PRESIDEN: PEMUDA TIDAK HANYA OBJEK TAPI JUGA PELAKU DAN PENGGERAK PEMBANGUNAN

PRESIDEN: PEMUDA TIDAK HANYA OBJEK TAPI JUGA PELAKU DAN PENGGERAK PEMBANGUNAN

Bangsa lndonesia yang kini sedang membangun memandang pemuda tidak hanya sebagai obyek atau sasaran pembangunan, tapi juga sebagai pelaku dan penggerak pembangunan.

Presiden Soeharto dalam pidatonya ketika meresmikan pembukaan symposium penulisan sejarah pergerakan pemuda di Indonesia Kamis di Bina Graha, Jakarta menyatakan bahwa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bertekad untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi kokoh kuat harus memahami sejarahnya sendiri.

"Malahan kita harus memiliki kesadaran sejarah," kata Presiden Soeharto menambahkan.

Dengan meneliti kembali perjalanan sejarah, Presiden mengemukakan pula kesimpulan dan penilaiannya betapa konsisten dan bersambungnya pikiran-pikiran dan gerakan pemuda dalam sejarah perjuangan bangsa.

Presiden menyatakan bahwa simposium penulisan sejarah pergerakan pemuda di Indonesia sangat penting, karena dalamrangka penyelenggaraan symposium ini akan diteliti dan dibulatkan pandangan mengenai peranan pemuda dalam sejarah pergerakan bangsa di masa lampau dan mencoba untuk melihat perspektif peranan pemuda dalam perkembangan bangsa di masa mendatang.

Jika sekarang ini bangsa Indonesia memusatkan segala kekuatan dan perhatian pada pelaksanaan pembangunan lahir dan batin, maka tujuannya tidak lain adalah untuk memberi isi kepada kemerdekaan nasional yang telah ditegakkan dengan segala pengorbanan di tahun 1945.

Pemberian isi kepada kemerdekaan nasional itu dilakukan dengan berusaha mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang­Undang Dasar 1945.

Jika bangsa lndonesia menganggap bahwa Proklamasi Kemerdekaan merupakan salah satu puncak hasil perjuangan, maka disadari bahwa bangsa Indonesia sebelum itu telah berjuang selama 350 tahun untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

Karena itu, kata Presiden, bangsa Indonesia tidak sedikit memiliki pahlawan -pahlawan nasional yang tersebar dari ujung ke ujung wilayah Indonesia yang perjuangannya melawan penjajahan sambung menyambung dari kurun waktu yang satu ke kurun waktu yang lain.

Kenyataan ini memberikan kesadaran sejarah pada bangsa Indonesia bahwa perjuangan untuk kembali hidup terhormat sebagai bangsa merdeka sama sekali bukan perjuangan ringan.

"Ini juga menyadarkan kita bahwa kemerdekaan nasional dan persatuan bangsa harus benar-benar dijaga bersama-sama," kata Presiden.

Sejarah Kaum Muda

Dalam sejarah modern pergerakan kebangsaan dalam arti perjuangan yang menggunakan asas-asas organisasi modern, Presiden menunjukkan dengan jelas betapa pentingnya peranan kaum muda.

Presiden menguraikan, tahun 1908 Budi Utomo dilahirkan oleh pikiran-pikiran dan keputusan kaum muda.

Tahun bersejarah itu dilihat sebagai awal bangkitnya kesadaran nasional. Melalui Budi Utomo, ditumbuhkan kesadaran akan perlunya peningkatan pendidikan bangsa Indonesia sebagai prasyarat untuk hidup terhormat.

Kenyataan ini, kata Presiden, jelas menunjukkan betapa kaum muda selalu peka dan memikirkan nasib bangsanya,

Kepeloporan kaum muda jelas ditampilkan kembali pada tahun 1928 dengan lahirnya "Sumpah Pemuda". Kaum mudalah yang menyuarakan satu bangsa, satu bahasa dah satu tanah air, Indonesia.

Presiden menilai bahwa dikeluarkannya sumpah pemuda itu merupakan satu keputusan sejarah yang berani dan tepat. Berani karena waktu itu kekuasaan penjajah dengan bengis menindas segala pikiran dan usaha menuju kemerdekaan nasional.

Merupakan keputusan yang tepat sebab sejak itu mulai tertanam jiwa baru bangsa Indonesia, yang kemudian hari mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam tingkat perjuangan selanjutnya.

Tidak dapat dibayangkan keadaannya sekarang ini, kata Presiden, jika sekiranya bangsa Indonesia yang mendiami wilayah kepulauan yang sedemikian luas tidak memiliki bahasa nasional, yang sekaligus menjadi bahasa persatuan.

Sejarah barang kali masih memerlukan kejelasan mengenai peranan pemuda dalam saat-saat yang paling menentukan dalam proklamasi kemerdekaan tahun 1945 itu.

Namun bagaimanapun juga, kata Presiden, kedua Proklamator Kemerdekaan RI itu berusia muda pada saat mengumandangkan keputusan paling bersejarah bagi lahirnya suatu bangsa yang merdeka.

Para pemimpin politik dan militer, negarawan dan pemimpin bangsa ini pada waktu itu umumnya berusia muda, setidak-tidaknya jika dibanding dengan ukuran-ukuran masa kini.

Para mahasiswa, pelajar dan pemuda umumnya secara spontan dan serentak membentuk basis-basis perjuangan tentara pelajar dan sebagainya dan berjuang di garis depan melawan pasukan penjajah yang ingin merenggut kembali kemerdekaan Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Bangkitnya Orde Baru di tahun 1966 juga mencatat peranan yang besar dari kaum muda dalam usaha bersama kembali berjalan lurus pada garis perjuangan yang ditunjukkan Pancasila dan UUD 1945.

Titik berat perjuangan pemuda di suatu kurun waktu dapat berbeda dengan kurun waktu yang lain, Namun yang jelas, kata Presiden, kaum muda telah memberikan jawaban yang paling tepat terhadap tantangan perjuangan dalam setiap kurun waktu itu.

Demikian besar peranan kaum muda dalam memberi arah pada perkembangan dan pertumbuhan bangsa, sehingga Presiden berkesimpulan, simposium penulisan sejarah pergerakan pemuda di Indonesia tepat untuk dapat mengetahui dan mempelajari sejarah dan peranan pemuda itu.

Kegunaan Sifat Pemuda bagi Pembangunan

Presiden menunjukkan salah satu bukti bahwa pemuda tidak hanya sebagai obyek melainkan pelaku dan penggerak pembangunan dengan menunjuk pada pemerataan kesempatan berpartisipasi bagi generasi muda dalam pembangunan, merupakan salah satu dari delapan jalur pemerataan yang dilaksanakan dalam Repelita Ill ini.

Pembangunan memerlukan dinamika yang terus menerus, kepeloporan dan kesegaran. Sifa-sifat pemuda, kata Presiden, dapat menjadi penggerak dinamika, kepeloporan dankesegaran pembangunan.

Namun perlu disadari adanya perbedaan dasar antara-watak peranan pemuda dalam perjuangan merintis dan menegakkan kemerdekaan dahulu dengan perjuangan memberi isi kepada kemerdekaan sekarang dan di masa mendatang.

Dahulu pemuda harus meruntuhkan sistern lama dan melumpuhkan kekuasaan penjajah, tertembak musuh dan membumi-hanguskan segala-galanya jika musuh menduduki wilayahnya.

Dahulu gerak menghancurkan itulah yang menonjol. Sekarang dalam zaman pembangunan harus dibina secara tertib perumahan bangsa dan negara, harus membangun segala segi kehidupan bangsa.

Pembangunan bangsa menonjolkan kegiatan-kegiatan yang produktif dan konstruktif, bukan yang destruktif, kata Presiden.

Jika pemuda dapat berperan lebih besar dalam gerak pembangunan sekarang, maka sesungguhnya pemuda melanjutkan tugas sejarahnya di masa lampau.

Jika pemuda di tahun 1908 mampu membangkitkan kesadaran nasional, tahun 1928 menaburkan benih-benih persatuan Indonesia dan di tahun 1945 menanamkan jiwa merdeka serta jiwa pejuang menentang penjajahan, maka sekarang dan di masa mendatang pemuda diharapkan menjadi tenaga-tenaga terpercaya untuk membangun bangsa.

Oleh karena itu, Presiden menyatakan harapan kepada para ahli dan pelaku sejarah dari berbagai generasi dan kurun waktu yang juga menjadi peserta simposium agar memperjelas dan memberi arti yang lebih tepat terhadap Sejarah pemuda di Indonesia.

Simposium penulisan sejarah pergerakan pemuda di Indonesia ini diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Sumpah Pemuda; (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (24/10/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 640-643.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.