PRESIDEN: PETERNAK HENDAKNYA TIDAK BERFOYA-FOYA

PRESIDEN: PETERNAK HENDAKNYA TIDAK BERFOYA-FOYA

Jakarta, Merdeka

Pemerintah tidak akan mengijinkan pengusaha bermodal kuat membangun petemakan sapi perah secara besar-besaran, jika usaha itu dijalankan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, namun peternakan skala besar bisa dibenarkan, jika mengikut sertakan secara aktif petani kecil di dalamnya.

Demikian penegasan Presiden Soeharto yang disampaikan pada acara temu wicara dengan para peternak sapi perah di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Sabtu siang.

“Pengusaha kuat, baik dalam modal maupun teknologi dibolehkan membangun petemakan sapi perah berskala besar, tapi itu hanya untuk menghasilkan bibit sapi perah yang bermutu tinggi yang selanjutnya harus disebarkan kepada petemak kecil,” kata Kepala Negara.

Sebelumnya Presiden meresmikan pengoperasian PIR Persusuan Mantrusi yang dilaksanakan sebagai hasil kerjasama Mantrusi, Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSl), serta koperasi dari Amerika Serikat, Land O’Lakes.

Untuk melaksanakan PIR ini, dibentuk perusahaan dengan nama Nandi Amerta Agung (NAA) yang akan mendatangkan 20.000 ekor sapi unggul dari AS. Dari jumlah itu 15.000 ekor di antaranya diimpor NAA yang bertindak sebagai inti yang kemudian dibagi-bagikan kepada peternak sebagai plasma.

Kepala negara mengingatkan para peternak umumnya memiliki kelemahan baik di bidang modal maupun teknologi untuk memelihara ternaknya. Selain itu masalah lain yang menghambat kegiatan mereka adalah terlalu sempitnya lahan.

“Harus diusahakan kerja sama yang saling menguntungkan dan jangan saling memeras satu dengan yang lain dan jangan saling rebut,” pinta Kepala Negara kepada inti dan plasma.

Jangan Boros

Dalam pengarahannya kepada para peternak sapi yang melalui program ini rata­rata memperoleh enam ekor sapi bernilai Rp 15 juta. Presiden meminta agar mereka bekerja keras dan jangan berfoya- foya. karena pendapatan mereka yang meningkat, sehingga bisa mencapai Rp 2 juta per tahun.

Pemerintah bercita-cita bahwa di masa depan peternak selain akhimya memiliki sapi juga lambat laun memiliki saham perusahaan intinya, demikian Presiden. Dambaan pemerintah yang disampaikan Kepala Negara langsung disambut tepuk tangan amat meriah oleh peternak dan penduduk yang sejak pagi hari telah memenuhi tempat upacara. “Tapi hal itu tidak hanya akan begitu saja diberikan,” kata Presiden.

Melalui sistem PIR Persusuan ini, selain menyerahkan sapi Nandi Amerta Agung menyediakan pula biaya hidup bagi peternak, makanan (pakan) tenaga kesehatan, peralatan pemerah hingga membeli susu yang ditargetkan 18 liter/ekor tiap hari.

Dengan pula ini, jika seekor sapi mampu memproduksi susu lebih dari 18 liter/hari, kelebihan itu menjadi milik peternak bersangkutan. Akan tetapi sebaliknya, jika sang sapi tidak mampu memproduk si susu 18 liter/hari, Nandi Amerta Agung akan memberikan sapi pengganti.

Susu segar itu nantinya akan diolah oleh pabrik susu TAA.

Ketika acara tanya jawab yang dinanti-nanti mulai berjalan, seorang petani mengatakan kepada Presiden Soeharto bahwa sebelum adanya PIR Persusuan Mantrusi ini pendapatan mereka tidak menentu. Hal itu terjadi karena tidak begitu baiknya mutu sapi maupun akibat terbatasnya jumlah ternak yang mereka miliki.

Jakarta, MERDEKA

Sumber : MERDEKA (15/02/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 265-266.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.