Presiden Resmikan Bendungan Caguh (Bali) UNTUK PENUHI KEBUTUHAN PUPUK PEMBANGUNAN 3 PABRIK DIPERCEPAT

Presiden Resmikan Bendungan Caguh (Bali)

UNTUK PENUHI KEBUTUHAN PUPUK PEMBANGUNAN 3 PABRIK DIPERCEPAT

Pemerintah sedang berusaha meningkatkan pendapatan rakyat khususnya petani, dengan membangun lagi pabrik pupuk.

Presiden mengatakan, kepadanya sudah dilaporkan bahwa pembangunan pabrik pupuk di Kalimantan Timur dan Aceh sebanyak 3 buah akan dipercepat penyelesaiannya. Dengan adanya tiga pabrik pupuk itu berarti tambahan produksi pupuk mencapai 1,5 juta ton.

Dewasa ini produksi pupuk Dalam Negeri sebanyak 2,5 juta ton dirasa masih kurang, terutama karena adanya proyek Insus, walaupun jumlah produksi itu jauh di atas produksi pada permulaan Pelita I yang hanya 100.000 ton.

Pernyataan Presiden itu diungkapkan dalam acara tatap muka dengan kelompok petani seluruh Kabupaten Bali ketika Presiden berkunjung ke desa Rejasa, Kabupaten Tabanan, seusai meresmikan proyek bendungan Caguh.

Acara temu wicara itu meskipun berisi pesan-pesan serius dari Presiden namun berlangsung dengan akrab spontan, santai dan diselingi dengan ketawa.

Menghadapi bermacam-macam permintaan petani untuk kepentingan wilayah masing-masing, Presiden yang kala itu didampingi Ibu Tien Suharto memberikan penjelasan bahwa Pemerintah tentu akan memperhatikan keinginan masyarakat, tetapi kemampuannya terbatas.

Walaupun demikian, sekarang ini apa yang dikerjakan pemerintah adalah mengusahakan agar rakyat dapat menambah penghasilan dengan meningkatkan produksinya dan dengan demikian kemampuannyapun bertambah. Dengan kemampuan yang bertambah itu secara gotong royong, sedikit demi sedikit permasalahan akan diselesaikan sesuai yang diinginkan.

Pembangunan pabrik pupuk yang dilaksanakan antara lain untuk membantu petani meningkatkan penghasilannya, mengingat produksi pupuk yang 2,5 ton masih kurang. Pemerintah mempergunakan cadangan devisa untuk membangun pabrik kebutuhan akan pupuk terpenuhi. Selain pabrik pupuk, pemerintah juga membangun pabrik lain seperti semen disamping irigasi.

Namun, menurut Presiden, hal yang segera dipikirkan ialah bagaimana melaksanakan pembangunan sesuai kemampuan tanpa mengecilkan keinginan rakyat.

“Di lain pihak rakyat dengan semangat gotong royong, harus ikut membantu Jiwa dan semangat yang diwariskan nenek moyang kita dan ternyata berhasil dan berguna sampai sekarang harus diterapkan pada bidang-bidang lain," kata Presiden.

Menanggapi pertanyaan petani lainnya bahwa mereka sekarang sudah tidak memakan nasi campuran, Presiden merasa gembira. Namun Presiden menasehatkan agar jangan memandang rendah maka nasi campuran melainkan hendaklah hal itu dipandang dari segi pertimbangan gizi.

"Sekarang saya gembira rakyat bisa makan beras, tetapi akibatnya walaupun produksi beras naik terus ternyata dikejar oleh kebutuhan. Produksi beras berhasil dinaikkan dari 10,5 juta ton menjadi 20 juta ton namun ternyata kita masih import," kata Presiden.

Untuk mengurangi impor tentu kita usahakan menaikkan produksi di samping pola konsumsi harus diperbaiki.

Memilih Sapi dari Traktor

Dua petani menyatakan keluhannya terhadap pemakaian traktor. Subak Jembrana menginginkan traktor yang lebih baik.

"Jangan bikinan Jepang Pak" pinta seorang petani. "Yang dirasakan baik apa?" tanya Presiden.

Jawabnya, petani itu menyebutkan merek yang kurang baik adalah Yanmar dan Izeki. "Menurut penjelasan di TV yang baik buatan Amerika," jawab petani itu, yang disambut gelak oleh Presiden. Komentarnya "Wah itu kan traktor besar."

Petani lainnya menyatakan keberatan atas pemakaian traktor, apalagi traktor Jepang. "Kami menolak sama sekali, Pak, dan betul-betul ini Pak." Petani ini lebih senang mendapatkan kredit dari harga traktor Rp 2,2juta dapat dibelikan 16 sapi yang dalam 2 tahun bisa berkembang menjadi 20 ekor, di samping masih dihasilkan pupuk kandang. Terhadap masalah ini Kepala Negara menyetujui.

Dalam tatap muka yang berjalan spontan itu serangkaian permohonan sempat disampaikan petani. Petani2 dari desa Rejasa misalnya sempat mengajukan permohonan bantuan untuk pembangunan balai Subak, rumah ibadah, listrik, air minum.

Dijawab Presiden bahwa hal itu akan diperhatikan. Namun pemerintah tetap akan mempertimbangkan kemampuan untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Ketiga menghadapi permohonan petani Insus untuk dijadikan pegawai negeri,

Presiden komentar "Wah nanti bukan gotong royong lagi." (DTS).

Sumber: SUARA KARYA (25/09/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 813-815.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.