PRESIDEN RI TERIMA MENTERI PERDAGANGAN IRAN

PRESIDEN RI TERIMA MENTERI PERDAGANGAN IRAN

 

 

Presiden Soeharto menerima Menteri Perdagangan Republik Islam Iran Hassan Abedi Jafari di Bina Graha hari Selasa yang mengemukakan keinginan pemerintahnya untuk meningkatkan hubungan ekonomi, kebudayaan dan politik dengan Indonesia.

Setelah melakukan kunjungan kehormatan yang berlangsung lebih dari setengah jam itu Menteri Hassan Jafari menjelaskan kepada wartawan, pihaknya telah membahas dengan Menteri Perdagangan Rachmat Saleh berbagai komoditi yang kemungkinan dibeli Iran antara lain karet alam, timah, pupuk, teh, kayu dan hasil kayu, ban dan pipa.

Sedang barang ekspor Iran yang disinggung dalam pembicaraan Senin di Jakarta termasuk buah-buahan yang sudah dikeringkan, marmer, semen beton dan minyak mentah khusus untuk pembuatan minyak pelumas.

Menurut rencana, hari Rabu kedua menteri perdagangan itu akan melanjutkan pembicaraan dan menandatangani “Memorandum of Understanding” bagi usaha peningkatan hubungan perdagangan kedua negara.

Menteri Rachmat Saleh, yang mendampingi tamunya di Bina Graha ketika menjelaskan kemungkinan pembelian minyak mentah Iran itu bahwa memang Indonesia mempertimbangkan pembelian minyak mentah tersebut untuk diolah menjadi minyak pelumas di dalam negeri.

Ia mengatakan volume dan nilai perdagangan Indonesia-Iran selama ini masih kecil dan sebagian besar masih melalui negara ketiga antara lain Singapura dan Dubai. Kunjungan Menteri Perdagangan Iran itu untuk membuka kemungkinan hubungan dagang langsung.

Rachmat Saleh menyebut kemungkinan pembelian minyak Iran itu akan menjadi semacam “counter trade” supaya lebih banyak lagi komoditi Indonesia dibeli Iran.

Atas pertanyaan wartawan, Rachmat Saleh mengakui masalah pengangkutan merupakan topik yang dibahas dalam pembicaraannya dengan Menteri Hassan Jafari, karena selama ini kapal barang Iran baru singgah sampai Singapura.

Mengenai bentuk perjanjian yang akan ditandatangani Rabu, Rachmat Saleh mengatakan itu tergantung pada hasil pembicaraan nanti. Bisa berupa sekedar “memorandum of understanding” tapi bisa juga berupa perjanjian dagang yang lebih nyata, ujarnya.

Dalam kesempatan itu ia juga menyinggung ketidakamanan Kuwait sebagai tempat pertemuan tingkat tinggi Organisasi Konferensi Islam (KTT OKI) mendatang.

“Iran tidak akan ikut menghadiri pertemuan OKI di Kuwait itu”, kata Hassan Jafari dalam bahasa Persi yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggeris oleh pendampingnya dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh juru bahasa kePresidenan, Widodo Sutoyo.

Ketika ditanya mengenai alasan penolakan terhadap Kuwait, Hassan Jafari mengatakan selain alasan kemananan pihaknya juga memandang Kuwait telah bersekongkol dengan negara-negara Arab lain untuk mendukung Irak, lawan Iran dalam perang Teluk sekarang.

Kuwait dan negara Arab lain, katanya, telah memberikan bantuan ekonomi dan keuangan kepada Irak dalam perang melawan Iran. Ia juga menyebut peledakan­peledakan di Kuwait sendiri beberapa waktu lalu ternyata dilaksanakan oleh agen­agen Irak.

Alasan lain adalah karena Kuwait sangat berdekatan dengan daerah pertempuran Iran-Irak. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (20/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 372-374.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.