PRESIDEN RI HUBUNGAN KADIN-KAIDANREN JEPANG

PRESIDEN RI HUBUNGAN KADIN-KAIDANREN JEPANG

 

Presiden Soeharto mengharapkan hubungan antara Kadin Indonesia dan Kaidanren Jepang lebih dieratkan lagi dalam upaya meningkatkan peranan swasta dalam kerjasama Indonesia-Jepang.

Harapan tersebut dikemukannya ketika menerima Komite Ekonomi Indonesia-­Jepang (JIEC) yang diketuai Kikuo Ikeda yang diantar pimpinan Kadin Indonesia Soekamdani S. Gitosardjono di Bina Graha Jakarta Sabtu.

Dalam pertemuan itu, Presiden mengatakan kepada tokoh Keidanren (semacam Kadin di Jepang) itu bahwa Pemerintah RI memberi kesempatan kepada para pen gusaha Jepang untuk ikut serta bersama swasta Indonesia dalam membangun industri hulu di negeri ini seperti proyek alumina dan besi pelet.

Presiden mengemukakan dalam keadaan keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pembangunan, akibat merosotnya harga minyak, Pemerintah Indonesia mengharapkan peningkatan peranan swasta.

Indonesia juga menawarkan kepada pihak swasta untuk membangun proyek-­proyek industri hilir dalam pertimahan.

Mengingat keterbatasan swasta nasional maka Presiden menganjurkan pembentukan konsorsium untuk melaksanakan proyek-proyek besar itu.

JIEC pada 5 dan 6 November melakukan pertemuan kedelapan di Jakarta, membahas hasil-hasil yang dicapai dan menetapkan rencana kerjasama mendatang.

Kikuo Ikeda menjelaskan kepada wartawan bahwa pertemuan JIEC yang dinilainya berhasil baik itu telah membahas usaha-usaha peningkatan impor barang-­barang Indonesia oleh Jepang serta usaha peningkatan investasi Jepang di Indonesia, terutama untuk proyek-proyek yang menyerap banyak tenaga kerja.

Dalam pertemuan itu, dibentuk tiga subkomite yang masing-masing membahas bidang perdagangan, investasi dan industri dan bidang pertanian, termasuk perkebunan dan perikanan.

Pada pertemuan tahun depan masalah-masalah tersebut akan dibahas lagi secara lebih kongkrit. Sementara itu, Sukamdani menjelaskan bahwa antara tahun 1967 sampai 1985, jumlah investasi Jepang di Indonesia mencapai 4,98 miliar dolar AS. Setiap tahun investasi tersebut bertambah 350-400 juta dolar sehingga pada akhir tahun ini, jumlahnya dapat mencapai enam miliar dolar.

Jumlah proyek penanaman modal Jepang 218 buah. Ia membandingkan dengan total investasi Jepang pada periode yang sama di Thailand yang hanya mencapai 895 juta dolar dan di Malaysia 436 juta dolar.

Mengenai tawaran Presiden untuk ikut dalam proyek industri hulu Ikeda menjanjikan bahwa ia akan membicarakan hal itu dengan Kaidanren dan para pengusaha di Jepang untuk kemungkinan ikut serta dalam proyek-proyek tersebut. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (07/11/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 293-294.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.