PRESIDEN: PENANGGULANGAN PENYALAHGUNAAN MADAT BELUM SUSUT

PRESIDEN: PENANGGULANGAN PENYALAHGUNAAN MADAT BELUM SUSUT[1]

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menyampaikan rasa prihatinnya karena banyak remaja yang kecanduan madat walaupun pemerintah telah berusaha mencegah penyalahgunaan obat-obatan terlarang itu.

“Tidak diragukan lagi bahwa penyalahgunaan madat dapat mengancam kelangsungan hidup bangsa-bangsa dan umat manusia serta kebudayaannya.” kata Presiden dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Mensas Inten Suweno di Jakarta, Kamis.

Ketika berbicara tentang Resolusi PBB yang menetapkan tanggal 26 Juni sebagai Hari Anti Madat Sedunia, Kepala Negara mengemukakan salah satu ancaman yang sedang dihadapi masyarakat adalah penyalahgunaan madat.

“Kita semua prihatin melihat dewasa ini banyak kaum muda, khususnya anak-anak remaja yang kecanduan madat. Kita melihat betapa buruk akibat yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan madat.” kata Kepala Negara.

Pemerintah telah menempuh berbagai langkah untuk menekan angka penyalahgunaan madat, namun pada kenyataannya justru penyalahgunaan itu tidak menyusut.

“Lebih-lebih, karena produksi madat juga mengalami perkembangan yang makin memprihatinkan. Di samping jenis-jenis madat yang berasal dari tumbuhan, kini kita kenai pula berbagai jenis madat yang dihasilkan melalui proses kimia.” demikian keprihatinan Kepala Negara.

Kepada masyarakat diingatkan bahwa jika penyalahgunaan madat itu tidak segera ditangani maka bukanlah mustahil di masa mendatang, akan muncul jenis madat yang baru.

“Boleh dikatakan, tidak ada satu bangsa pun yang dewasa ini terbebas dari penyalahgunaan obat berbahaya ini. Sindikat pengedar gelap madat berkembang, dan bergerak makin rapi. Mereka bergerak hampir di semua bidang kehidupan masyarakat. Walau tidak sedikit pengedar zat berbahaya ini yang tertangkap dan dijatuhi hukuman berat, kegiatan ini tidak mereda.” kata Presiden dengan prihatin.

Menurut Kepala Negara,sasaran utama para pengedar madat itu adalah generasi muda yang umumnya bersikap dinamis,energik dan cenderung menempuh hidup yang berisiko. Sikap inilah yang dimanfaatkan para pengedar madat itu.

“Pemerintah sangat memperhatikan masalah penyalahgunaan madat ini. Kita telah menandatangani Konvensi PBB tentang Pemberantasan Peredaran Gelap narkotika dan Psikotropika. Kita telah memiliki beragam peraturan-perundangan, misalnya UU tentang Narkotika dan UU tentang Psikotropika.” kata Presiden.

Sekalipun pemerintah telah memiliki berbagai peraturan, Presiden mengharapkan seluruh kalangan masyarakat ikut memberantas penyalahgunaan narkotika itu.

Pidato Kepala Negara ini juga disampaikan dalam rangka HUT Badan Kerja Sama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama (Bersama), sebuah LSM yang mengkoordinasikan usaha masyarakat memberantas penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang lainnya yang ke-19.

Sementara itu, Sekjen PBB Kofi Annan dalam sambutan tertulisnya juga menyampaikan keprihatinan tentang tidak adanya satu wilayah pun di dunia ini yang tidak tersentuh bencana penyalahgunaan narkotika.

“Sungguh, penyalahgunaan narkotika merupakan masalah yang sedang membesar di hampir semua negara.” Kata Annan.

(T.EU01/RS01/17: 18/RU2)

Sumber: ANTARA (26/06/1997)

_________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 491-492.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.