PRESIDEN RESMIKAN PABRIK FERO NIKEL UNIT II POMALAA

PRESIDEN RESMIKAN PABRIK FERO NIKEL UNIT II POMALAA[1]

 

Kendari, Antara

Presiden Soeharto, Senin, meresmikan pabrik feronikel unit II PT Aneka Tambang Pomalaa dan dua proyek lain yakni Stadion Gelora Suka Bangga Desa dan Balai Rujukan Keluarga “Masagena” Sulawesi Tenggara (Sultra).

Peresmian yang ditandai dengan penandatanganan prasasti tersebut dilakukan oleh Kepala Negara seusai mencanangkan Bulan Bakti LKMD dan Pekan Orientasi LMD Tingkat Nasional di Desa Duriaasi, Kabupaten Kendari, Sultra.

Penandatanganan prasasti tersebut disaksikan Mensesneg Moerdiono, Mentamben IB Sudjana, Menkes Suyudi, Mentan Sjarifuddin Baharsjah, Mentras/PPH Siswono Yudohusodo dan Meneg Kependudukan/Kepala BKKBN Hacyono Suyono.

Kepala Unit Produksi PT. Antam Pomalaa, Ir. Burhanuddin kepada pers menjelaskan, dengan diresmikan nya pabrik unit II tersebut kini pihaknya dapat melipat gandakan produksi dari 5.500 menjadi 11.000 ton per tahun.

Produksi Antam Pomalaa, baik berupa biji nikel maupun feronikel dalam bentuk batangan (ingot) dan butiran (shot), selama ini umumnya diekspor antara lain ke Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Belanda.

“Kendati produksi ditingkatkan menjadi 11.000 ton/tahun namun belum mampu memenuhi permintaan pasar, oleh karena itu, kami sudah merencanakan pembangunan lagi pabrik unit III dan unit IV.” ujarnya.

Pabrik unit III dan unit IV, yang ditargetkan beroperasi tahun 1999, masing-masing akan memiliki kapasitas 5.500 ton/tahun, dengan demikian memasuki abad ke-21, produksi PT. Aneka Tambang Pomalaa akan menjadi 22.000 ton/tahun.

Dijelaskan, selain terus meningkatkan produksi feronikel untuk memenuhi permintaan pasar, pihaknya juga tengah menjajaki kemungkinan memproduksi baja tahan karat (stainless steel) dengan memanfaatkan produksi feronikel yang ada.

Produk “stainless steel” itu segmen pasarnya lebih besar dibanding feronikel, sehubungan dengan semakin berkembangnya industri yang memerlukan bahan baku baja tahan karat seperti alat transportasi modern dan perumahan modern.

“Namun syarat untuk mendirikan pabrik stainless steel cukup berat dan butuh investasi besar. Pabrik yang dibangun minimal harus berkapasitas 200.000 ton/tahun.” katanya seraya menambahkan, kebutuhan di Indonesia 600.000 ton/tahun.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, PT. Aneka Tambang Pomalaa tengah menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Jepang baik dalam pembangunan sarana dan prasarananya maupun pabrik pengolahannya.

Dalam upaya lebih mengoptimalkan aktifitas PT. Aneka Tambang Pomalaa, khususnya menyongsong pembangunan pabrik feronikel unit III dan IV, termasuk pabrik baja tahan karat, pihaknya terus membenahi infrastruktur yang diperlukan. Salah satu diantaranya adalah penyediaan energi listrik yang murah dan untuk itu kini tengah dilakukan studi tentang kemungkinan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Lasolo, Kabupaten Kendari.

“PLTA tersebut diharapkan mampu menghasilkan tenaga listrik berkekuatan 230 MW, sekitar 100MW diantaranya untuk PT. Aneka Tambang, 100 MW untuk PT. Inco dan sisanya untuk masyarakat sekitarnya.” katanya.

Inco adalah perusahaan patungan Indonesia-Kanada yang memiliki konsesi tambang nikel di Sultra se1uas 61.000 hektar, jauh lebih besar dari PT. Antam yang hanya 8.000 hektar, namun perusahaan itu belum mengolah lahan konsesinya : Berdasarkan data, ekspor produk biji nikel PT. Antam Pomalaa yang terletak di Kabupaten Kolaka atau sekitar 200 kilometer dari Kendari, pada tahun  1995 sebanyak 200.000 ton dan ekspor feronikel 5.834 ton.

Sumber : ANTARA (11/03/1996)

_______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 286-288.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.