PRESIDEN PRIHATINKAN KASUS DEMAM BERDARAH SUDAH MENCAPAI 16.466 KASUS

PRESIDEN PRIHATINKAN KASUS DEMAM BERDARAH SUDAH MENCAPAI 16.466 KASUS[1]

 

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto memprihatinkan banyaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi. Untuk itu, Kepala Negara mengajak semua pihak meningkatkan kewaspadaan, dengan terus mengintensifkan gerakan 3 M, yaitu menguras, menutup tempat penampungan air, dan mengubur, menyingkirkan barang bekas.

Menteri Kesehatan Farid A Moeloek menyampaikan hal itu kepada wartawan usai diterima Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana, Jakarta, Jumat (24/4). Dikatakan, keprihatinan Kepala Negara itu disampaikan, setelah mendengar laporan tentang 11 propinsi di Indonesia yang mendapatkan masalah demam berdarah hingga pada tingkat kejadian luar biasa (KLB).

Ke-11 propinsi itu meliputi propinsi Sumsel, Jambi, Lampung, DKI, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sulawesi Tenggara, NTB, Maluku , dan Tim Tim. Sebelumnya, dilaporkan Jawa Barat juga terjadi KLB ternyata setelah diteliti hanya kasus biasa.

“Presiden prihatin, karena memang sekarang ini kasusnya sedemikian banyak, karena itu Presiden mengajak kita semua untuk bersih, waspada, dan melaksanakan 3 M.” kata Menkes Farid.

“Presiden juga memahami bahwa ini sebagai kejadian luar biasa. Presiden meminta gerakan 3 M itu, lebih digalakkan lagi.” lanjutnya.

Capai 16.466 Kasus

Mengutip laporan yang diterima hingga tanggal 22 April dari 27 propinsi, Menkes mengatakan, secara akumulatif ada 16.466 kasus DBD, sebagian sudah pulang, dan sebanyak 2,6 persen atau 429 penderita meninggal. Periode Januari-Maret, terjadi letusan di 19 Dati II dari propinsi, dengan jumlah 6.224 kasus, 182 di antaranya atau 2,9 persen meninggal dunia.

Angka itu lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun 1997, yang mencapai 2.058 kasus dan 32 orang atau 1,6 persen meninggal dunia.

“Jadi betul-betul sekarang ini terjadi lonjakan.” tegasnya.

Khusus untuk DKI Jakarta, hingga tangga l-22 April tercatat 4.912 kasus dengan 50 orang atau sekitar satu persen meninggal.

Untuk wilayah Jateng, terjadi 1969 kasus, meningga l61 orang (3,1 persen), DI Yogyakarta, terjadi 738 kasus, meninggal 25 orang (3,4 persen), Jatim 1082 kasus, meninggal 22 orang (dua persen).

“Yang terbanyak diantara 11 propinsi itu, adalah Sumsel dan DKI Jakarta. Sumsel itu sekitar 2000 an dan sekarang sudah naik lagi, itu laporan yang kami dapatkan.” kata Menkes.

Di Jakarta meskipun pasien bam masih terus berdatangan ke sejumlah rumah sakit, tetapi secara umum pasien baru mulai berkurang. Demikian hasil pantauan Kompas di beberapa rumah sakit dalam beberapa hari terakhir.

Di Rumah Sakit (RS) Fatmawati Jakarta Selatan, misalnya penambahan pasien bam selama empat hari terakhir sejak 20/4 menunjukkan penurunan berturut-turut dari 30, 29, 22, menjadi 17 pada Jumat (24/4). Di RS St Carolus, jumlah pasien baru pada 20/4 sebanyak 27 orang. Dalam tiga hari berikutnya turun menjadi 24 orang, naik lagi menjadi 35 orang, dan turun kembali menjadi 15 orang. Di RS Islam Jakarta Senin (20/4) tercatat 29 orang pasien baru, dua hari kemudian 45 orang, dan Jumat kemarin turun menjadi delapan orang. RSUP Fatmawati, untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien DBD yang harus dirawat, telah menyiapkan 20 ranjang lipat dan 15 tempat tidur periksa. Kalau keadaan memang memaksa, kata Ketua Tim Penanggulangan Demam Berdarah RSUP Fatmawati, dr. Chairul R Nasution, Jumat (24/4), lorong di lantai dua juga disiapkan untuk tempat perawatan pasien.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Haryono Suyono menyampaikan kepada wartawan usai Rakor Bidang Kesra hari Jumat, pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi bencana demam berdarah. Karena itu, selain telah menginstruksikan setiap rumah sakit yang ada wajib menerima pasien DBD, pemerintah juga terus berupaya mencari jalan keluar untuk memberantas penyakit itu.

Bantuan dalam kesempatan berbeda, hari Jumat Menteri Kesehatan FA Moeloek menyerahkan bantuan cairan infus untuk penderita DBD. Untuk meringankan beban rumah sakit Menkes menyerahkan bantuan 20.000 botol Ringer Lactat kepada 19 rumah sakit yang merawat penderita DBD di Jakarta.

Gubernur DKI Sutiyoso hari Jumat juga memberikan sumbangan 500 botol cairan infus Ringer Lactat kepada tiga rumah sakit di Jakarta Utara, RS Tugu, RS Koja, dan RS Suka Mulya. Menurut dr Umar Wahid, Direktur RS Koja, yang menerima bantuan gubernur itu, bantuan tersebut sangat berarti untuk penambahan persediaan di rumah sakit.

Sehari sebelumnya, RS. Fatmawati juga menerima bantuan paket peralatan kesehatan yang berkaitan dengan demam berdarah dari Bank Bumi Putera. Bantuan tersebut berupa blood set, infus set, dan jarum suntik. Beberapa rumah sakit juga sudah menerima bantuan tempat tidur lipat dari Kodam Jaya.

Sementara itu, Ketua PMI Pusat, Siti Hardiyanti Rukmana usai mengikuti Rakor Kesra mengatakan, telah menginstruksikan kepada seluruh cabang PMI di seluruh Indonesia memanggil para pendonor darah untuk membantu kasus demam berdarah.

“Saya telah menginstruksikan kepada seluruh cabang PMI untuk memanggil para pendonor untuk segera menyumbangkan darahnya, karena penderita demam berdarah semakin meningkat jumlahnya.” ujarnya.

Menyinggung tentang adanya calo darah, Menkes lebih cenderung menghindar.

“Mudah-mudahan tidak ada.” katanya singkat.

Bagaimanapun menurut menteri upaya penyembuhan dilakukan dengan memberikan cairan infus dan darah baru dibutuhkan jika penderita DBD sudah mengalami shock.

“Obat penyakit ini secara pasti belum ada, tetapi untuk mencegah shock dilakukan dengan menambah cairan.” kata Menkes.

Menkes menyadari situasi krisis moneter menyebabkan biaya perawatan penderita DBD menjadi sangat mahal, karena harga cairan dan obat-obatan naik. Karenanya Menkes mengimbau pihak rumah sakit untuk tidak membebani masyarakat, apalagi menolak penderita, karena ini akan menambah keresahan masyarakat yang saat ini sudah memikul beban berat akibat krisis ekonomi.

Sumber : KOMPAS (25 APR 1998)

______________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 797-799.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.