PRESIDEN: PEMBANGUNAN HARUS MEMBUAT RAKYAT LEBIH SEJAHTERA

PRESIDEN: PEMBANGUNAN HARUS MEMBUAT RAKYAT LEBIH SEJAHTERA

Presiden Soeharto menegaskan kembali bahwa pembangunan adalah usaha besar2an untuk merobah nasib ke arah yang lebih baik dan pembangunan adalah perjuangan besar untuk hidup lebih baik di hari esok.

"Karena itu pembangunan harus membuat rakyat lebih sejahtera," kata Presiden ketika meresmikan selesainya pembangunan kembali daerah yang terkena bencana alam di kecamatan Tanjung, Lombok, Nusa Tenggara Barat, hari Rabu.

Kepala Negara mengatakan, pembangunan yang tidak memperbaiki kesejahteraan rakyat tidak ada arti dan tidak ada gunanya bagi rakyat dan bangsa Indonesia.

"Pembangunan yang kita kerjakan sekarang ini dan seterusnya memang selalu berusaha memperbaiki kesejahteraan rakyat itu," kata Presiden.

Ia mengatakan, selama Repelita I, Repelita II sampai Repelita III sekarang usaha memperbaiki kesejahteraan rakyat telah banyak dilakukan. Justru untuk mencapai keadaan yang serba maju, sejahtera yang adil dan merata itulah pembangunan sekarang inihams dilanjutkan.

Presiden mengatakan, pembangunan memang mendatangkan kebahagiaan tetapi jalan menuju kebahagiaan itu sama sekali bukan ibarat berjalan di atas jalan yang rata dan datar.

"Saya lebih suka mengatakan bahwa perjalanan pembangunan itu ibarat beratnya berjalan mendaki gunung2 dan menuruni lembah-lembah," kata Presiden.

Ini harus disadari sebab masalah yang dihadapi memang besar dan untuk mengatasi semuanya harus bekerja keras dan harus tabah, demikian Kepala Negara.

Presiden gembira bahwa kerja keras dan ketabahan itu telah ditunjukkan oleh rakyat daerah ini di manakehancuran akibat musibah gempa bumi tahun lalu, sekarang daerah ini telah dibangun kembali.

Jauhi Hidup Boros

Presiden mengharapkan, kota Tanjung ini dapat hidup kembali karena sangat penting artinya sebagai pusat perekonomian Lombok bagian utara yang menghasilkan kacang2an, beras, kopra, bawang.

Daerah NTB, kata Presiden, mempunyai kemungkinan2 untuk berkembang. Sumber2 kekayaan laut hendaknya digali dengan sebaik2nya disamping meningkatkan usaha2 intensifikasi pertanian serta pengembangan ternak dan unggas.

Ia melihat, di daerah NTB perlu digalakkan usaha2 penggarapan tanaman kelapa, kopi, coklat dan tanaman keras lainnya. Seluruh daerah NTB merupakan suatu rangkaian kepulauan yang dapat dibina menjadi satu kesatuan ekonomi yang terpadu.

"Semuanya itu memerlukan ketja keras baik dari pemerintah pusat, daerah dan lebih2 dari masyarakat sendiri," kata Presiden.

Ia mengatakan, pemerintah telah menaruh perhatian besar untuk memajukan daerah ini, antara lain melalui program irigasi Lombok Selatan dan penghijauan besar­besaran.

Presiden

Presiden menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk ikut serta dalam gerak pembangunan yang tujuanya adalah untuk perbaikan hidup dan kesejahteraan rakyat sendiri.

"Kembangkanlah sikap dan cara-cara hidup yang cocok dengan pembangunan dan jauhilah cara hidup yang boros, kebiasaan upacara2 dan pesta2 yang berlebih2an," demikian amanat Presiden Soeharto.

Presiden yang disertai Ny. Tien Soeharto dan beberapa menteri kabinet pembangunan tiba di pelabuhan udara Selaparang, Mataram, Rabu pagi disambut dengan upacara adat setempat.

Menteri2 yang ikut dalam rombongan Presiden adalah Menteri Ekuin Wijoyo Nitisastro, Menteri Hankam/Pangab, Jendral TNI Yusuf, Menteri Pertanian Sudarsono, Menteri PU, Purnomosidi, Menteri Sekretaris Negara Soedharmono SH, Menteri Perindustrian Soehoed, Menteri Pertambangan dan Energi Subroto, Menteri/PPLH Emil Salim dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Harun Zain. Turut pula Sekretaris Kabinet Ismail Saleh dan Sesdalobang Solichin GP.

Di Lombok, Presiden juga akan meninjau proyek irigasi Batujai dan petemakan belut. Kamis pagi Presiden melanjutkan kunjungan kerjanya ke Sulawesi Selatan di mana akan diresmikan pabrik semen Tonasa ll. (DTS).

Mataram, Antara

Sumber: ANTARA (27/02/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 953-954.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.