PRESIDEN SETUJUI INOVASI BARU “SI-TOSIM” UNTUK TINGKATKAN PRODUKSI PANGAN DI INDONESIA

PRESIDEN SETUJUI INOVASI BARU "SI-TOSIM" UNTUK TINGKATKAN PRODUKSI PANGAN DI INDONESIA

Presiden Soeharto menyetujui penerapan inovasi teknik baru dalam peningkatan produksi pangan di Indonesia dengan mempergunakan enzima Cytozyme (Si-Tosim) yang terbukti mampu meningkatkan produksi antara 1,8 ton sampai dua ton gabah kering panen (GKP) per hektarnya.

Persetujuan Presiden itu dikemukakan Menteri Muda Urusan Produksi Pangan, Ir. Achmad Affandi, setelah ia melaporkan kunjungan kerjanya ke beberapa daerah di Indonessia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat.

Menmud dalam kesempatan itu mengemukakan, pemakaian Si-Tosim telah tersebar di delapan propinsi di Indonesia dengan areal penanaman percobaan sekitar 2.000 hektar.

Menurut ia, hasilnya menunjukkan adanya kenaikan produksi antara 1.8 ton sampai 2 ton gabah kering panen setelah mempergunakan Si-Tosim. Kenaikan produksi ini sekaligus berarti bertambahnya pendapatan petani.

Presiden pada kesempatan itu mengemukakan, penerangan inovasi teknik hendaknya dilakukan bersamaan dengan inovasi sosial beruapa intensifikasi khusus (Insus) yang sudah berjalan. Inovasi Insus dilakukan dalam suatu kelompok petani pada satu kelompok hamparan untuk mengerjakan dan mengolah sawah secara bersama-sama.

Dalam propinsi yang telah menggunakan enzima itu meliputi propinsi Jawa Barat, seluas 705 ha, Jawa Tengah 210 ha, Sumatera Selatan 210 ha, Sumatera Barat 150 ha, Sumatera Utara 120 ha, Lampung 90 ha, Sulawesi Selatan 300 ha dan Kabupaten Bali 210 ha.

Pada pelaksanaan penanaman padi dengan mempergunakan Si-Tosim dikabupaten Kerawang yang dilakukan Kelompok Tani Insus Mekar Sari itu yang disaksikan pejabat Dinas Pertanian Kabupaten Kerawang menunjukkan, 11,6 ton GKP. Sedangkan yang tanpa mempersamakan Si-Tosim hanya mampu memproduksi 8,8 ton GKP per hektar.

Prestasi yang dicapai kelompok tani itu telah berhasil memenangkan hadiah Menmud Affandi berupa sebuah mist-blower, yang dijanjikannya kepada setiap kelompok tani yang berhasil memproduksi gabah 11 ton lebih per-hektar.

Hadiah Menmud Affandi itu baru-baru ini telah diserahkan. Nandar Suwardi, seorang pejabat pada Satuan Pengendali Bimas Pusat.

Menurut penuturan pengurus kelompok Tani Insus Mekar Sari, Penggunaan Si-Tosim sangat menguntungkan petani meskipun harganya untuk setengah liter Rp.15.000. Setengah liter Si-Tosim cukup untuk dipergunakan pada satu hektar sawah.

Berdasarkan perhitungannya, bila saja setiap hektar mendapat kelebihan produksi dua ton ton GKP setelah menggunakan Si-Tosim, itu berarti petani mendapat kelebihan Rp.240.000.

Dengan catatan bila harta gabah kering panen dijual sesuai dengan harga dasar yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp. 130/kg. Sedangkan ongkos pembelian enzima hanya Rp.15.000 per-setengah liter dan biaya penyemprotan Rp.5.000.

Dilain pihak hasil yang diperoleh darikenaikan produksi gabah adalah Rp.130 kali 2.000 kg menjadi Rp.260.000,- Setelah dikurangi harga Si-Tosim dan biaya penyemprotan sebesar sebesar Rp. 20.000, masih ada sisa keuntungan sebesar Rp.240.000 untuk tiap hektar.

"Atas dasar perhitungan ekonomis, itulah kami para petani akan terus mempergunakan enzima Si-Tosim dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan kami," demikian dikemukakan pengurus kelompok Tani Mekar Sari

Si-Tosim adalah suatu produk biologi yang merupakan enzime yang dihasilkan strain bakteri tertentu dengan cara induksi kimiawi. Penggunaan enzim untuk peningkatan produksi ini dilakukan melalui penyemprotan pada daun yang berisi ekstrak protein yang distabilkan dengan unsur-unsur mirip Cu, Fem MN dan Zn yang dapat meningkatkan kemampuan tanamanan dalam pengambilan harga tanaman.

Selain itu, penggunaan enzima ini dapat mengurangi kehilangan nitrogen dalam daun yang kemudian dapat meningkatkan produksi baik dalam jumlah maupun mutunya.

Setiap setengah liter Si-Tosim harus dicampur 400 liter air dan kemudian disemprotkan pada daun padi sewaktu padi sedang menjelang berbunga (primodia).

Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan, dengan menyemprotkan Si-Tosim pada daun padi bisa mengurangi kehilangan pupuk yang diberikan pada tanaman tersebut. Enzima itu berhasil menyerap zat hara yang ada dalam tanah sebanyak 80 persen, dengan demikian pupuk yang diberikan pada tanaman akan mampu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh tanaman padi.

Berdasarkan penelitian Satuan Pengendalian Bimas Pusat pupuk yang diberikan pada tanaman padi yang tidak diserap tanaman itu akibat larut dalam air atau dalam tanah dewasa ini sekitar 40 persen.

Dengan demikian bila suatu areal tanaman padi diberi pupuk 100kg, pupuk yang benar-henar diserap tanaman hanya sekitar 60 kg. Sedangkan sisanya hilang terserap air atau tanah.

Dengan di semprotkannya Si-Tosim pada daun padi, transportasi pengambilan zat hara dari dalam tanah dan dari udara semakin lancar, sehingga merangsang peningkatan produksi.

Selain itu tanah dimana tanaman itu berada tidak akan menjadi rusak karena produk ini adalah produk biologi.

"Penumbuh Ajaib"

Negara-negara yang telah mempergunakan Si-Tosim bagi peningkatan produksi pangan adalah India, Pakistan, Korea Selatan, Afrika, Amerika Serikat dan Pilipina.

Di India para petaninya menyebut Si-Tosim sebagai "penumbuh ajaib" karena kemampuannya mempercepat proses pertumbuhan tanaman serta keajaibannya meningkatkan produksi.

Sedangkan di Indonesia yang mulai menggunakan Si-Tosim pada tarap percobaan semenjak dua tahun lalu bagi petani yang telah mencobanya sudah mulai merasakan manfaatnya.

Kelompok Tani "Banyu Rasa" dari Desa Plombon, Kabupaten Karawang memutuskan, penggunaan Si-Tosim mampu mempercepat panenan antara tujuh sampai 10 hari dibanding panenan padi yang tidak disemprot enzima tersebut.

Dari kejadian itu tanah-tanah bera yang biasanya terbengkalai tidak ditanami diharapkan dalam tahun depan akan bisa ditanami palawija karena kini waktunya sudah menjadi 70 hari dan jangka waktu itu cukup untuk menanam palawija

Selain itu hasil pemanfaatan enzima itu mampu menyerempakkan pembungaan, sehingga masaknya buah menjadi serentak.

Di samping itu kadar hijau pada bulir padi menjadi lebih sedikit, sehingga bisa mengurangi kerusakan gabah bila disimpan lama.

Pemakaian Si-Tosim juga menghasilkan butir padi yang lebih banyak, gabah lebih bernas atau berisi, daun dan batang padi lebih tegar, serta hijaunya daun menjadi lebih tua dan terang.

Keberhasilan pemakaian Si-Tosim di areal persawahan Karawang mendorong para camat Sulawesi Utara meninjau lokasi itu pada tanggal 3 Maret mendatang. (RA)

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (21/02/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1102-1104.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.