PRESIDEN RESMIKAN PEMBANGUNAN KEMBALI DAERAH TERKENA GEMPA DI NTB

PRESIDEN RESMIKAN PEMBANGUNAN KEMBALI DAERAH TERKENA GEMPA DI NTB

Sekitar 50 ribu penduduk kecamatan Tanjung, Lombok Barat bagian Utara, Rabu siang telah menyaksikan peristiwa bersejarah penandatanganan prasasti pada sebuah tugu yang terletak di jantung Kota Tanjung, oleh Kepala Negara Republik Indonesia Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto dengan didampingi Gubernur H. Gatot Suherman terlebih dahulu memukul gong tiga kali, kemudian membubuhi tanda tangannya yang berarti telah meresmikan pembangunan kembali daerah akibat bencana alarn gempa bumi di pulau Lombok yang terjadi 30 Mei 1979.

Dengan penandatanganan itu sekaligus, Presiden secara simbolis meresmikan penggunaan Depo Pertamina di Pelabuhan Badas dan sub-Depo Pertamina di Bima.

Begitu selesai Presiden Soeharto membubuhi tanda tangannya, terdengar sambutan hangat dari para hadirin dengan menyatakan terimakasih kepada Presiden dan disusul dengan ucapan secara serempak

"Kami akan terus melaksanakan pembangunan”.

Mendengar spontanitas rakyat itu, Presiden Soeharto dengan senyumnya yang khas melambaikan tangan kepada masyarakat yang kemudian disambut dengan ucapan "Hidup Pak Harto". Kunjungan seorang Presiden bersama delapan Menteri Kabinet Pembangunan itu adalah merupakan yang pertama kalinya tetjadi dijaman orde baru ini di NTB khususnya Tanjung.

Tidak heran pada puluhan poster yang menyarnbut kedatangan Presiden ada yang berbunyi ;

"Bantuan Bapak Presiden merupakan dorongan semangat kepada kami untuk membangun kampung2 kami kembali dengan bangunan yang lebih indah”.

Poster lainnya terbaca "Gempa boleh menggoncangkan rumah2 kami, tetapi iman dan semangat kami untuk membangun tidak dapat digoncangkan oleh gempa".

Kunjungi Perumahan Rakyat

Presiden Soeharto dan lbu Tien Soeharto ketika berada di Tanjung telah mendatangi rumah2 penduduk yang baru selesai dibangun. Penghuni rumah setempat mengatakan kepada Presiden bahwa rumahnya lebih baik dari sebelum gempa dan sekarang lebih bersih serta ada halaman. Demikian pula, Presiden bersama lbu Tien dan para menteri telah memasuki gedung SD tahan gempa di mana nampaknya Presiden sangat terkesan akan pembangunan gedung2 SD yang menggunakan konstruksi tahan gempa itu.

Kemudian Presiden sebelummeninggalkan Tanjung telah meninjau toko2 yang baru selesai dibangun bersama lbu Tien dan para menteri.

Presiden mengharapkan agar bangunan2 toko dan Iain2 yang telah selesai itu supaya dijaga dengan baik demi keindahan kota Tanjung yang terpencil letaknya itu.

Dalam pidatonya di hadapan 50 ribu penduduk Tanjung Presiden menekankan agar masyarakat selalu ikut dalam gerak laju pembangunan, karena tujuan pembangunan tidak lain adalah untuk perbaikan hidup dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Kembangkanlah sikap dan cara hidup yang cocok dengan semangat pembangunan antara lain kata presiden dengan menjauhi cara2 hidup yang boros, menjauhi kebiasaan upacara2 danpesta2 yang berlebihan.

Laporan Gubernur

Gubernur Gatot Suherman melaporkan kepada Presiden, biaya yang telah digunakan bagi pembangunan kembali di wilayah Tanjung meliputi Rp 1.051.747.909.

Bantuan ini diperoleh dari Presiden dari anggaran sektoral dan dari masyarakat melalui organisasi2 sosial maupun perorangan.

Sedangkan untuk pembangunan bagi penyelesaian pembangunan akibat gempa di Tanjung itu, diperlukan lagi biaya sebesar Rp 1.483.067.100. Dengan dana satu setengah milyar ini pembangunan di Tanjung yang diresmikan Presiden Rabu siang adalah: 249 masjid, 48 pura, 47 unit SD, satu unit SMP, delapan unit madrasah, tiga puskesmas, dua puluh balai desa, dua kantor camat, 575 rumah penduduk yang ke semuanya dengan konstruksi tahan gempa dan pemukiman kembali 350 KK pada lokasi pemukiman baru.

Di samping itu dengan bantuan kredit BRl dan BPD telah dibangun 72 lokal toko disertai pemberian modal lewat kredit kepada pemiliknya, demikian gubernur Gatot Suheman. (DTS)

Mataram, Antara

Sumber: ANTARA (27/02/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 955-957.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.