PRESIDEN RESMIKAN PABRIK BAJA LEMBARAN TIPIS : MAMPU PENUHI KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI HILIR DALAM NEGERI

PRESIDEN RESMIKAN PABRIK BAJA LEMBARAN TIPIS :

MAMPU PENUHI KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI HILIR DALAM NEGERI

 

 

Presiden Soeharto menandaskan, pabrik baja lembaran cenai dingin merupakan jenis yang pertama kita miliki dan sebagai industri yang baru berdiri wajar bila memerlukan perlindungan awal.

Ini dikemukakan Kepala Negara ketika meresmikan pabrik baja lembaran cenai dingin PT. Cold Rolling Mill Indonesia Utama di Cilegon, Jawa Barat, pada Senin pagi.

Namun diingatkan oleh Kepala Negara, hendaknya disadari bahwa perlindungan yang diperlukan itu haruslah bersifat sementara dan hanya untuk waktu yang terbatas.

“Sebab, perlindungan yang diberikan oleh Pemerintah kepada sesuatu industri pada hakekatnya merupakan pengorbanan masyarakat, yang tidak mungkin dipikul terus-menerus”.

Itulah sebabnya Kepala Negara mengajak seluruh jajaran industri nasional untuk terus bekerja keras, penuh keuletan dan penuh kegigihan.

Kerja keras, keuletan dan kegigihan sangat diperlukan pada saat-saat seperti sekarang sedang dihadapi ujian di bidang ekonomi yang sangat sulit. Masa-masa sulit itu harus dijadikan cambuk untuk merangsang tekad, pikiran dan akal agar kita mampu mengatasinya dengan sebaik-baiknya.

Kehadiran pabrik yang menelan investasi yang besar dalam situasi ekonomi yang sangat sulit membuktikan besarnya tekad kita untuk terus membangun dan sekaligus mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

“Selain itu pembangunan pabrik ini juga menunjukkan bahwa kita tetap memiliki kemampuan untuk membangun,” kata Kepala Negara.

Makna Yang Dalam

Di awal sambutannya Presiden Soeharto mengatakan, pembangunan pabrik ini mempunyai makna yang dalam dan mempunyai jangkauan yang luas dalam gerak pembangunan kita selanjutnya.

Karena dengan berproduksinya pabrik ini, maka kita akan dapat menghasilkan sendiri bahan baku yang diperlukan oleh berbagai jenis industri hilir.

Dengan demikian impor bahan baku untuk industri di dalam negeri akan dapat dikurangi yang selanjutnya berarti kita makin maju selangkah dalam kemandirian di bidang industri.

“Pabrik ini juga menduduki posisi yang strategis dalam rangka usaha kita untuk menciptakan struktur industri nasional, khususnya industri baja kita.”

Semua itu penting bagi pertumbuhan industri nasional sebab dengan demikian lengkapnya industri baja yang merupakan industri hulu maka ketergantungan kita dari luar negeri akan dapat dikurangi.

“Dalam Repelita IV sekarang ini danjuga dalam Repelita V yang akan datang kita memang harus terus berusaha untuk makin memantapkan pertumbuhan industri nasional kita, agar dalam Repelita VI nanti kita dapat tinggal landas untuk memang pembangunan menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, yang menjadi cita-cita pembangunan kita”.

Menerobos Pasar

Kepala Negara juga menyatakan kegembiraannya karena beberapa jenis baja produksi dalam negeri telah berhasil menerobos pasaran internasional. Dan agar ekspor baja tersebut dapat terus berjalan dan bahkan dapat ditingkatkan, maka tidak ada jalan lain kecuali harus berhasil meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Diingatkan selanjutnya, karena industri baja juga merupakan industri hulu, yang hasil produksinya menjadi bahan baku bagi industri-industri lainnya, maka industri baja juga harus menghasilkan produk-produk yang mutunya sesuai dengan kebutuhan, tuntutan dan kemajuan industri hilir.

Sebab itu, pabrik ini harus mampu menghasilkan produk-produk lembaran baja tipis secara efisien dengan biaya produksi yang sewajarnya yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan industri hilir yang ada di Indonesia yang selama ini masih mengimpor lembaran baja seperti yang dihasilkan pabrik ini.

Pabrik ini dibangun dengan investasi sebesar US$ 825 juta dan berada di lingkungan PT. Krakatau Steel Grup. Investasi tersebut terdiri dari saham sebesar US$ 245 juta dan pinjaman US$ 580 juta. Pinjaman tersebut tidak melibatkan Pemerintah, jadi 100 persen utang PT. Cold Rolling Mill Indonesia Utama.

Pabrik ini berkemampuan produksi baja tipis lembaran 850.000 ton, dan diharapkan akan meningkat menjadi 1,5 juta ton pertahunnya. (RA)

 

 

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (23/02/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 392-394.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.