PRESIDEN RESMIKAN PABRIK GULA “JATITUJUH”

PRESIDEN RESMIKAN PABRIK GULA "JATITUJUH"

Pemerintah memberikan subsidi yang tidak kecil terhadap harga gula impor, karena harga gula yang diimpor Indonesia dijual kepada masyarakat dengan harga yang lebih rendah. Demikian Presiden Soeharto Jumat kemarin, ketika meresmikan pabrik gula "Jatitujuh" di Majalengka, Jawa Barat.

Menurut Kepala Negara, meskipun dalam melaksanakan pembangunan diusahakan untuk mencapai kenaikan produksi gula, tetapi sampai kini Pemerintah masih harus mengimpor gula. Sebab produksi gula Indonesia belum mencukupi kebutuhan nasional, kata Presiden.

Ia menegaskan, hal tersebut jelas masih merupakan titik lemah dari pembangunan sektor pangan. Karena selama Indonesia masih mengimpor bahan pangan yang penting, maka harus terus diperhitungkan kemungkinan kelangkaan dan tingkat harga gula di pasaran dunia.

Kepala Bulog Bustanil Arifin mengatakan, tanggal 25 November 1979 yang lalu kebutuhan gula pasir Indonesia tahun 1980 akan berjumlah sekitar 1,9 juta ton. Sedang produksi dalam negeri tahun ini diperkirakan hanya berjumlah 1,2 juta ton sampai 1,3 juta 1980 ini diperkirakan akan mengimpor gula pasir 600.000 ton, kata Bustanil Arifin.

Cukup Tinggi

Ketika meresmikan pabrik gula "Jatitujuh" kemarin, Presiden Soeharto mengatakan, dewasa ini harga gula pasir dipasaran dunia cukup tinggi ini dijual dengan harga impor, maka harganya akan terlampau jauh dari rata-rata kemampuan masyarakat Indonesia.

Karena itulah gula yang diimpor Pemerintah dijual kepada masyarakat dengan harga yang lebih rendah dari harga impor. Tetapi Presiden Soeharto tidak menyebutkan berapa harga gula impor dan berapa besar subsidi yang diberikan.

Dalam APBN 1980/1981 disebutkan, subsidi untuk pangan berjumlah sekitar Rp.170 milyar. Menurut Ka Bulog Bustanil Arifin, subsidi yang disediakan itu tidak akan terpakai semuanya, sebab harga beras impor dapat lebih murah, di samping produksi dalam negeri yang baik. Subsidi yang akan digunakan hanya sekitar Rp. 147 milyar. Rp.43 milyar di antaranya untuk subsidi harga gula pasir impor.

Kemudian pada tanggal 26 Mei 1980 lalu, Bustanil Arifin menyatakan, meningkatnya nilai impor pangan tidak bisa dihindarkan. Hal ini disebabkan meningkatnya harga komoditi pangan di luar negeri, seperti gula, beras, dan sebagainya, kata Ka Bulog.

Sekitar Rp.70 per Kg

Pada penandatanganan impor 350.000 ton gula pasir yang akan masuk bulan November dan Desember 1980, harga gula pasir sudah mencapai 587.50 dolar AS atau Rp.367.481.25 per ton.

Sedang harga penjualan gula pasir impor itu sekarang sekitar Rp.295.000,- sampai Rp.297 .500,-. Dengan asumsi harga gula pasir dunia tetap 587.50 dollar AS/ton, maka subsidi yang diberikan Pemerintah terhadap harga gula pasirimpor sekitar Rp.70,-per kg.

Namun pada bulan Mei 1980 Bustanil Arifin, harga gula dipasaran dunia sudah mencapai 745 dollar AS/ton. Diperkirakan pada waktu gula yang sudah ditandatangani kontrak pembelian tersebut, tiba di Indonesia bulan November dan Desember nanti harga gula dipasaran internasional diperkirakan mencapai 900 dollar per ton, kata Ka Bulog.

Indonesia dahulu terkenal sebagai eksportir gula pasir. Tetapi sejak tahun 1971, posisi Indonesia bernbah menjadi importir.

Semula impornya memang hanya beberapa puluh ton saja, namun kenyataan konsumsi terus meningkat. Peningkatan konsumsi ini tidak terkejar oleh produksi. Sehingga jumlah impor gula pasir terus meningkat dari tahun ke tahun.

Terus Meningkat

Di pabrik gula "Jatitujuh" Presiden Soeharto menyatakan, pemberian subsidi terhadap gula pasir tidak kecil. Di lain pihak, kebutuhan akan gula terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan bukan saja makin besarnya jumlah penduduk, tetapi juga disebabkan meningkatnya konsumsi gula rata-rata setiap penduduk dalam setahun, ujar Kepala Negara.

Ia menjelaskan pada tahun 1973, rakyat Indonesia rata-rata menghabiskan gula 7 kg seorang tiap tahun. Sekarang telah meningkat menjadi 10 kg tiap orang per tahun. Pada akhir Pelita IIl nanti diperkirakan konsumsi gula rata-ratarakyat Indonesia akan menjadi 13 kg per orang tiap tahun, kata Presiden.

"Peningkatan konsumsi gula oleh masyarakat itu, disebabkan meningkatnya kemampuan masyarakat sebagai hasil pelaksanaan pembangunan selama ini. Jelaslah bahwa meningkatkan produksi gula di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan sendiri, merupakan tantangan pembangunan sector pertanian kita. Dan sebenarnya potensi dan kemungkinan untuk meningkatkan produksi gula itu, masih terbuka Iebar."

Karena itulah, kata Presiden Soeharto, Indonesia harus memperbanyak pabrik gula dan terus berusaha menaikkan produksi gula dalam negeri. Untuk menaikkan produksi gula dan mendirikan pabriknya yang baru, mutlak diperlukan areal tanah yang cukup luas.

Sedang tanah di Pulau Jawa sudah terbatas. Karena itu, pendirian pabrik­ pabrik gula dan kebun tebu baru, hanya terbuka luas di luar pulau Jawa, seperti di Sumatera Kalimantan dan Sulawesi, demikian Presiden Soeharto.

200 PGM

Dalam periode lima tahun Pelita Ill ini, Pemerintah akan membuka kesempatan membangun 200 pabrik gula mini (PGM), tetapi semuanya hanya untuk daerah luar Jawa.

Kapasitas produksi PGM masing-masing 200 ton tebu sehari. PGM ini seluruhnya dibuat di dalam negeri oleh unit-unit PT. BBI (Boma Bisma Indra) dengan harga satu perangkat sekitar Rp. 300 juta.

Dalam kesempatan pengembangan pabrik gula ini, belum ada gagasan untuk mengikutsertakan PMA (Penanaman Modal Asing). Tetapi swasta yang berminat menanam modal, akan dibantu. Keseluruhan rencana pembangunan industri gula tersebut untuk mencapai tahap swasembada gula Indonesia pada akhir Pelita Ill nanti.

Demikian Kepala Proyek Pengembangan lndustri Gula Ir. Soedarsono kepada wartawan, ketika meninjau lokasi PGM Silih Nara, 30 km utara Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Oktober tahun lalu.

Punya HGU

Peresmian pabrik gula ”Jatitujuh” kemarin itu antara lain dihadiri Menteri Pertanian Soedarsono, Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi dan undangan lainnya. Setelah peresmian, rombongan Presiden Soeharto kembali ke Jakarta dengan menggunakan helikopter.

Pabrik gula Jatitujuh ini mulai dibangun tahun 1977 dengan mempunyai Hak Guna/Usaha (HGU) atas tanah seluas 12.000 ha untuk menanam tebu. Mesin-mesinnya didatangkan dari Perancis.

Untuk tahap pertama pabrik gula "Jatitujuh" mempunyai kapasitas 4.000 TCD (ton giling tebu tiap hari) yang dapat ditingkatkan menjadi 6.000 TCD. Jumlah tenaga kerja yang diserap sekitar 1.000 orang (6.000 diantaranya bekerja di kebun tebu). (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (06/09/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 803-806.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.