PRESIDEN RESMIKAN PABRIK GULA DI LAMPUNG DUNIA SWASTA BERPERAN DALAM PEMBANGUNAN

PRESIDEN RESMIKAN PABRIK GULA DI LAMPUNG DUNIA SWASTA BERPERAN DALAM PEMBANGUNAN

Presiden Soeharto menyatakan, bahwa dunia swasta jelas mempunyai tempat dan peranan dalam pembangunan nasional, seperti yang dijamin dalam UUD dan GBHN. Menyambut peresmian pabrik gula ”Gunung Madu” milik perusahaan swasta PT. Gunung Madu Plantations di Lampung Tengah, Senin kemarin, Kepala Negara meminta kalangan swasta supaya tidak ragu-ragu memberikan partisipasinya dalam pembangunan.

Pada awal sambutannya Presiden mengemukakan, sesuai dengan logika pembangunan, semakin berhasil pembangunan dilaksanakan, maka kebutuhan masyarakat pun semakin banyak. Bukan saja dalam jumlah tetapi juga dalam jenis­jenis barang kebutuhan.

Dengan mengambil contoh kebutuhan gula, yakni hasil pabrik yang diresmikan, Presiden mengatakan, pada tahun 1973 yang lalu kebutuhan Indonesia akan gula masih sebesar 7 kg/kapita/tahun. Tetapi dalam Repelita III sekarang kebutuhan Indonesia akan gula diperkirakan sudah mencapai hingga 13 kg/kapita/tahun.

Dikatakan, kalau pada tahun 1978 yang lalu misalnya Indonesia masih mengimpor gula kira-kira 400.000 ton bukan berarti tidak ada usaha untuk meningkatkan produksi gula di dalam negeri.

”Soalnya adalah karena kebutuhan kita naik jauhi lebih tinggi dan apa yang kita hasilkan", kata Kepala Negara.

Dikemukakan, pada tahun 1978 yang lalu produksi gula di Indonesia sudah mencapai 1,1 juta ton. Tetapi kebutuhan sudah naik menjadi sekitar 1,5 juta ton.

Untuk memenuhi kebutuhan akan gula di dalam negeri, tentu produksi gula di Indonesia harus diperbesar. Karena itu, dalam sambutannya secara khusus Presiden menyatakan penghargaannya kepada perusahaan swasta yang mau mendirikan pabrik gula di daerah Lampung tersebut, yang mampu menghasilkan gula 90.000 ton setahun.

Sekalipun produksi pabrik itu termasuk besar, menurut Presiden supaya Indonesia dapat secepat mungkin swasembada gula, masih (diperlukan lagi 4-5 pabrik gula yang produksinya sekitar 90.000 ton) setahun per satu pabrik. Karenanya Pemerintah terus akan membuka pintu dan mendorong penanaman modal dalam perkebunan dan pabrik dan pabrik gula baru.

Dalam hubungan ini, Presiden minta kepada kalangan swasta supaya tidak ragu­ragu berpartisipasi.

"Dunia swasta joins mempunyai tempat dan penanaman dalam pembangunan nasional kita, seperti dijamin dalam UUD dan GBHN”, kata Presiden.

Yang perlu disadari cuma kepada pihak swasta dalam memberikan partisipasi, Presiden mengingatkan tentang perlunya disadari asas dan prinsip hidup berbangsa dan bemegara di Indonesia, yakni berdasarkan Pancasila. Artinya bagi dunia usaha swasta di Indonesia, tujuannya bukan semata-mata tempat mencari keuntungan, tetapi harus mampu menjadi kekuatan yang dapat memajukan dan membuat kesejahteraan bangsa.

Untuk itu kepada perusahaan pabrik gula "Gunung Madu", Presiden minta supaya buruh pabrik mendapat perhatian dan perlakuan yang adil, sesuai dengan hubungan perburuhan Pancasila.

Proyek-proyek Lain yang Diresmikan

Dalam kunjungan sehari ke Lampung kemarin, Presiden juga meresmikan kebun kelapa hibrida milik PTP X dan PTP VI, serta proyek Balai Informasi Pertanian.

Peresmian Balai Informasi Pertanian di Lampung tersebut juga berarti peresmian proyek yang sama di delapan tempat di Indonesia. "Balai Informasi Pertanian inisaya minta agar benar-benar menjadi tempat bertanya bagi masyarakat tani dalam segala segi pembangunan pertanian", Presiden menyatakan harapannya.

Rombongan Presiden dari Jakarta yang ikut menghadiri peresmian antara lain adalah Ny. Tien Soeharto, Menteri Koordinator Ekuin/Ketua Bappenas Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, Menteri Pertanian Sudarsono, Menteri Sesneg Sudharmono, Menteri Muda Urusan Koperasi Bustanil Arifin dan Menteri Muda Urusan Pangan A Affandi. Gubernur Lampung Yasir Hadibroto dan isteri, juga nampak hadir di sana. (DTS)

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (25/09/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 335-336.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.