PRESIDEN: PENYIMPANGAN BIOTEKNOLOGI TIMBULKAN PETAKA

PRESIDEN: PENYIMPANGAN BIOTEKNOLOGI TIMBULKAN PETAKA[1]

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan bioteknologi memang sangat penting bagi masyarakat, tapi akan menjadi malapetaka jika terjadi penyimpangan dalam penggunaannya.

Ketika membuka Konferensi Bioteknologi Indonesia di Istana Negara, Selasa, Presiden menyebutkan bioteknologi menjanjikan pemecahan masalah yang dihadapi manusia, seperti penyakit genetik, polusi lingkungan, musnahnya keanekaragaman hayati, kekurangan pangan serta krisis energi.

“Namun sebaliknya, apabila pemanfaatannya sampai menyimpang, maka bioteknologi juga dapat mendatangkan malapetaka yang tidak terhingga bagi kehidupan umat manusia dan kemanusiaan,” demikian peringatan Presiden.

Kepala Negara yang didampingi Menteri Pertanian Syarifuddin Baharsyah menyebutkan sejarah telah memperlihatkan bahwa manusia telah mengalami lompatan­-lompatan kemajuan yang sangat mengagumkan dengan memanfaatkan Iptek.

“Dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka apa yang dahulu dianggap mustahil, sekarang telah menjadi kenyataan. Apa yang sekarang kita anggap mustahil, bukan tidak mungkin dalam abad mendatang muncul menjadi kenyataan,” kata Presiden.

Karena itulah, negara-negara berkembang termasuk Indonesia menganggap penting tentang perlu dikuasainya Iptek. Melalui Iptek, bangsa yang sedang membangun dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya.

“Namun, dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai saat ini, dengan rasa prihatin kita menyaksikan jurang pemisah yang sangat besar antara negara industri maju dengan negara-negara yang sedang membangun,” kata Presiden.

Jika jurang pemisah ini tidak segera diatasi, maka umat manusia akan terus berada dalam suasana ketidakadilan dan juga tidak akan pernah terjadi ketenteraman.

Negara-negara berkembang memang telah dan akan terus berusaha mengatasi kesenjangan di bidang Iptek itu, baik melalui wadah PBB, forum Internasional maupun regional.

“Namun, pengalaman menunjukkan bahwa semuanya itu saja tidak pernah akan cukup. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pertama-tama harus menjadi kesadaran dan tanggung jawab masing-masing,” kata Presiden.

Dalam acara yang dihadiri pula Menhut Djamaluddin Soeryohadikoesoemo, Kepala Negara menyebutkan betapa besarnya potensi bisnis akibat pesatnya perkembangan rekayasa genetika.

“Pasar produk-produk bioteknologi yang dewasa ini diperkirakan mencapai sekitar 70 miliar dolar Amerika setahun mempunyai potensi untuk mencapai 100 miliar dolar sebelum akhir abad mendatang ini,” kata Presiden.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana Dr. Asril Darussamin melaporkan, kongres yang berlangsung hingga 19 Juni di Balai Sidang Jakarta tersebut diikuti 600 pakar dalam negeri dan 70 peserta dari 23 negara.

Asril Darussamin melaporkan kongres ini diselenggarakan Konsorsium Bioteknologi Indonesia yang didirikan tahun 1992 oleh IPB, ITB serta UGM.

Tujuan pertemuan ilmiah tiga hari ini adalah memberikan kesempatan kepada para pakar untuk melakukan pertukaran informasi ilmiah khususnya di bidang bioteknologi.

(T/Eu01/RS01117/06/9713:59/RB1)

Sumber: ANTARA(01/07/1997)

___________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 737-738.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.