PRESIDEN: PERSAINGAN BISNIS PERBANKAN JANGAN MATIKAN YANG KECIL

PRESIDEN: PERSAINGAN BISNIS PERBANKAN JANGAN MATIKAN YANG KECIL

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto berpesan kepada bank-bank nasional swasta agar menjalin kerjasama sebaik-baiknya dengan sektor pemerintah dan koperasi serta menekankan supaya persaingan diantara mereka berjalan secara sehat dan tidak mematikan yang kecil.

Pesan dan penegasan Kepala Negara itu disampaikan kepada pengurus pusat Perhimpunan Bank-bank Nasional Swasta (Perbanas) dipimpin ketua umumnya yang baru, Drs. Abdulgani, yang melaporkan hasil-hasil kongres organisasi tersebut, di Bina Graha Jakarta, Kamis siang.

Abdulgani menjelaskan kepada wartawan, dalam pertemuan setengah jam itu Presiden mengatakan agar persaingan dalam bisnis perbankan justru mendorong kemajuan semua pihak, bukan saling mematikan.

Presiden juga menganjurkan bank-bank swasta memanfaatkan semua peluang yang diberikan dalam Paket Kebijaksanaan 27 Oktober (Pakto 27). Dalam paket tersebut terkandung unsur pemerataan,terutama dalam alokasi kredit untuk menunjang kegiatan ekonorni di masyarakat.

Bank swasta nasional juga dianjurkan memilih dan membiayai proyek-proyek atau usaha yang feasible, supaya bank-bank tersebut tetap berjalan sehat.

Dalam kaitan dengan kegiatan bank perkreditan rakyat (BPR),Presiden berpesan agar kegiatan tersebut benar-benar menghidupkan kegiatan ekonomi di tingkat kecamatan atau desa, sekaligus melengkapi fasilitas dana yang ada.

“Namun harus diingat kegiatan BPR tidak boleh mengurangi peranan kegiatan simpan-pinjam yang sudah dilakukan koperasi unit desa (KUD) maupun lumbung­lumbung keuangan desa,” tegas Kepala Negara.

Ditanya upaya menghindari persaingan tak sehat dalam dunia perbankan, pengurus Perbanas menunjuk pengaturan pemerintah tentang wilayah operasi bank­bank, yaitu bank asing hanya boleh beroperasi di tujuh kota besar, bank swasta nasional hanya boleh sampai tingkat kota kabupaten, BPR di tingkat kecamatan dan simpan-pinjam KUD di tingkat desa. Persaingan Lebih Ketat

Abdulgani mengatakan, Pakto 27 memberikan peluang dan cakrawala lebih luas bagi bank nasional swasta berupa kesempatan besar untuk mengembangkan diri serta memobilisasi dana masyarakat.

Namun, kata Dirut Bank Duta itu, paket tersebut juga mencerminkan perlakuan sama terhadap semua bank di Indonesia sehingga dapat menimbulkan persaingan lebih ketat dalam bisnis perbankan.

“Ini akan mendorong kami meningkatkan efisiensi, efektivitas dan profesionalisme,” ujarnya.

Perbanas beranggotakan sekitar 60 bank nasional swasta yang memiliki 342 kantor cabang. Pangsa pasar bank-bank swasta nasional itu sekitar 20 persen dari seluruh pasaran perbankan di Indonesia. Bank pemerintah memegang 73 persen dan bank asing tujuh persen.

Neraca aktiva total semua bank swasta itu pada 30 Juni 1988 tercatat Rp13,5 triliun.

 

 

Sumber : ANTARA (24/11/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 388-389.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.