PRESIDEN : PELEDAKAN CANDI BOROBUDUR DIDORONG FANATISME SESUATU GOLONGAN

PRESIDEN : PELEDAKAN CANDI BOROBUDUR DIDORONG FANATISME SESUATU GOLONGAN

Ke tiga Tersangka Pelaku Masih Terus Dikejar

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto mengemukakan motif peledakan Candi Borobudur sampai sekarang belum terungkap, namun katanya, Presiden mengungkapkan bahwa peristiwa itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak punya kebanggaan nasional dan didorong oleh fanatisme sesuatu golongan.

Hal itu dikemukakan Rabu pagi kepada wartawan seusai mengantar Menteri Pendidikan Muangthai, Chuan Leek Pai yang melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Soeharto di Bina Graha.

Kepada Menteri Pendidikan Muangthai, Presiden juga menjelaskan kerusakan yang terjadi di Candi Borobudur itu, yang dilukiskan tidak begitu besar dan dalam waktu singkat akan dapat diperbaiki.

Presiden, kata Menteri Nugroho, juga mengatakan tidak hanya pemerintah saja yang menyesalkan terjadinya peledakan tsb tetapi seluruh rakyat Indonesia, “karena Candi Borobudur sudah merupakan monumen milik rakyat Indonesia”.

Menurut Nugroho, tamunya dari Muangthai itu akan berkunjung ke Candi Borobudur guna melihat sendiri kerusakan yang terjadi di sana.

Kepada Menteri Pendidikan Muangthai juga dijelaskan oleh Presiden mengenai perkembangan pendidikan di Indonesia. Di samping itu dijelaskan juga mengenai gerakan wajib belajar dan orang tua asuh serta pembentukan Universitas Terbuka.

Presiden, kata Menteri Nugroho, menyarankan agar setiap negara ASEAN dapat mengembangkan Universitas Terbuka sebagai usaha meningkatkan ketahanan nasional khususnya di bidang sosial budaya.

Menjawab pertanyaan Nugroho mengatakan masa jabatannya sebagai Rektor Universitas Indonesia akan berakhir sampai Januari tahun 1986. “Mudah-mudahan diijinkan untuk berhenti”, katanya.

Terus Dikejar

Usaha pengejaran terhadap ke tiga tersangka pelaku peledakan candi Borobudur sampai Selasa siang masih terus dilakukan, sementara para pengunjung sudah mulai membanjiri candi Borobudur.

Komandan Kodim 0705 Magelang, Letkol Inf. Moerwanto yang ditemui “SH” Selasa siang seusai memberi pengarahan kepada para anggota Satpam “Panjarpala” di kantor proyek Taman Wisata Candi Borobudur, belum bersedia mengemukakan perkembangan terakhir usaha pengejaran tersebut, Bukit Suralaya di pegunungan Manoreh yang semula diduga sebagai tempat pelarian para pelaku setelah melakukan aksi dijaga ketat oleh petugas keamanan sejak Senin dini hari.

Namun ternyata usaha tersebut sia-sia karena menurut sumber “SH”, ke tiga tersangka pelaku peledakan telah meloloskan diri melalui Yogyakarta dengan menggunakan mobil Colt yang dicarter dari seorang penduduk Yogyakarta.

Selasa siang, sejumlan anggota Reserse Polres Magelang yang dibantu oleh petugas Polda Jateng dan Labkrim Polri dengan ketat mengadakan penyelidikan di Losmen “Borobudur”.

Ratusan warga masyarakat bergerombol di depan losmen untuk melihat kegiatan para petugas Polri.

Menurut salah seorang petugas Polri yang berada di lapangan, penyelidikan terhadap losmen itu selesai Selasa malam dan selanjutnya diperkenankan untuk beroperasi kembali.

Pemilik losmen yang semula dibawa ke Yogyakarta untuk dimintai keterangan oleh petugas Intel Korem 072 Pamungkas, Yogyakarta, Selasa subuh telah dipindahkan ke Magelang.

Pengawasan

Inspektur Tugas Umum Departemen Parpostel, TB Sianipar dalam pengarahannya di depan anggota Satpam “Panjarpala” Selasa siang menekankan perlu adanya pengawasan ketat namun tidak berlebihan terhadap pengunjung obyek wisata.

Dikatakan, sikap berlebihan dalam mengadakan pengawasan justru akan mengancam kita sendiri. “Yang penting kita harus tetap waspada setiap saat”

Sedang Direktur PT. Taman Wisata Borobudur – Prambanan H. Budiardjo dalam pengarahan tersebut mengingatkan bahwa peristiwa yang baru terjadi itu hendaknya membuat para petugas benar-benar jeli dalam mengamati keamanan proyek wisata.

Untuk waktu dekat, jumlah anggota Satpam akan ditambah di samping pula akan digunakan anjing pelacak dalam pengamanan candi Borobudur dan candi Prambanan.

Kepada “SH” Budiardjo mengatakan, pengamanan candi Borobudur yang paling tepat adalah segera menyelesaikan proyek wisata ini. Walaupun diakui olehnya, langkah ini cukup berat mengingat dana yang harus disediakan meliputi sekitar Rp.20 milyar.

Sedang pengamanan dengan jalan membuat pagar di sekeliling candi menurut Budiardjo merupakan hal yang tidak mungkin karena akan merusak falsafah Borobudur sebagai candi yang terbuka di samping pula akan merusak keindahan.

“Supaya dicatat, candi Borobudur bukan lapangan tenis yang harus dipagar tinggi”, ujar bekas Menpen dan Dubes ini.

Peristiwa peledakan tersebut tidak mempengaruhi jumlah pengunjung candi Borobudur. Diperkirakan, jumlah pengunjung pada hari pertama dibukanya kembali candi yaitu hari Selasa melebihi jumlah pengunjung pada hari­-hari biasa.

Beberapa orang wisatawan asing nampak menyempatkan diri untuk mengambil gambar dari bahagian candi yang mengalami kerusakan akibat ledakan dari kejauhan.

Di samping bahagian-bahagian yang rusak tersebut, kegiatan para petugas Dinas Purbakala juga menjadi perhatian pengunjung.

Bahagian salasar Arupadhatu di sisi Timur yaitu di mana ke sembilan stupa yang rusak berada masih dinyatakan sebagai tempat tertutup bagi pengunjung dan hanya boleh dilihat dari kejauhan.

Tidak Mengganggu

Sembilan buah peledak yang meledak dan merusak sembilan stupa candi Borobudur ternyata tidak menggoyahkan sendi utama candi sehingga secara struktural keseluruhan candi tidak mengalami gangguan.

Drs. Uka Chandra Sasmita, Direktur Perlindungan dan Pembinaan Benda­benda Purbakala Dept Dikbud mengemukakan hal tersebut kepada “SH” di tengah kesibukan memimpin restorasi dari stupa yang porak poranda.

Bagian yang diledakkan itu merupakan bagian yang tidak mengalami pemugaran. Seluruh stupa yang ada di selasar Arupadhatu tidak mengalami kemiringan ataupun kerusakan lainnya.

Ledakan tersebut tidak mengganggu struktur candi antara lain disebabkan karena kubah stupa candi dibuat berlobang-lobang sehingga tenaga ledakan bisa terlepas bebas.

Di samping itu, bangunan candi secara keseluruhan tidak menggunakan sistem perekatan dalam memasang batu candi. Sistem yang digunakan hanyalah menggandengkan batu satu dengan batu yang lalu secara kait mengkait. Adanya sistem ini membuat ledakan tidak menghancurkan batu candi secara keseluruhan.

“Setelah diteliti ternyata hanya dua puluh lima persen saja batu-batu yang hancur, sedang lainnya masih utuh meskipun berserakan sampai jauh”, tutur ahli purbakala ini.

Tidak kurang dari 50 tenaga ahli kepurbakalaan giat mengumpulkan batu-batu yang berserakan itu Selasa pagi. Kepingan badan dan kepala dua buah area Budha yang berserakan berhasil diketemukan dan disusun untuk kemudian disatukan dengan menggunakan perekat khusus.

Menurut Drs. Uka, walaupun pihak Dinas Purbakala mampu mengerahkan tenaga untuk membuat timan patung yang rusak, namun hal tersebut tidak dilakukan.

Ia yakin, dengan semangat kerja yang tinggi dari para petugas Dinas Purbakala, usaha untuk memperbaiki kesembilan stupa akan selesai lebih awal dari yang diperkirakan semula.

Semula diperkirakan akan memakan waktu sekitar enam bulan, tetapi melihat kondisi kerusakan dari stupa maka waktu tersebut dapat di persingkat menjadi tiga bulan.

Direktur Taman Wisata Candi Borobudur – Prambanan Selasa pagi melaporkan peristiwa peledakan dan kerusakan kepada Wagub DIY Paku Alam VIII di gedung Wilis Kepatihan Yogyakarta.

Isi keseluruhan pembicaraan yang berlangsung secara tertutup dan memakan waktu hampir dua jam itu tidak diungkapkan oleh H. Budiardjo.

Dikatakan, Wagub DIY sangat prihatin atas kejadian tersebut dan berharap agar di masa mendatang pengamanan terhadap candi Borobudur dan candi Prambanan dapat lebih ditingkatkan.

Sebab Dan Akibat

Berbagai tanggapan muncul atas kejadian ini Pimpinan Pondok Pesantren Pabelan di Muntilan, Magelang, K.H Hamam Djafar mengemukakan rasa keterkejutan serta penyesalannya. Namun diingatkan bahwa peristiwa ini tidak terlepas dari hukum “sebab dan akibat”.

“Tak ada satu halpun akan terjadi jika tanpa sebab”, kata Kyai yang berusia 50 tahun kepada “SH”.

Namun ketika ditanya mengenai apa sebenarnya yang menurut perkiraannya merupakan “sebab”, Kyai ini mengangkat bahu. Ia hanya mengingatkan kepada semua pihak agar yang merasa punya “sebab” segera menyadari dan dalam bernegara hendaknya para pemimpin memiliki sifat tenggang rasa dan tepa seliro.

“Ngono yo ngono, neng ojo ngono (Begitu ya begitu, tapi jangan begitu ­Red)”, ucapnya.

Ia juga menyatakan rasa yakinnya bahwa rentetan ledakan yang terjadi akhir-akhir ini bukan tindakan agamis. “Cuma karena orang beragama sedang marah, ya,..bisa saja berbuat begitu”. tuturnya.

Ini menurut Hamam Djafar, menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut tidak mewakili perbuatan sesuatu agama manapun kecuali perbuatan perorangan yang sedang marah.

UNESCO Akan Bebas

Dari Paria AP melaporkan, Direktur Jenderal UNESCO Amadou Mahtar M Bow hari Selasa menyatakan kesedihan yang mendalam atas serangan terhadap candi Borobudur itu.

Badan PBB itu telah mensponsori program perbaikan candi tsb. dengan mengikutsertakan 27 negara anggota UNESCO dan organisasi-organisasi internasional lainnya dan berhasil mengumpulkan biaya lebih dari US$ 6,5 juta (Rp.6,5 milyar).

Dalam sebuah pesan kepada Presiden Soeharto, M’Bow mengatakan UNESCO sudah siap untuk memberi bantuan llmu pengetahuan dan teknik kepada pemerintah Indonesia dalam setiap proyek perbaikan. (RA).

 

 

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber : SINAR HARAPAN (23/01/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 331-336.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.