PRESIDEN: PENGUSAHA BESAR TAK AKAN KUASAI EKONOMI NASIONAL

PRESIDEN: PENGUSAHA BESAR TAK AKAN KUASAI EKONOMI NASIONAL[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto kernbali menegaskan bahwa tidak ada satu pengusaha besar pun yang akan menguasai perekonomian nasional, karena pemerintah akan tetap mengawasi dan mengendalikan ekonomi nasional.

Penegasan kernbali itu disampaikan Kepala Negara di Bina Graha, Rabu ketika menerima para anggota Badan Pengurus Pusat Hipmi, kata Ketua Umum Hipmi Adi Putra Tahir kepada pers seusai pertemuan itu.

Ketika mengutip ucapan Kepala Negara, Adi menyebutkan, penguasaan ekonomi nasional itu dilakukan pemerintah dengan mengeluarkan berbagai peraturan yang sifatnya mengawasi.

“Pengusaha besar tidak mungkin akan menguasai ekonomi nasional, karena pemerintah akan melakukan pembatasan,” kata Adi mengutip ucapan Presiden.

Sementara itu setelah mendengar laporan pengurus Hipmi tentang kemitraan anggotanya dengan beberapa pengusaha besar, Kepala Negara mengingatkan bahwa anggota Hipmi jangan hanya mengejar keuntungan materi.

“Pengalaman pengusaha besar yang pada awalnya tidak memiliki apa-apa juga harus dijadikan pelajaran dan pengalaman,” kata Ketua Umum Hipmi mengutip pernyataan Presiden.

Ia mengatakan, beberapa perjanjian diantara Hipmi dengan pengusaha besar ada yang terhambat pelaksanaannya, namun dalam waktu dekat akan dilaksanakan antara lain pembangunan pabrik obat nyamuk di Medan.

Hipmi kini beranggotakan 8.000 pengusaha yang sebagian besar adalah termasuk kelompok usahawan kecil dan menengah .Sebagian besar anggota Hipmi merupakan kontraktor dan mengandalkan diri pada proyek pemerintah. Untuk mengurangi ketergantungan dari dana APBN dan APBD maka pengurus Hipmi akan mengusahakan penganekaragaman atau mengalihkan kegiatan para kontraktor kecil dan menengah ini, kata Adi. (T. EU02/EU05/15/09/93 13:50)

Sumber: ANTARA (15/09/1993)

__________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 597-598

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.