PRESIDEN RESMIKAN 8 PROYEK BERNILAI RP.1,18 TRILIUN

PRESIDEN RESMIKAN 8 PROYEK BERNILAI RP.1,18 TRILIUN[1]

 

Pangkajene, SUARA PEMBARUAN

Industrialisasi dipilih sebagai jalur utama pertumbuhan ekonomi bukan tanpa alasan. Sektor industri lah yang kita harapkan dapat menghasilkan nilai tambah yang besar dan banyak menyerap tenaga kerja dengan produktivitas yang tinggi. Industri pula menjadi wahana utama pengembangan teknologi untuk mengejar ketinggalan dari bangsa lain yang telah maju lebih dulu.

Presiden Soeharto mengemukakan hal itu Selasa (10/9) pagi di desa Biringere, Pangkajene, Sulawesi Selatan ketika meresmikan Pabrik Semen Unit IV PT. Semen Tonasa dan berbagai proyek di provinsi itu.

Kita akan terus meningkatkan dan mengarahkan pembangunan sektor industri sehingga makin menjadi penggerak utama ekonomi yang efisien, berdaya saing tinggi dan mempunyai struktur yang makin kukuh.

Pola barang-barang yang dihasilkan industri kita, kata Kepala Negara, harus kita alihkan dari barang-barang yang mengandalkan pada tenaga kerja produktif dan sumber daya alam yang melimpah menjadi barang yang makin bermutu, bernilai tambah tinggi dan padat ketrampilan.

Hal itu, tambahnya, berarti proses industrialisasi yang dirintis selama ini harus ditingkatkan, lanjutkan, perluas dan perdalam lagi. Kelanjutan proses industrialisasi ini harus kita lakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memanfaatkan secara optimal SDA yang kita milikidan meningkatkan kemampuan teknologi yang kita kuasai. Untuk itu, industri kita harus lebih diperdalam dan diperkukuh pijakannya, harus lebih ditingkatkan kadar teknologinya, agar dapat menghasilkan produk bernilai tambah besar dan sekaligus juga berdaya saing kuat.

Selain itu, menurut Presiden, kitapun harus meningkatkan kemampuan rancang bangun dan rekayasa,harus mendorong berkembangnya industri jasa rancang bangun dan perekayasaan serta sekaligus industri permesinan yang menghasilkan mesin dan peralatan industri. Presiden mengatakan, kita menyadari bahwa ekonomi yang kuat akan terbentuk oleh industri- industri yang tangguh, yang kekuatannya berlandaskan pada produktivitas dan efisiensi yang tinggi.

Dengan membangun industri secara besar-besaran tidak berarti kita boleh mengabaikan sektor pertanian. Bagi negara berpenduduk besar dengan wilayah kepulauan yang sangat luas seperti Indonesia, maka penyediaan pangan yang cukup adalah mutlak.

Pembangunan pertanian kita selaras ini memang mencapai kemajuan yang sangat besar tetapi di masa datang kita masih harus memantapkan dan memperluas pembangunan pertanian itu. Dalam rangka itulah, tegas Presiden, kita sambut gembira selesainya pengembangan daerah rawa untuk peningkatan jaringan pengairan tambak di Sulsel.

Memenuhi Kawasan Timur

Dari tahun ke tahun kebutuhan semen bertambah besar sejalan dengan meningkatnya pembangunan. Kita harus meningkatkan produksi semen secara nasional.

“Tetapi kenaikan produksi saja tidak cukup, karena kita harus benar-benar dapat menyebarkan hasil produksi itu ke semua daerah.” ujar Presiden.

Itu pulalah sebabnya pabrik-pabrik semen dan pabrik-pabrik lainnya juga perlu kita sebarkan ke semua daerah secara wajar sesuai dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan ekonomi.

Pabrik Semen Tonasa Unit IV berkapasitas produksi 2,3 juta ton/tahun, sehingga produksi PT. Semen Tonasa menjadi 3.5 juta ton/tahun dan saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Indonesia sebelah timur.

Sebagai pabrik yang padat modal dan menggunakan teknologi canggih, dengan pembangunan swakelola, mendorong kemampuan bangsa kita dalam menguasai teknologi yang penting bagi pengembangan kemampuan rancang bangun, perekayasaan serta penelitian dan pengembangan.

Delapan Proyek

Peresmian delapan proyek bernilai Rp 1,18 triliun di Sulawesi Selatan itu dipusatkan di pabrik unit IVPT. Semen Tonasa, di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), sekitar 62 kilometer dari Ujungpandang.

Proyek yang diresmikan itu adalah perluasan pabrik semen Tonasa yang dibangun dengan investasi Rp 964,41 miliar berkapasitas produksi 2,3 juta ton semen/tahun.

Pabrik cocoa butter (mentega kakao) dengan investasi Rp 20 miliar. Pabrik itu mempunyai kapasitas produk si 5.000 ton mentega kakao/tahun, 6.000 ton bubuk kakao/tahun dan 60.000 ton biji kakao/tahun serta menyerap 7 1 orang tenaga kerja. Pabrik travo dengan investasi Rp 15 miliar, berkapasitas produksi 20 unit travo/hari atau 4.800 unit travo/tahun dan kapasitas rata-rata 200 KVA serta menyerap 120 orang tenaga kerja.

Penambangan dan pengolahan manner alam dengan investasi Rp 32 miliar, berkapasitas produksi 600.000 meter persegi/tahun serta menyerap 300 tenaga kerja. Untuk jenis yang sama yakni proyek produksi tambang dan keramik dengan investasi Rp 30 miliar, berkapasitas 5.000 meter kubik tambang/bulan dan keramik 30.000 meter persegi/bulan yang menyerap 630 tenaga kerja.

Proyek dalam lingkungan pekerjaan umum bernilai Rp 52,98 miliar terdiri atas peningkatan jaringan pengairan tambak pada lima kabupaten yakni kabupaten di Sulsel untuk 8.266 hektar.

Peningkatan irigasi desa tahap I-II yang tersebar di 20 kabupaten di Sulsel untuk 38.415 hektar, penggantian jembatan 209 meter dan peningkatan jalan 50 kilometer.

Selain itu, penyediaan air bersih di Kabupaten Polmas yakni instalasi pengelolaan air kapasitas 10 liter/detik, hidran umum sebanyak 11 unit dan perpipaan 9.662 meter.

Pembangunan perumahan RS dan RSS yang dilakukan oleh Perum Perumnas dengan investasi Rp 48,83 miliar untuk 5.327 unit rumah pada lahan 394,44 hektar tersebar pada lima kabupaten dan kotamadya di Sulsel ini.

Di Ujungpandang sebanyak 4.310 unit, Kabupaten Maros 312 unit, Wajo 140 unit, Luwu 169 unit dan Kodya Pare-pare 495 unit.

Selain itu proyek pembangunan perumahan taman Telkomas dengan investasi Rp 22 miliar pada lahan 20 hektar untuk 758 unit rumah yang terdiri tipe 45 sebanyak 344 unit, tipe 54 sebanyak 186unit dan tipe 70 sebanyak 288 unit.

Sumber : SUARA PEMBARUAN ( 10/09/1996)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 414-416.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.