PRESIDEN : SEKTOR JASA KEUANGAN TAK DIBUKA SELEBAR-LEBARNYA

PRESIDEN : SEKTOR JASA KEUANGAN TAK DIBUKA SELEBAR-LEBARNYA[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menegaskan, pemerintah Indonesia sama sekali belum bemiat membuka selebar-lebarnya sektor jasa keuangan bagi perusahaan asing, sekalipun banyak pengusaha asing yang berminat.

“Kepala Negara mengatakan, kalau kita membuka seluas-luasnya maka kita akan rugi.” kata Direktur Utama Bank Bukopin Muchtar Mandala kepada pers di Bina Graha, Kamis setelah menemui Presiden.

Muchtar Mandala datang ke Bina Graha bersama Bustanil Arifin, AR Ramly, pengusaha Iman Taufik, serta Prof. ilmuwan Dorojatun Kuntjoro-Jakti untuk melaporkan rencana keberangkatan mereka ke Perancis.

Pada tanggal 2-3 Maret 1996, Presiden Soeharto yang disertai sembilan pemimpin Asia mengadakan pertemuan dengan 15 pemimpin Eropa dalam forum Asia-Europe Meeting (ASEM) di Bangkok, Thailand.

Dalam pertemuan itu, para pemimpin Asia dan Eropa sepakat untuk meningkatkan kerja sama ekonomi diantara kedua benua. Karena itu, para pemimpin sepakat untuk membentuk Forum Bisnis Asia-Eropa (Asia-Europe Business Forum).

Presiden Soeharto kemudian menunjuk beberapa tokoh pengusaha nasional untuk mewakili Indonesia dalam forum itu yaitu Bustanil, Ramly, Muchtar Mandala, Hashim Djojohadikusumo, Iman Taufik dan Dorojatun sebagai penasehat.

Para anggota forum itu akan bertemu di Paris tanggal 14-15 Oktober. Karena itulah, para utusan Indonesia ini menemui Kepala Negara untuk mencari masukan.

Muchtar Mandala mengatakan, banyak pengusaha asing terutama dari Eropa yang ingin memasuki pasar jasa keuangan di Indonesia. Namun mereka merasa dihambat oleh berbagai peraturan disini.

Dalih yang mereka gunakan adalah karena ingin menanamkan modalnya di Indonesia, maka investasi mereka perlu ditunjang oleh industri jasa keuangannya seperti bank dan perusahaan asuransi.

Sampai sekarang pemerintah Indonesia hanya mengizinkan beroperasinya 10 bank asing yang empat di antaranya berasal dari Eropa yaitu dua dari Belanda, serta masing- masing sebuah dari Jerman dan Inggris.

“Mereka merasa kesulitan untuk membuka cabang langsung nya di sini.” kata Muchtar.

Ia mengatakan, Eropa memang merasa punya kepentingan untuk membuka kantor jasa keuangan di sini. Tapi karena sebaliknya Indonesia juga harus mempertahankan kepentingannya maka tidak semua permintaan Eropa itu bisa dipenuhi.

Sektor Konsumsi

Jika Muchtar akan mewakili Indonesia dalam sektor jasa keuangan dalam forum itu, maka mantan Dirut Pertamina AR Ramly akan mewakili Indonesia pada sektor barang konsumsi.

Ramly mengatakan, sampai sekarang masih banyak barang Indonesia yang sulit memasuki pasar Eropa. Mereka membuat berbagai pembatasan seperti menuduh dumping, atau pun pembuatan barang itu dituduh tidak memperhatikan kelestarian alam atau tidak ramah alam.

“Kita akan mencoba mengatasi masalah ini sehingga barang kita bisa lebih lancer masuk ke Eropa.” kata Ramly yang sekarang adalah Komisaris Utama PT. Astra Internasional.

Sementara itu, anggota lainnya, Iman Taufik mengatakan, salah satu hambatan yang perlu diatasi Indonesia adalah mencegah semakin membengkaknya defisit pada transaksi bea lainnya dengan Eropa yang sekarang telah mencapai miliaran dolar AS. Iman yang akan mewakili Indonesia dalam bidang barang modal menyebutkan, impor barang modal Indonesia dari Eropa sekitar 15 miliar dolar AS sedangkan ekspornya hanya sekitar lima miliar dolar AS.

“Jika impor barang modal itu dilakukan untuk menghasilkan barang yang berorientasi ekspor, maka tidak ada masalah. Tapi dalam kenyataannya impor itu tidak menghasilkan peningkatan ekspor seperti yang diinginkan.” kata Iman Taufik.

“Karena itu, dalam pertemuan di Paris itu, Indonesia akan minta para pengusaha Eropa untuk meningkatkan investasi mereka disini.” katanya.

Sumber : ANTARA (14/10/1996)

_______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 444-446.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.