PRESIDEN: PEMDA PERLU ATUR TATA RUANG TANAH

PRESIDEN: PEMDA PERLU ATUR TATA RUANG TANAH

 

 

Indragiri Hilir, Riau, Bisnis Indonesia

usaha pengembangan gambut mendapat perhatian besar dari Presiden Soeharto ketika ia kemarin meresmikan 131 industri pengolahan pangan yang acaranya dipusatkan di sini.

Ia bahkan meminta Pemda yang wilayahnya memiliki laban gambut cukup luas untuk mengatur tata-ruang tanahnya dalam upaya pemanfaatannya. “Jika tanah gambut itu dapat dikembangkan maka manfaatnya kelak akan dirasakan dengan memiliki industri pengolahan hasil pertanian yang sangat besar.”

Lahan gambut yang umumnya tidak produktif, kata Presiden, bisa diubah menjadi produktif lewat pendekatan teknologi yang sederhana. Air gambut dapat diolah menjadi air bersih dalam jumlah besar yang bisa dipergunakan untuk keperluan industri dan air minum, katanya.

Salah satu pabrik yang kemarin diresmikan adalah pengolahan kelapa, yang bahannya dipetik dari laban bergambut. Ke-131 pabrik yang diresmikan itu menghabiskan investasi Rp 297 milyar lebih dan US$4.185 juta dari dua perusahaan PMA. Status perusahaan tersebut sangat beragam karena ada 97 perusahaan yang non-PMA/PMDN.

Pabrik yang diresmikan Presiden itu tersebar di 17 daerah, yaitu Aceh·(6), Sumut (13). Riau, Bengkulu, Sulsel dan Kaltim masing­masing dua perusahaan. Selain itu di Sumsel (4), Lampung (7), Jakarta (15), Jabar (18), Jateng (13), Jatim (31), Bali (10), Sulut (3), Kalbar, Sulteng dan Irja dengan masing-masing satu perusahaan.

Presiden menekankan perlunya para pengusaha memanfaatkan lahan bergambut itu, tentu saja dengan memperhatikan hasil penelitian yang ada. Kita perlu terus melakukan penelitian agar laban gambut dapat dimanfaatkan bagi jenis tanaman lainnya, seperti kedelai, tebu dan sebagainya.

Minat asing dalam pengembangan laban gambut di Indonesia diketahui cukup besar. Bahkan dikabarkan Soviet bekerja sama dengan sebuah perusahaan swasta akan mencoba memanfaatkannya, terutama untuk kebutuhan energi.

Selain itu. PT Indah Kiat Pulp & Paper juga bermaksud menggunakan gambut sebagai sumber energi dalam pengembangan industri pulpnya di Perawang, Riau.

Pengembangan air gambut sebagai sumber air minum, tampaknya akan bermanfaat pula bagi rencana pemerintah untuk memasok kebutuhan air dari Riau ke Singapura.

Rencana itu sudah dibicarakan oleh Menko Ekuin Radius Prawiro kepada para pejabat Singapura yang berkunjung ke Pulau Bintan bulan lalu.

 

 

Sumber : Bisnis Indonesia (05/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 617-619.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.