati?”. “Saya melihat dari pesawat Twin Otter, 12 kapal mencuri ikan, ya saya hanya bisa ngelus dada …,”katanya lagi.

Ketika ditanya kenapa permintaan bantuan pesawat udara diajukan kepada Presiden dan tidak kepada KASAU, Sutran dengan cepat menjawab : “Saya usulkan kepada Pak Harto, kalau lewat KASAU lama, nanti bulet2 (ber-belit2 lagi). Jadi saya mohon Bapak sendiri yang memerintahkan,” katanya sambil tertawa.

Mengenai kekayaan laut Irian Jaya, Sutran berkata: “Kita kaya raya, tetapi kita cuma melihat thok sama mancing, yang makan Jepang sama Taiwan …”.

Ia tidak bersedia menyebutkan angka kerugian akibat pencurian ikan tersebut.

Perang Suku Selesai

Sutan menerangkan, perang suku di pedalaman Irian Jaya kini sudah selesai. Ia membantah berita2 yang disiarkan pers asing yang mengatakan perang suku tersebut seolah2 suatu pemberontakan.

Ia juga membantah bahwa para pelaku perang suku tersebut telah menerima bantuan pihak asing dan bahwa ABRI telah menindas rakyat.

Tentang kerugian akibat perang suku itu, Sutran hanya menyebutkan ada beberapa gedung sekolah yang rusak.

“Berapa angka kerugian Pak ?”, wartawan bertanya. “Ndak ada kerugian, pokoknya nanti kita bangun lagi …,” Sutran cepat menjawab.

Menyinggung masalah penyeberangan orang2 Irian Jaya ke Papua Nugini, ia menjelaskan penyeberangan itu tetjadi karena rakyat setempat, terutama di Merauke, belum mengerti adanya batas negara.

Penyeberangan itu dilakukan baik ke Timur maupun ke Barat karena mereka belum mengerti adanya batas negara. Rakyat di sebelah Timur miliki keluarga dan kebun di sebelah barat dan demikian pula sebaliknya, katanya menerangkan.

Mengenai kedudukan kebun mereka, terutama kebun sagu, Sutran berkata: “Itu urusan pemerintah pusat R.I dan Papua Nugini untuk menyelesaikannya nanti”.

Bahan Bakar

Sutran juga minta Presiden untuk membantu pembangunan bunker2 minyak di bagian selatan Irian Jaya, terutama di Merauke dan Kaimana.

Selama ini, menurut Sutran, kesulitan bahan bakar di wilayah tersebut bisa diatasi berkat bantuan Pelni dan Pertamina. “Tetapi hal itu tidak bisa terus2an begitu ……,” katanya.

Presiden telah menyanggupi untuk memenuhi permintaan Sutran bagi pembangunan bunker2 minyak tersebut. Ia menyebutkan masalah terbesar yang dihadapinya adalah pembangunan sarana perhubungan.

Dalam pertemuannya dengan Kepala Negara itu Sutran didampingi Pangdam XVII/Cenderawasih, Brigjen Imam Munandar, Kadapol XXI, Brigjen Pol R. Jusuf, Pangkodau Marsma Suyitno dan Kejati Irian Jaya, Sihite SH. Kadapol XXI dalam kesempatan itu meminta perhatian Presiden bagi pembangunan kantor2 polisi. “Habis polisi disuruh di hutan terus……,”kata Sutran sambil tertawa.

Kejati Irian Jaya sementara itu meminta bantuan Presiden bagi pencepatan bangunan kantor kejaksaan. (DTS)

Sumber : ANTARA (22/06/1977)

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 505-507.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.