PRESIDEN : PERUBAHAN YANG KITA PERLUKAN BUKAN ASAL PERUBAHAN

PRESIDEN : PERUBAHAN YANG KITA PERLUKAN BUKAN ASAL PERUBAHAN[1]

 

Jakarta, Media Indonesia

Presiden Soeharto menegaskan bahwa pembangunan merupakan proses perubahan menuju kemajuan. Pembangunan tanpa perubahan adalah suatu hal yang mustahil.

“Namun perubahan yang diperlukan bukan perubahan asal perubahan, tapi perubahan yang memperkukuh dasar-dasar negara dan menjamin tercapainya tujuan­tujuan nasional.” tegas Kepala Negara saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Departemen Penerangan di Istana Negara, Kamis kemarin.

Karena itu, lanjut Presiden Soeharto, wawasan, kebijakan dan strategi yang akan diputuskan oleh wakil-wakil rakyat hasil Pemilu 1997, harus tetap berada dalam arus besar sejarah untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Itulah tugas berat dan mulia yang harus diemban oleh wakil-wakil rakyat mendatang.

“Kita harus mampu mengatasi tantangan yang menghadang dan harus dapat memanfaatkan peluang setepat-tepatnya. Karena itu, wakil-wakil rakyat dalam MPR nanti harus benar-benar dapat mencerminkan aspirasi pemilihnya.” kata Kepala Negara.

Presiden juga menguraikan bahwa pemilu bukanlah sekadar kegiatan berkala dalam kehidupan demokrasi. Tetapi pemilu merupakan kegiatan untuk memilih wakil­wakil rakyat. Melalui wakil-wakil itu, rakyat sebagai pemegang kedaulatan negara akan memperbarui wawasan, kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan bersama dalam menghadapi dinamika kehidupan.

“Karena itu, semua rakyat yang mempunyaihak pilih hendaknya memanfaatkan haknya itu dengan sebaik-baiknya. Pemilu ini tidak lain merupakan wujud paling nyata dari demokrasi.” katanya.

Pak Harto menambahkan, agar rakyat dapat menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya dan setenang-tenangnya, maka peranan penerangan sangat besar. Untuk itu, kebijakan umum penerangan Pemilu 1997 agar diarahkan untuk mempertebal kesadaran masyarakat tentang kehidupan demokrasi yang sehat dan bertanggung jawab berdasarkan Pancasila meningkatkan kesadaran rakyat akan hak­ haknya dan mendorong rakyat agar ikut bertanggungjawab  atas kelancaran dan ketertiban pemilu.

“Bersamaan dengan itu, rakyat perlu dibangkitkan kesadarannya untuk ikut memelihara stabilitas yang mantap, baik pada masa kampanye ; pemungutan suara, penghitungan suara, maupun saat menjelang dan sesudah Sidang Umum MPR nanti.” kata Presiden.

Rakemas ini akan berlangsung di Jakarta sampai 29 Juni. Diikuti 467 prajurit Penerangan yang terdiri dari pimpinan Urut-unit Kerja Deppen seluruh Indonesia. Raker ini menitik beratkan pada peningkatan operasional penerangan menghadapi Pemilu 1997.

Sumber : MEDIA INDONESIA (28/06/1996)

___________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 128-129.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.