PRESIDEN PRIHATIN: HANYA 2% PENDUDUK INDONESIA HIDUP DARI LAUT

PRESIDEN PRIHATIN:

HANYA 2% PENDUDUK INDONESIA HIDUP DARI LAUT

Kalau Ingin Maju dan Kuat Negaranya Serta Makmur Rakyatnya Harus Mampu Menguasai Lautan

Presiden Soeharto menyatakan prihatin, karena dari 140 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya dua persen yang hidup dari laut, sedangkan Indonesia merupakan negara maritim.

Presiden menegaskan, kalau bangsa Indonesia ingin aman, maju dan kuat negaranya serta makmur rakyatnya harus mampu menguasai lautan, kata Sesdalopbang Solihin GP, ketika Senin petang berkunjung dan berdialog dengan para nelayan di Kluwut Kabupaten Brebes.

Penguasaan laut yang dimaksud Sesdalopbang sesuai kebijaksanaan Kepala Negara dalam sidang dewan stabilitas ekonomi di Jakarta baru2 ini ialah dengan memelihara potensi laut dengan baik.

Tentang trawl, sesuai kebijaksanaan Presiden harus dihapuskan secara bertahap tapi cepat. Karena trawl merugikan nelayan kecil tradisional dan merusak kelestarian serta keseimbangan kelanjutan hidup potensi laut.

Walaupun demikian, produksi ikan dankegiatan di laut harus terus dikembangkan dengan menjamin kelestarian potensi laut. Hal ini untuk menyempurnakan menu makanan rakyat dan memberi kesempatan kerja yg luas.

3 Kelompok

Ada tiga kelompok potensi penangkap ikan, masing2 nelayan kuat, nelayan menengah dan kelompok nelayan kecil tradisional yang disebut "Armada Semut".

Kelompok pertama ialah nelayan kuat yang menggunakan alat penangkap jaring trawl. Trawl-nya dilarang, namun bukan berarti kegiatan usahanya harus mati. Nelayan2 eks trawl ini harus lebih hebat lagi menguasai laut seperti jaman Sriwijaya dan Mojopahit dulu usahanya.

Pada jaman itu, menurut Sesdalopbang, kita mampu berlayar sampai ke luar negeri karena lautan dulu kita kuasai. Karena itu nelayan yang dulu menggunakan trawl sekarang akan dibimbing pemerintah untuk dioperasikan pada zone terbuka atau wilayah penangkapan ikan akan dijadikan armada nelayan terbuka.

Kelompok kedua ialah nelayan menengah seperti nelayan anggota KUD Makarya Mina (Pekalongan) yang akan mencoba menggunakan jarring purse seine dan mini purse seine.

Sesdalopbang mengemukakan sudah membicarakan masalah penggantian trawl menjadi purse seine ini dengan Bank Rakyat Indonesia di Jakarta.

Purse Seine dan pabrik es di Makarya Mina akan dijadikan proyek percontohan untuk studi. Kelompok ketiga atau armada semut, nelayan kecil tradisional jumlahnya banyak. Untuk meluaskan upaya penangkapan ikan di laut, sarana penangkapannya harus dimodernisasikan.

Mekanisasi

Searah dengan itu, Sesdalopbang menyambut gembira nelayan kecil tradisional, di Brebes sudah mulai dengan mekanisasi. Sudah 444 dari 1.285 perahu dilengkapi dengan motor tempeI. Bahkan tanpa motor nelayan2 setempat tidak mau ke laut, karena hanya membuang waktu dan tenaga.

Sesdalopbang berada di Brebes, untuk meneliti keberhasilan para nelayan kecil tradisional yang sudah menggunakan motor. Di Jawa Timur, kebutuhan hidup minimal rata2 Rp 54.000 per kapita setahun.

Penghasilan petani rata2 Rp 60.000 perkapita setahun, sedang nelayan yang belum bermotor hanya Rp 27.000 perkapita setahun serta yang sudah menggunakan motor Rp 39.000 per kapita setahun.

Suradjad, nelayan yang baru dua bulan menggunakan motor kepada Sesdalopbang mengatakan, ada perbedaan penghasilan yang cukup tinggi menangkap ikan tanpa motor dan dengan menggunakan motor.

Sebelum dengan motor penghasilannya hanya Rp. 200 sampai dengan Rp. 225 sehari dan sekarang bisa mencapai antara Rp. 300 sampai dengan Rp. 500 sehari. Perahu kecilnya kini menggunakan motor tempel berkekuatan 7,5 PK yang didapat dari kredit bank Rp. 620.000 dan dikembalikan dalam jangka waktu lima tahun dengan tenggang waktu satu tahun.

Sementara itu Bupati Cilacap Pudjono Pranyoto atas pertanyaan "Antara" di Brebes mengatakan, penghapusan trawl yang direncanakan pemerintah akan menghapuskan keresahan nelayan kecil tradisional di daerahnya. (DTS)

Semarang, Berita Buana

Sumber: BERITA BUANA (23/07/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 786-787.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.