PRESIDEN RESMIKAN PERLUASAN KILANG BBM BALIKPAPAN

PRESIDEN RESMIKAN PERLUASAN KILANG BBM BALIKPAPAN : KETERGANTUNGAN IMPOR BBM AKAN BERAKHIR

Presiden Soeharto menegaskan, ketergantungan kita terhadap impor bahan bakar minyak akan diakhiri dengan selesainya perluasan kilang Bahan Bakar Minyak Dumai. Kilang minyak Dumai ini, menurut rencana selesai Desember 1983 mendatang.

"Dengan berswasembada BBM, maka ketahanan ekonomi kita bertambah kukuh dan swasembada bahan bakar minyak yang merupakan sumber energi yang sangat penting dewasa ini, merupakan bagian dari usaha kita meletakkan kerangka landasan pembangunan menuju tahap tinggal landas pembangunan nanti."

Berpidato ketika meresmikan perluasan kilang BBM Balikpapan Selasa kemarin, Kepala Negara menekankan, ketergantungan akan impor BBM dapat merupakan kerawanan dalam bidang ekonomi dan pembangunan Indonesia, terutama terhadap gejolak-gejolak ekonomi dunia.

Kerawanan akan terus membesar, karena di masa yang akan datang kebutuhan BBM terus meningkat dengan tajam, sejalan dengan kemajuan industri yang dicapai dan meningkatnya mutu hidup rakyat serta bertambahnya jumlah penduduk.

Kepala Negara mengingatkan kerawanan itu tidak boleh kita biarkan berlanjut. Karenanya kita harus membangun kilang-kilang minyak agar dapat berswasembada BBM, tambah Presiden.

Dengan peresmian perluasan kilang BBM Balikpapan kemarin itu dan setelah peresmian perluasan kilang BBM yang sama di Cilacap tanggal 4 Agustus 1983 yang lain serta akan selesainya dibangun kilang BBM Dumai di Riau, menurut Presiden, kita bertekad agar dapat berswasembada dalam BBM, sehingga tidak tergantung lagi pada BBM impor.

Indonesia mempunyai banyak sumber minyak dan gas bumi, sebagian di antaranya telah digali. Namun yang digaji bam minyak mentah, yang masih harus di olah kembali sebelum menjadi BBM yang dapat kita gunakan.

"Karena itu…! ucap Presiden," minyak mentah yang kita hasilkan melampaui kebutuhan dalam negeri dan juga karena kita belum cukup banyak memiliki kilang BBM yang dapat mengolah seluruh minyak mentah, maka sebagian minyak mentah itu harus di ekspor. Sebaliknya, sebagian kebutuhan BBM masih kita impor."

Modal Besar, Teknologl Tinggi

Menurut Kepala Negara untuk membangun kilang BBM diperlukan modal yang sangat besar teknologi yang tinggi dan manajemen yang rumit.

Karena HU setelah membangun lebih dari satu dasawarsa, barulah kita mampu memperluas kilang-kilang BBM kita sendiri.

Kilang BBM Balikpapan dibangun dengan biaya lebih dari 1,5 milyar dollar AS (lk. Rp. 1,3 trilyun) dan akan mempunyai kapasitas penyulingan 200.000 barrel minyak mentah/hari. Sehingga seluruh kapasitas kilang BBM Balikpapan akan mencapai 260.000 barrel/hari.

Jika seluruh penambahan kilang BBM baru itu selesai berarti berkapasitas pengolahan minyak mentah 630.000 barrel/hari. Masing-masing perluasan kilang BBM kita sendiri.

Kilang BBM Balikpapan dibangun dengan biaya lebih dari 1,3 milyar dollar AS (lk. Rp. 1,5 trilyun) dan akan mempunyai kaapasitas penyulingan 200.000 barrel minyak mentah/hari. Sehingga seluruh kapasitas kilang BBM Balikpapan akan mencapai 260.000 barrel/hari.

Jika seluruh penambahan kilang BBM baru itu selesai berarti berkapasitas pengolahan minyak mentah 630.000 barrel/hari. Masing-masing perluasan kilang BBM Cilacap 200.000 barrel/hari, perluasan kilang BBM Balikpapan 200.000 barrel/hari, hydrocracker Dumai 85.000 barrel/hari dan kilang Musi di Sumatera Selatan 145.000 barrel/hari.

Ditambah dengan kapasitas kilang BBM yang telah ada sebelumnya yang tersebar luas secara kecil-kecilan di Jawa dan Sumatera, maka kapasitas kilang BBM dalam negeri akan mencapai 985.000 barrel/hari.

Kilang BBM Balikpapan merupakan kilang terbesar dan jika berproduksi penuh maka akan memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri karena dengan kilang Cilacap berarti mencapai 20.755.000 kiloliter/tahun.

Dengan pertumbuhan konsumsi dalam negeri sekitar 8 pCt setahun maka produksi BBM Indonesia sudah melebihi kebutuhan yang diperkirakan kebutuhan tahun 1983/1984 mencapai 26,3 juta kiloliter.

Memperluas Lapangan Kerja dan Ketrampilan

Presiden Soeharto mengatakan, dengan mengolah minyak bumi menjadi BBM sendiri, kita akan dapat memperluas lapangan kerja dan menambah ketrampilan putra­putri Indonesia sendiri untuk menangani pekerjaan yang memerlukan penguasaan teknologi tinggi dan manajemen yang rumit yang keseluruhan merupakan modal pembangunan yang tidak temilai harganya.

Kepala Negara juga mengajak semua pihak untuk terus menerus meningkatkan ketrampilan di bidang masing-masing dengan bekerja keras, meningkatkan disiplin dan meningkatkan kemauan untuk melanjutkan pembangunan bangsa.

"Secara bertahap tenaga-tenaga asing itu digantikan oleh tenaga-tenaga Indonesia sendiri yang telah mendapat pendidikan dan latihan", Kepala Negara menegaskan.

Keberhasilan kita menggantikan tenaga-tenaga asing itu menurut Presiden, membuktikan kemampuan putra-putri Indonesia mengerjakan bidang pekerjaan yang dulu belum banyak kita kuasai.

Pemakaian BBM Menurun

Menteri Pertambangan & Energi Prof. Subroto dalam sambutannya mengatakan, resesi dunia yang telah melanda Indonesia mengakibatkan pertumbuban perekonomian kita terpengaruh, sehingga pemakaian BBM menurun.

Kalau dalam Pelita I, II dan III pemakaian/kebutuhan BBM di dalam negeri laju pertumbubannya rata-rata 14,3% tiap tahun akibat pesatnya pembangunan di segala bidang dan sektor, dalam Repelita IV mendatang diperkirakan kebutuhan BBM dalam negeri pertumbuhannya rata-rata hanya sebesar 3,5% tabun selama 5 tahun mendatang.

Bila pada tahun 1982 kebutuhan BBM merupakan 79,3 dari kebutuhan seluruh energi komersial, maka pada tabun akhir Repelita IV diperkirakan peranan BBM akan bisa ditekan menjadi sekitar 60% dari kebutuhan energi komersial.

Menurut Menteri Subroto, kebijaksanaan penganekaragaman energi dengan menggiatkan penggunaan sumber energi lain seperti gas alam, batu bara, panas bumi, tenaga air dan sebagainya, sudah mulai menunjukkan hasil dengan pengurangan BBM dalam negeri, sehingga penggunaan BBM dalam tahun 1983 ini akan berkurang dari tahun periode yang sama.

Dengan selesainya proyek perluasan kilang Balikpapan yang dibangun dengan investasi equivalent US$ 1,478 juta (realisasi hingga Agustus 1983 dan perkiraan sisa pengeluaran sampai selesai proyek red), dan berkapasitas 200 ribu barel/bari atau menjadi 260 ribu barrel/bari dengan kilang yang lama, kita menyelesaikan pembangunan kilang minyak terbesar kedua di Indonesia.

Ini berarti kita maju selangkah lagi dalam menuju swasembada pengadaan BBM untuk konsumsi dalam negeri dan menjadikan Indonesia sebagai pengekspor basil minyak, disamping ekspor minyak mentah.

Menurut Koordinator Pelaksanaan Proyek Pengembangan Kilang BBM, Tabrani Ismail, dengan selesainya kilang minyak Balikpapan, Cilacap serta Dumai akhir tahun ini, kita akan kelebiban minyak mentah (crude).

Tapi crude untuk bahan minyak pelumas di Cilacap masib diimport, karena jenis minyak kita tidak cocok.

Menteri Subroto menyatakan proyek hydrococracker Dumai merupakan proyek yang mempunyai unit bydrocracker kedua yang akan selesai dalam kwartal 1 tahun 1984.

Dengan selesainya kijang bani Cilacap, Balikpapan dan Dumai pada awal Pelita IV, Indonesia tidak hanya mandiri dalam BBM, minyak pelumas dan aspal, tapi mempunyai kemampuan ekspor minyak mentah.

JNG, LPG dan juga BBM dan khusus untuk kilang Balikpapan ini akan dapat juga memperlancar pengadaan BBM ke Indonesia, bagian timur, memenuhi suplai BBM Ke-13 base depot dan 20 sub depot yang telah diselesaikan pembangunannya, serta 10 buah Base/Sub Depot yang masih dalam penyelesaian.

Cuma 3% Tenaga Asing

Dirut Pertamina, Drs. Joedo Sumbono melaporkan, tenaga kerja yang terlibat dalam proyek ini pada puncak kegiatan konstruksi mencapai 15.823 orang dari jumlah ini hanya 3% tenaga asing yang diperlukan untuk bidang-bidang yang belum banyak dikuasai tenaga Indonesia.

Selama proyek berjalan, penggunaan tenaga asing ini secara bertahap dikurangi, setelah tenaga Indonesia yang dilatih mampu menguasai pekerjaan tersebut.

Latihan kerja yang berlangsung mulai Nopember 1981 sampai berakhirnya pada bulan April 1983, telah menghasilkan sebanyak 2.400 tenaga trampil dari semua jurusan keahlian.

Selanjutnya dilaporkan, tidak kurang dan 41% material atau senilai US$ 283 juta diambil dari dalam negeri.

Supplier nasional dan lokal yang terlibat dalam proyek ini 374 perusahaan, sedang kontraktor serta konsultan nasional maupun lokal ada 153 perusahaan.

Produk yang dihasilkan kilang Balikpapan secara keseluruhan adalah, LPG (Liquified Petroleum Gas) yang dari kilang lama tidak ada, dari kilang baru dihasilkan 187.770 ton/tahun.

Bensin dari 291.000 ton menjadi 1.447.650 ton/tahun, naphta dari kilang lama tidak ada, dari kilang baru dihasilkan 608.256 ton/tahun.

Selanjutnya hasil kerasin (minyak tanah), akan meningkat dari 738.000 menjadi 4.779.774 ton/tahun, minyak diesel dari 263.000 menjadi 3.368.894 ton/tahun, minyak bakar dari 1.319.00 menjadi 2.033.912 ton/tahun, produksi lilin tetap 57.750 ton/tahun.

Pembangunan perluasan kilang ini dirintis sejak Maret 1980 dan secara fisik pembangunannya dimulai Juni 1981.

Unit pengolahan BBM yang dibangun dalam proyek perluasan ini terdiri dari kelompok kilang hydroskimmping yang meliputi 5 unit dan kelompok kilang hydrocracking yang meliputi 3 unit.

Kepala Negara menanda tangani prasasti dan penekanan tombol sirene sebagai simbol diresmikannya perluasan kilang BBM Balikpapan itu.

Setelah itu melakukan peninjauan, ke control room (ruangan pengawasan) yang didahului dengan pengguntingan pita oleh Ny. Tien Soeharto setelah itu dilakukan peninjauan keliling pabrik BBM tersebut.

Rombongan resmi Presiden yang terdiri dari Menko Polkam Surono Mensesneg Sudharmono SH, Menteri Pemuda dan Olahraga dr. Abdul Gafur, Mendagri Supardjo Rustam, Menteri Pertambangan dan Energi Prof. Dr. Subroto, Menmud Sekkab Drs. Moerdiono, Pangab/Pangkopkamtib Jenderal L.B. Moerdani dan Sekmil Presiden Marsekal Madya Kardono dengan pesawat khusus F-28 Pelita Kembali ke Jakarta dari Balikpapan Selasa siang. (RA)

Jakarta, Pelita

Sumber : PELITA (1983)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 321-325.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.