PRESIDEN: PERLU DIRINTIS DANA ABADI DARI ANGGOTA HAJI

PRESIDEN: PERLU DIRINTIS DANA ABADI DARI ANGGOTA HAJI[1]

 

 

Solo, Antara

Presiden Soeharto meminta kepada Menteri Agama Dr. H. Tarmizi Taber agar melalui lembaga persaudaraan haji dapat dihimpun dana abadi yang bisa dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan.

“Bentuk himpunan dana abadi yang dimaksud adalah melalui iuran dari calon jamaah dengan jumlah tertentu, atau dengan memanfaatkan dana para calon haji yang sudah disetorkan ke bank” kata Kepala Negara ketika bertatap muka dengan para Calon jamaah haji asal Jateng usai meresmikan asrama haji Donohudan di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jumat.

Presiden Soeharto dalam kesempatan tersebut menyatakan optimis bahwa rintisan pengumpulan dana abadi yang berasal dari para calon haji akan berhasil dengan memuaskan, berdasarkan pengalaman yang pernah dirintis yaitu dikembangkannya Yayasan Supersemar untuk membantu beasiswa bagi siswa berprestasi sejak 22 tahun lalu.

Presiden mengemukakan, apabila pada awalnya yakni 22 tahun lalu dana yang dihimpun Yayasan Supersemar baru Rp 30 juta, kini dana tersebut setelah disimpan di bank nilainya meningkat menjadi Rp 600 miliar.

Untuk itu, Presiden Soeharto meminta kepada Menteri Agama agar mulai 1997 bisa dirintis penghimpunan dana dari para calon jamaah haji.

Pola yang diterapkan menurut Kepala Negara adalah ongkos naik haji dari para calon haji yang sudah disetorkan ke bank enam bulan sebelum pemberangkatan, bunganya bisa dimanfaatkan untuk dana abadi.

Rintisan pengumpulan dana abadi dari para calon haji optimis terwujud dan dari jumlah calon jamaah haji Indonesia tahun 1997 diperkirakan akan terkumpul dana sekitar Rp 75 miliar sampai Rp100 miliar.

“Apabila dana abadi bisa terwujud tahun ini diharapkan bisa dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan antara lain disalurkan untuk kredit sehingga meningkatkan kesejahteraan umat.” tegas Presiden.

Sementara itu, pola satunya lagi yang rintisannya bisa dilakukan oleh organisasi persaudaraan haji, dana yang akan terkumpul nantinya juga diharapkan bisa untuk mengentaskan kemiskinan bagi penduduk yang bertempat tinggal di desa Inpres Desa Tertinggal (IDT).

Menanggapi dibatasinya calon jamaah haji asal Indonesia oleh Pemerintah Arab Saudi, ia menyatakan bahwa umat Islam Indonesia perlu menyadari karena kapasitas penampungannya terbatas, khususnya pada waktu jamaah haji melakukan ibadah wukuf di Arafah.

“Justru dengan dibatasinya jumlah calon jamaah haji itu, para jamaah bisa melakukan ibadah dengan khusuk dan adanya pembatasan tersebut tidak ada keterkaitannya dengan masalah politik.” demikian Kepala Negara.

(U-SMR-002/SMR-005/SMR-001/B/SBY-002/28/02/97 14:23/RE3)

Sumber: ANTARA (28/02/1997)

______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 516-517.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.