PRESIDEN : PELAJARI KEMUNGKINAN DIRIKAN RUMAH PERMANEN JEMAAH

PRESIDEN : PELAJARI KEMUNGKINAN DIRIKAN RUMAH PERMANEN JEMAAH[1]

 

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto meminta, semua pihak terkait mempelajari kemungkinan mendirikan rumah permanen bagi jemaah haji Indonesia di Makkah dan Madinah. Penegasan Kepala Negara itu disampaikan Menteri Agama Quraish Shihab kepada wartawan usai diterima Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana, Jakarta, Kamis (23/4).

Pada kesempatan itu, Quraish Shihab juga melaporkan masalah perumahan bagi para jemaah di Makkah dan Madinah yang belum memuaskan. Presiden Soeharto menginstruksikan untuk mempelajari kemungkinan mengadakan perumahan permanen bagi para jemaah haji indonesia.

Menjawab pertanyaan  tentang kemungkinan  membeli rumah di Makkah dan Madinah, Quraish Shihab mengatakan, masalah tersebut masih dipelajari. Artinya, pemerintah Indonesia harus tetap memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku di Saudi Arabia.

“Jadi kita akan mengundang yang menawarkan kepada kita suatu cara penggunaan rumah, kalaulah tidak permanen, paling tidak tahunan, sehingga setiap tahun kita tidak direpotkan mencari rumah dan sebagainya. Itu sebenarnya sudah ditempuh oleh Brunei Darussalam. Mereka sudah punya perumahan namun jumlah mereka itu sangat kecil.” kata Menag.

Dana Abadi

Menyinggung penggunaan Dana Abadi di Departemen Agama, menurut Quraish Shihab, Presiden setuju menggunakan sebagian dana tersebut untuk Gerakan Nasional Orangtua Asuh (GN-OTA), Rp.2 miliar untuk sekitar 25.000 anak asuh.

Namun Quraish Shihab tidak menyebut secara pasti jumlah Dana Abadi tersebut. Ia hanya mengatakan, saldo Dana Abadi mencapai Rp.413 miliar.

Sedang tentang asal dana, ia mengatakan,

“Boleh jadi dari sisa operasional haji, itu kalau ada sedikit. Boleh jadi, dari hasil efisiensi, boleh jadi dari hasil selisih nilai tukar dolar. Itu semuanya.”

Ditegaskan, jumlah Dana Abadi tidak akan berubah. Penggunaan akan diambilkan dari bunga atau yang diistilahkan sebagai hasil dari dana tersebut. Dana itu antara lain digunakan untuk membantu pesantren, pendidikan, penelitian, dan membantu pengentasan kemiskinan. Penggunaan dana dilakukan berdasarkan usulan Depag dan harus mendapatkan persetujuan Presiden.

Pengurus Dana Abadi antara lain terdiri dari Ketua Muhammadiyah.

“Nah, ini apa yang diusulkan oleh Departemen Agama rancangannya kepada Bapak Presiden yang disetujui dan setiap saat siap untuk di audit.” jelasnya.

Selama ini Dana Abadi dialokasikan kepada ONH, sekitar 1.600 real per jamaah di Makkah dan Madinah. Namun di tahun mendatang, jumlah itu akan bervariasi antara 1.600 real sampai 1.650 real.

“Ada yang lebih mahal dari 1.650 real kalau dia baik dan dekat dengan Masjidil Haram di Makkah atau Masjid Nabawi di Madinah. Kalau jauh itu lebih murah. Pengaturannya diatur oleh Departemen Agama.” jelasnya.

Untuk penempatan jemaah, Depag menggunakan sistem Qur’ah atau undian. Tentang kriteria yang dipakai Depag dalam menggunakan Dana Abadi, Quraish Shihab mengatakan melihat kebutuhan umat Islam.

Jemaah Meninggal

Jemaah haji Indonesia yang wafat dilaporkan kemarin, ternyata masih bertambah lagi 13 orang, sehingga jumlah keseluruhan menjadi 673 orang. Diantara ke 13 jemaah itu yang jenazahnya dimakamkan di Bagi (Madinah) sebanyak lima orang yakni 1. Ponisan binti Kertodjai (67), K 049 SUB, asal Rungkut Asri Timur IX/12 Surabaya, 2. H. Abu Bakar bin Nain (66), K 025 MES, Jl. Taskurun Gg Tunas Karya No.8A, Wonorejo-Pekanbaru, 3. Aliansyah bin Husna (51), K 028 BPN, Kandangan Utara No.10 RT 07/03 Hulu Sungai Selatan-Kalsel, 4. Kuong Tanjung bin Lawatni (70), K 021 MES, Danau Harapan Gunting Harapan, Labuhan Batu Sumut, 5. Asia binti H. Saleh (60), K 044 SUB Lingkungan satu Monta RT 02/01 Dompu NTB. Sedang jemaah yang meninggal di Makkah dan jenazahnya dimakamkan di Ma’la sebanyak tujuh orang, 6. Saning (53), K 50 UPD, Maroanging, Pammana-Waio, 7. Juarah binti Ruja’i (66), K 090 HLP, Sukamaju RT 03/01 Cihaurbeuti Ciamis, 8. Muhamad Siyam bin Khamah (51), K 60 SOC, Kp Pungkuran RT 01/03, Kutoharjo, Kaliwungu Kendal, 9. Ayuning binti Abdul Mahid (52), K 152 HLP, Jl. Los Pasar No .371 RT 04, Pasar Tanjung Enim Muara Enim, 10. Rukmi binti Mahwi (47), K 179HLT, Kp Papayan RT 01/01 Simajaya, Sukaraja Tasikmalaya, 11. Napiah bin Kacil (77), K 011 MES, Dsn Jl. Mesjid Scanggung Langkat-Sumut. 12. R Manik Soetarti binti R Doeryadi (67). K 162HLP, TI Bojong Kulon No.5 RT 02/12 Cigadung Bandung. Sedang jenazah jemaah yang dimakamkan di Hawa (Jeddah) adalah 13. Fatimah binti Jakariah (60), K 053 SUB, Ds Parado Rato RT 01/01, Monta Bima.

Sumber : KOMPAS (24/04/1998)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 787-788.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.