PRESIDEN RESMIKAN GELORA MANAHAN

PRESIDEN RESMIKAN GELORA MANAHAN[1]

 

Solo, Suara Karya

Melengkapi penekanan tombol dan penandatanganan prasasti peresmian GOR Manahan, Presiden Soeharto melakukan sekali putaran dari atas padycar mobil yang biasa digunakan untuk golf mengelilingi stadion utama sarana olahraga termegah kedua setelah Gelora Senayan Jakarta itu, Sabtu (21/2).

Siang harinya dalam kunjungannya ke Kraton Kasunanan yang lebih terasa bersifat kekeluargaan, Kepala Negara membubuhkan tanda tangannya di atas prasasti berhuruf Jawa sebagai pertanda selesainya pemugaran Sasana Handrawina, tanpa pembicaraan khusus. Di GOR Manahan, Presiden yang disertai sejumlah putra putrinya Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Prabowo dan Siti Hutami Pratikto disambut Menpora Hayono Isman. Pada kesempatan itu Pimpro GOR Menahan, Hediyanto melaporkan, pembangunan kraton dan pembangunan sarana olahraga berkelas dunia ini merupakan prakarsa Ibu Tien Soeharto selaku Ketua Yayasan Puma Bhakti Pertiwi untuk kepentingan pembinaan prestasi atlet. Dalam penjelasan lebih rinci kepada Kepala Negara saat melihat panel dan maket proyek ia mengemukakan, kompleks GOR seluas 170 ribu m2 dibangun diatas sebagian Lapangan Manahan. Menghabiskan dana Rp.22 miliar, sarana olahraga ini terdiri atas sebuah stadion utama lapangan bola berkapasitas 15 ribu penonton, dengan kelengkapan lintasan 8 lajur yang bisa dipakai untuk semua nomor atletik. Fasilitas lainnya berupa velodrom berkapasitas 600 penonton. Di samping itu masih dilengkapi sebuah lapangan bola terbuka, 3 lapangan voli dan dua lapangan basket. Sementara bulevar seluas 125 ribu m2 mampu menampung parkir 565 mobil dan 23 kendaraan berat. Ruang luar ini, dapat dimanfaatkan oleh umun sebagai arena senam pagi atau lari-lari. Mengakhiri peresmian, setelah penandatanganan penyerahan GOR Manahan dari Sigit Harjojudanto mewakili Yayasan Purna Bhakti Pertiwi peda Pemda Kodya Surakarta, Presiden Soeharto mengelilingi stadion utama Manahan sekali putaran di atas padycar. Ikut mengantar Menpora Haryono Isman dengan bem nserpe yang dikemudikan Gubernur Jateng, Soewardi. Sedang Sigit Harjojudanto menyetir sendiri padycar yang ia kendarai.

Sumbang Gaji

Setelah acara di Manahan selesai, Presiden bertolak menuju Kraton Kasunanan Surakarta, Di jemput Menparpostel Joop Ave di Kori Kamandungan, diiringi gending monggang Kepala Negara langsung diantar menuju Sasana Parasdya untuk diterima secara adat kraton oleh Sinuhun Pakoe Boewono XII, sebelum kemudian berbareng turun menuju Sasana Handrawina. Hadir pada kesempatan ini, Pangab Jendral Wiranto, Mantan Menko Polkam Jendral (Purn) Surono serta konglomerat Willem Surya Jaya. Dalam laporannya Menparpostel Joop Ave selaku Pelindung Panitia Nasional Rehabilitasi Objek dan Daya Tarik Wisata Budaya Keraton mengemukakan sejarah panjang pembangunan kembali kasunanan setelah terbakar habis akhir Januari 1985. Kesemuanya itu, tambahnya, hanya mungkin dilakukan karena restu Presiden yang bukan saja telah memprakarsai pembentukan Panitia 13 diketuai Surono, terlebih juga berkenan menyumbangkan gajinya selama setahun penuh untuk mendukung renovasi Kraton  Surakarta.

Dengan restu serupa, Sasana Handrawira sebagai satu-satunya bangsal yang belum digarap Panitia 13, akhirnya dapat dibangun kembali lewat dukungan 15 pengusaha nasional.

“Dana swasta yang terkumpul Rp.7,9 miliar ini untuk membantu pemugaran sejumlah kraton dan beberapa objek wisata nasional. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp.4 miliar diantaranya untuk keperluan pembangunan kembali Sasana Handrawira.” ujarnya.

Seluruh komponen bahan bangunan yang dipergunakan, menurut Joop Ave, mempergunakan produksi dalam negeri. Kecuali 21 buah lampu robyong gantung yang masih harus diimpor. Pada bagian lain laporannya ia mengemukakan tentang keinginan almarhumah Ibu Tien Soeharto yang untuk membantu memugar Museum Kraton. Rencana tersebut kini telah memperoleh sambutan dari beberapa pengusaha, diantaranya Ny. Siti Hediati Prabowo dan Ny. Mooryati Sudibyo. Sebelum mempersilahkan Presiden Soeharto menandatangani prasasti, Menparpostel Joop Ave menjelaskan, tanda puma pugar Sasana Handrawira yang bertuliskan huruf jawa itu dalam terjemahan bebasnya adalah dengan ‘Sepenuh Hati Meluhurkan Budaya, akan Membawa Ketentraman Negara’.

“Namun Bapak Presiden kalau harus membaca tulisan aslinya, mohon maaf saya tidak mampu, ucapnya disambut tawa seluruh tamu.”

Dikonfirmasi terpisah, sejumlah kerabat mengatakan, prasasti berhuruf jawa yang berbunyi ‘Lamun Temen Hangluhurake Budaya, Tuwuh Katentreming Nagara’ itu bukan candrasengkala. Melainkan merupakan sesanti. Usai acara Sinuhun Pakoe Boewono XII menjawab Suara Karya mengatakan, dalam kunjungan singkatnya ke Kraton, Presiden tak membicarakan hal-hal yang khusus.

“Saya juga tak matur apa pun. Kecuali kalau di lain kesempatan nanti saya dipanggil ke Jakarta, saya akan mencoba mengutarakan konsep Kasunanan dalam menghadapi masa depan.” ujarnya.

Giri Bangun

Sempat transit sejenak di Dalem Kalitan, Presiden Soeharto siang harinya pukul 14.45 WIB berziarah ke makam Ibu Tien di Astana Giri Bangun. Diiringi lima putra putrinya, termasuk Siti Hardiyanti Rukmana yang menyusul datang, Kepala Negara langsung duduk di depan makam almarhumah. Terlihat dalam rombongan antara lain Pangab Jendral Wiranto, Menkop Soebiyakto Tjakrawerdaya, Pangdam Diponegoro, Kapolda Jateng dan Gubernur Soewardi. Cuaca mendung dan gerimis rintik-rintik mengiringi tahlil yang dibawakan oleh sekitar 40 santri. Presiden beserta keluarga terlihat khusuk berdoa hingga malam hari.

Sumber : Suara Karya (23/02/1998)

__________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 802-805.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.