PRESIDEN PENATARAN P4 JANGKAU PEDESAAN

PRESIDEN PENATARAN P4 JANGKAU PEDESAAN

 

 

Presiden Soeharto berharap, ada peningkatan penataran P-4 dengan metode baru yang sesuai dan lebih efektif, agar mampu menjangkau sebagian besar rakyat yang tinggal di pedesaan.

Dengan demikian, pelaksanaan pembangunan menjadi makin luas dan meningkat, yang dilaksanakan dengan prakarsa dan partisipasi dari bawah, demikian petunjuk Presiden Soeharto seperti disampaikan Kepala BP-7 Pusat Oetojo Oesman saat membuka penataran P-4 tingkat nasional di Jakarta Senin.

Penataran angkatan ke-74 itu diikuti 177 peserta dan berlangsung selama dua pekan. Menurut Oesman, pemasyarakatan P-4 pada tingkat pedesaan itu bermaksud agar setiap warga negara lebih mampu melaksanakan kewajiban dan menggunakan hak-haknya secara lebih baik dan penuh tanggungjawab.

Oetojo Oesman juga mengatakan bahwa sesuai petunjuk Presiden dengan tetap mengindahkan Tap MPR, maka penataran P-4 pada masa mendatang akan mempersiapkan pengintegrasian bahan penataran P-4 dengan bahan yang berkaitan dengan penataran kewaspadaan nasional.

Pengintegrasian itu, menurut dia, diharapkan dapat meningkatkan daya guna serta motivasi pengamalan Pancasila,

“karena kita perlu menunjukkan bagaimana bentuk bahaya dan datangnya bahaya serta cara menangkalnya secara obyektif praktis.”

Dikatakannya, pemahaman Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara, bersama dengan pemantapan pengetahuan tentang kewaspadaan nasional akan merupakan pemingkal tangguh serta penapis atau filter yang ampuh terhadap nilai-nilai ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Menurut Oesman, yang menjabat Kepala BP-7 Pusat sejak 30 Oktober lalu, meski demokrasi Pancasila telah terlaksana dengan baik, “kita tidak boleh lupa dan lengah bahwa ancaman ideologi besar lainnya di dunia ini masih ada dan berkembang walaupun tidaklagi dalam bentuk klasik.” (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (09/11/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 294-295.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.