PRESIDEN : PEMBANGUNAN PLTN JELAS PERLUKAN PMA

PRESIDEN : PEMBANGUNAN PLTN JELAS PERLUKAN PMA[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengatakan bahwa Indonesia masih mempertimbangkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berkapasitas 1.800 MW dan jika reaktor itu jadi dibangun maka pasti diperlukan Penanaman Modal Asing.

“Semua sistem pembangkit listrik ada resikonya masing-masing, termasuk pemanfaatan PLTN yang sedang dipertimbangkan bangsa Indonesia.” kata Mensesneg Moerdiono kepada pers di Istana Merdeka, Rabu, ketika menjelaskan hasil pembicaraan Presiden Soeharto dengan PM Kanada Jean Chretien.

Indonesia mempertimbangkan pembangunan PLTN berkapasitas 1.800 MW itu menjadi proyek yang berkekuatan 2 X 900 MW atau 3 X 600 MW.

Indonesia mempertimbangkan pembangunan PLTN sebagai alternative terakhir sumber energi listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat sebagai akibat meningkatnya perekonomian nasional.

Moerdiono mengemukakan bahwa dalam pertemuan itu Chretien menawarkan kemampuan di bidang angkutan kereta api untuk daerah perkotaan.

Ketika mananggapi tawaran itu, Kepala Negara mengatakan bahwa Indonesia akan mempelajari tawaran itu dengan sungguh-sungguh.

Selain menawarkan kemampuannya bagi pembangunan PLTN dan kereta api, Kanada juga membuka peluang bagi ketjasama bidang telkom.

Setelah mengadakan pembicaraan empat mata, kedua pemimpin itu mengadakan pertemuan yang didampingi para menteri dan sejumlah pejabat senior.

Kedua pemimpin kemudian menyaksikan penandatanganan kerja sama bidang ekonomi dan perdagangan yang dilakukan Menlu ad interim Soesilo Soedarman dan Menteri Perdagangan Internasional Kanada Roy Mac Laren.

Khusus diantara para pengusaha, telah ditanda tangani 50 kontrak bernilai 1,5 miliar dolar AS.

Selain membicarakan peningkatan hubungan bilateral bidang ekonomi, kedua pemimpin juga menyinggung masalah Timtim, restrukturisasi PBB dan HAM.

Rabu malam Presiden menyelenggarakan jamuan makan di Istana Negara karena hari Kamis Chretien akan meninggalkan Jakarta menuju Kuala Lumpur.

Sumber : ANTARA (17/01/1996)

________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 268-269.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.