PRESIDEN RESMIKAN PROYEK IRIGASI TABO-TABO

PRESIDEN RESMIKAN PROYEK IRIGASI TABO-TABO: PRODUKSI PETANIAN BELUM DAPAT DITINGKATKAN DGN IRIGASI SAJA

Presiden Soeharto mengingatkan bahwa produksi pertanian belum dapat ditingkatkan secara maksimal hanya dengan irigasi saja, tetapi apabila petani2 kita telah mampu secara maksimal melaksanakan intensifikasi pertanian.

"Persoalan pokok yang harus dipecahkan tidak terbatas pada masalah irigasi saja", kata Kepala Negara ketika meresmikan Proyek Irigasi Tabo-tabo hari Kamis, kemarin di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Sulawesi Selatan.

Persoalan pokoknya adalah bagaimana membantu para petani agar mereka benar mampu melaksanakan intensifikasi pertanian melalui Panca Usaha.

Kita sedang berusaha membah keadaan masa lampau yang buruk, menjadi masa depan yang lebih baik. Mengganti masa silam yang serba kekurangan dengan masa depan yang serba kecukupan.

Mengganti masa lalu yang serba mencemaskan menuju zaman baru yang menenteramkan hati. Merombak masyarakat lama yang timpang dan membangun masyarakat baru yang sejahtera serta berkeadilan sosial.

"Meskipun usaha semacam itu memakan waktu panjang dan memerlukan kerja keras dan bahkan pengorbanan, namun tanda hasil dan kebaikannya telah mulai tampak dan dapat kita rasakan," kata Presiden.

Mempercepat

Dengan selesainya proyeksi pembangunan yang diresmikan dan juga terhadap proyek2 pembangunan yang sedang digarap dan akan ditinjau Kepala Negara itu, diharapkan rakyat di daerah itu akan dapat secara langsung menikmati manfaatnya. Akan dapat kesempatan untuk lebih memperbaiki mutu kehidupan masyarakat di daerah itu.

Dengan selesainya proyek2 tadi juga berarti, bahwa kegiatan pembangunan kita terus meluas dan bertambah meningkat dan akan secara merata membuat kita semua bahagia lahir dan batin.

Tentang proyek Tabo-Tabo, ini menghargai usaha rakyat yang mulai dikerjakan secara gotong-royong dibawah pimpinan bupati. Kemudian dilanjutkan dengan biaya dari Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan. Akhirnya proyek ini dilanjutkan oleh Pemerintah Pusat.

Proyek ini akan dapat memperluas areal sawah yang dapat ditanami baik di musim rendengan maupun musim gadu. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani.

Dalam rangka inilah, maka untuk menjamin suksesnya program Bimas dan Inmas itu diadakan unit desa yang diperlengkapi dengan unsur sarana produksi. Unsur perkreditan, unsur penyuluhan dan unsur pengolahan (prosesing) serta pemasaran.

"Usaha itu dapat lebih mempercepat perbaikan nasib petani", kata Presiden, dengan pembentukan BUUD/KUD yang sekarang harus lebih digalakkan. Dengan demikian maka pembangunan kita benar ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, yang menjadi salah satu usaha kita bersama dalam menuju terciptanya keadilan sosial.

"Sesungguhnyalah pembangunan yang sedang kita lakukan ini adalah merupakan usaha kita yang sadar untuk merobah nasib kita sendiri", kata Presiden.

Pembangunan proyek irigasi ini juga merupakan bagian dari usaha kita bersama untuk merobah nasib itu, Presiden dan lbu Tien Soeharto, tiba di Tabo-Tabo dengan menggunakan helikopter, setibanya dari Jakarta dengan menggunakan pesawat F – 28 Pelita Air Service.

Di pelabuhan udara Hasanuddin, Mandai, rombongan Presiden yang terdiri dari Mensesneg Soedharmono, Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Emil Salim, Menteri Perhubungan Roesmin Nuljadin, Menteri Muda Urusan Produksi Pangan Achmad Affandy dan Sesdalopbang Solihin GP, disambut oleh Pj. Gubernur Sulsel A. Lamo dan Nyonya, Pangkowilhan III Letjen Leo Lopulisa dan Ketua DPRD Sulsel A Latief serta pejabat2 militer dan sipil setempat.

Menteri PU Dr. Ir. Purnomosidi dan Gubernur Achmad Lamo telah menyampaikan laporannya, sebelumnya, Kepala Negara segera memberikan amanat peresmiannya yang kemudian diikuti dengan penekanan tombol tanda diresmikannya Proyek Pengairan Tabo-Tabo itu.

Setelah makan siang di Tabo-Tabo, Presiden dan rombongan dengan heli menuju ke Dati II Sidrap, untuk melihat demonstrasi penggunaan mekanisasi pertanian serta penyemprotan hama. Dengan menggunakan kendaraan mobil, Kepala Negara dan rombongan menuju ke lokasi pameran pembangunan.

Dalam penerbangan dari Mandai ke Tabo, Presiden dan rombongan mengadakan peninjauan dari udara atas jembatan Maros, salah satu dari 39 buah jembatan besar di Sultel yang dibangun dengan kerjasama Pemerintah Kanada, serta proyek, semen Tonasa II berikut pelabuhannya, yang juga dibangun dengan kerjasama Pemerintah Kanada.

Tinjau Tonasa Dua

Presiden hari itu telah pula pelaksanaan pembangunan Pabrik Semen Tonasa Dua dari udara dengan menggunakan helikopter "Ciung Wanara" milik TNI-AD. Pabrik Semen Tonasa Dua yang, merupakan perluasan Tonasa-Satu ini, terletak di desa Biringere, Kabupaten Pangkep, 18 km sebelah Utara Tonasa-Satu.

Pembangunannya secara resmi dimulai, ketika Menteri Perindustrian (ketika itu) M. Jusuf meletakkan batu pertamanya tanggal 30 Oktober 1976 yang lalu dan diharapkan mulai berproduksi bulan Juni 1979 mendatang.

Biaya dan Produksi

Pembangunan pabrik semen Tonasa-Dua ini membutuhkan biaya sebesar 97.288.600 Dollar AS atau sekitar Rp. 40 milyar dengan kapasitas produksi 510.000 ton Portland Cement tiap tahun.

"Biaya2 tersebut, selain merupakan modal PT. Semen Tonasa (persero) sendiri, juga diperoleh bantuan kredit dari Bapindo serta Cida dan Pemerintah Kanada melalui EDC".

Pembangunannya meliputi tiga bahagian, yakni pembangunan pabrik di Biringere dengan biaya Rp. 36 milyar, pembangunan Pelabuhan Laut di Biringkassi Rp. 3 milyar danuntuk pembuatan jalan dari Biringere ke Biringkassi Rp. 1 milyar.

Luas tanah seluruhnya yang dibutuhkan 856,76 hektar dengan tenaga kerja yang akan diserap sekitar 450 orang.

Pabrik baru ini nantinya akan meningkatkan produksi Semen Tonasa keseluruhannya dari 120.000 ton yang dihasilkan Tonasa-Satu menjadi 630.000 ton tiap tahun.

Pagi hari ini Presiden akan meresmikan Gedung DPRD Sulsel dengan menandatangani prasasti, juga sekaligus meresmikan Gedung Keuangan Negara Sulsel; Inpres Pasar, jembatan2.

Penekanan tombol sebagai tanda di resmikannya penggunaan hubungan microwave yang dilanjutkan dengan pembicaraan antara Presiden dengan Gubernur Bali dan Bupati Ruteng NTT. (DTS)

Pangkajene, Sulsel, Angkatan Bersenjata

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (16/06/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 662-665.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.