PRESIDEN: PESAN NATAL BUKAN KEBENCIAN, TAPI KASIH SAYANG

PRESIDEN: PESAN NATAL BUKAN KEBENCIAN, TAPI KASIH SAYANG

 

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan, kehadiran Yesus Kristus dalam peristiwa Natal sekaligus membawakan kabar gembira yang selalu dicitakan oleh setiap manusia “Damai di dunia bagi mereka yang berkehendak baik”

“Siapakah di dunia ini tidak mendambakan perdamaian, damai antar bangsa, damai dalam pergaulan masyarakat, damai dalam keluarga dan damai dalam lubuk hati sanubari setiap insan,” kata Kepala Negara pada peringatan Natal bersama Pegawai Republik Indonesia di Balai Sidang Jakarta Jum’at malam.

Presiden mengatakan, karena itu di tengah-tengah berbagai bentuk perayaan dan upacara Natal, timbul pertanyaan kita yang mendasar Pertanyaan itu ialah, adakah pesan yang dapat ditarik dari Perayaan Natal ini bagi kita semua sebagai bangsa yang dewasa ini sedang membangun diri secara jasmani dan rohani untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan lebih baik?

“Jawabannya adalah, adanya panggilan luhur yang mengajak kita mewujudkan pesan Natal menjadi kenyataan, dengan membuat kehadiran kita masing-masing benar-benar menumbuhkan kedamaian yang sejati bagi masyarakat. Bukan permusuhan yang kita sebarkan, tetapi kerukunan bangsa Bukan pertengkaran kita tumbuhkan, melainkan dialog dan kesepakatan Bukan konflik hati nurani, melainkan ketenangan batin Bukan kebencian, melainkan kasih sayang terhadap bangsa dan sesama manusia” Itulah pesan Natal kehadiran yang membawa damai.

Namun demikian, Presiden kita menyadari bahwa kedamaian tidaklah diperoleh tanpa usaha manusia Nyanyian yang berkali-kali terdengar dalam masa Natal, mengumandangkan “perdamaian di dunia bagi manusia yang berkehendak baik” Ini berarti harus ada prakarsa dari manusia yaitu suatu niat dan usaha untuk mencapai perdamaian itu dengan segala kemampuannya Iman kita harus diikuti dengan didasari oleh iman.

 

Semangat

Presiden mengingatkan, kita hidup bermasyarakat dan membangun bangsa dalam negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila Pancasila keagamaan kita harus mampu menggugah semangat dan membuka kedalaman bagi penghidupan bermasyarakat , berbangsa dan bemegara Diingatkan oleh peristiwa Natal, kita harus lebih menyadari

betapa pentingnya Sila Keadilan Sosial bagi kelompok masyarakat yang masih serba kekurangan. Dan betapa mendesaknya kita harus berbuat sesuatu yang nyata agar mereka ikut merasakan hidup damai dan bahagia melalui perbaikan nasib.

Kesetiakawanan sosial, menurut Presiden, harus diikuti dengan perbuatan yang mencerminkan keadilan dan kemanusiaan. Bukan sekedar dengan membagi-bagikan pakaian dan makanan bagi mereka. Itu tidak akan pernah cukup. Harus ada perbaikan dalam kehidupan kita bersama, agar mereka mendapatkan kesempatan yang luas untuk maju dan meningkatkan taraf hidup mereka. Niat kuat untuk mewujudkannya harus diimbangi dengan kesediaan berkorban. Yesus telah memberikan pengorbanan itu, sejak lahir sampai saat kematiannya.

 

Tema

Sementara itu, Ketua Umum Peringatan Natal Bersama Pegawai Republik Indonesia, Dr J Soedradjat Djiwandono mengatakan, tema peringatan Natal ini tersebut adalah. “Ia tinggal diantara kita”. Sub temanya, “Dengan semangat Natal kita tingkatkan pengabdian pada masyarakat bangsa dan negara”.

Peringatan Natal Bersama tersebut selain dihadiri oleh Presiden beserta lbu Tien Soeharto dan Wakil Presiden bersama lbu Sudharmono, juga para Menteri Kabinet Pembangunan serta perwakilan negara sahabat.

Dalam acara ini ditampillkan antara lain, paduan suara Narasi Natal yang disampaikan Pdt. Christ Tarigan, Sth, dan sendratari yang mengisahkan kelahiran Yesus Kristus.

 

 

Sumber : SUARA PEMBARUAN(30/12/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 590-591.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.