PRESIDEN PIMPIN UPACARA HAPSAK PANCASILA 1989 DI LUBANG BUAYA

PRESIDEN PIMPIN UPACARA HAPSAK PANCASILA 1989 DI LUBANG BUAYA

 

 

Jakarta, Antara

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1989, diperingati dalam suatu upacara sederhana dan khidmat dengan inspektur upacara Presiden Soeharto di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta, Minggu pagi.

Upacara peringatan tersebut diikuti pelajar SD, SMP, SMA, Pramuka, Paskibra, KNPI, mahasiswa IKIP, Menwa serta kesatuan TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU dan Potri, Kowad, Kowal, Wara, Polwan, Akmil, AAL, AAU dan Akpol.

Hadir juga dalam upacara yang berlangsung sekitar 20 menit itu Ibu Tien Soeharto, Wapres dan lbu Sudharmono, para Menteri Kabinet Pembangunan V, ketua lembaga tinggi dan tertinggi negara serta korps diplomatik dan ibu-ibu janda Pahlawan Revolusi.

Hujan gerimis yang turun, tidak mengganggu para peserta upacara, bahkan menambah syahdunya upacara mengenang gugurnya para Pahlawan Revolusi 24 tahun lalu.

Tanpa sambutan-sambutan, acara dimulai dengan mengheningkan cipta bagi arwah para pahlawan dipimpin Presiden Soeharto, disusul dengan pembacaan naskah Pancasila oleh ketua MPR, Pembukaan UUD 1945 oleh Mendikbud Fuad Hassan serta pembacaan dan penandatanganan ikrar oleh Wakil Ketua DPR Syaiful Sulun.

Dalam ikrar itu dinyatakan, pada 1 Oktober 1965 telah terjadi kup terhadap Pemerintah RI yang sah oleh PKI dengan G 30 Septembernya, menyebabkan tragedi nasional yang ditandai dengan gugurnya pahlawan-pahlawan Revolusi secara kejam dan keji, di luar batas-batas kemanusiaan.

Tragedi nasional tersebut, katanya, dimungkinkan oleh kelengahan, kekurang waspadaan dan adanya kegiatan pimpinan PKI yang sengaja menipu sebagian rakyat Indonesia dalam usahanya menumbangkan Pancasila.

Kebenaran dan keadilan adalah sendi-sendi perikehidupan manusia yang harus dijunjung tinggi, dipertahankan dan dihormati. Untuk itu, “kami membulatkan tekad untuk mempertahankan Pancasila sebagai sumber kekuatan dalam perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan demi terlaksananya amanat penderitaan rakyat,” ujarnya.

Upacara diakhiri dengan Andika Bhayangkari, setelah sebelumnya dilakukan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, MA. Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, dibangun untuk mengenang kembali jasa pahlawan revolusi dan mengambil hikmah dari peristiwa 1 Oktober 1965. Di tugu

monumen tersebut berdiri patung tujuh pahlawan revolusi yakni Jenderal (Anm) Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen D.I. Panjaitan, Mayjen Soetojo Siswomihardjo dan Kapten Pierre Andries Tendean. Selain mereka itu, juga gugur pahlawan revolusi Brigjen Katamso Dharmokusumo dan Kolonel Sugijono Mangunwijoto di Yogyakarta.

Ade Irma Suryani Nasution, putri Jenderal TNI A.H. Nasution, juga ikut gugur dalam peristiwa itu.

Hapsak Pancasila tahun ini. bertema “Dengan Kesaktian Pancasila Kita Mantabkan Ketahanan dan Stabilitas Nasional Dalam Rangka Mengamankan dan Menyukseskan Pembangunan Nasional.”

 

 

Sumber : ANTARA(01/10/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 773-774.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.