PRESIDEN PANGGIL LIMA MENTERI DAN GUBERNUR BI: “ADA POLITISI-POLITISI  MANFAATKAN  SITUASI”

PRESIDEN PANGGIL LIMA MENTERI DAN GUBERNUR BI: “ADA POLITISI-POLITISI  MANFAATKAN  SITUASI”[1]

 

Kami hampir yakin ada faktor-faktor non-ekonomi yang masuk ke dalamnya .Buktinya begitu Presiden tampil prima waktu melantik perwira remaja lulusan Akabri, nilai rupiah langsung menguat. Tentu ini kita tidak boleh takabur. Ini proses yang belum selesai

 

Jakarta, Merdeka

Untuk kesekian kalinya dalam situasi sulit terakhir ini Pak Harto memanggil menteri bidang Ekuin dan penasehat ekonomi pemerintah.

Mereka yang dipanggil ke kediaman Jalan Cendana kemarin adalah Menko Eku Wasbang Saleh Afiff, Menkeu Mar’ieMuhammad, Menperindag Tunky Ariwibowo, Meneg PPN/Ketua Bappenas Ginandjar Kartasasmita, Mensesneg Moerdiono , Gubemur BI Soedradjad Djiwandono serta penasehat ekonomi pemerintah Widjojo Nitisastro.

Ikut sertanya Widjojo Nitisastro diharapkan akan membantu mempercepat proses pemulihan perekonomian nasional, terutama setelah masuknya IMF (Dana Moneter Intenasional).

Presiden menginstruksikan agar RAPBN yang akan disampaikan pada 6 Januari 1998 di depan Sidang Paripuma DPR, disesuaikan dengan suasana keprihatinan.

“Penyusunan kegiatan rutin RAPBN agar disesuaikan dengan suasana keprihatinan, selain juga mesti realistis.” ujar Mensesneg.

Ditambahkan, dalam RAPBN denaan anggaran belanja berimbang dan dinamis, Presiden menekankan supaya anggaran pemerintah serta departemen-departemen benar-benar mencerminkan prioritas tinggi terhadap kegiatan-kegiatan yang sangat diperlukan.

“Pembahasan terakhir RAPBN 1998/1999 akan dilakukan dalam sidang cabinet paripuma yang akan diselenggarakan minggu terakhir Desember.” tuturnya.

Mensesneg menambahkan RAPBN 1998/1999 selain memperkirakan kecenderungan yang terjadi selama setahun ke depan, juga ditempatkan dalam perspektif lebih panjang, yang bisa terjadi selama lima tahun mendatang.

Dia memberikan contoh, seperti nilai rupiah yang terlalu rendah.

“Kami hampir yakin ada faktor-faktor non-ekonomi yang masuk ke dalamnya. Buktinya begitu Presiden tampil prima waktu melantik perwira remaja lulusan Akabri, nilai rupiah langsung menguat. Tentu ini kita tidak boleh takabur. Ini proses yang belum selesai.” lanjutnya.

Menurut Moerdiono, interaksi dari berbagai faktor masuk di dalamnya.

“Dan, tentu saja ada politisi-politisi yang memanfaatkan situasi. Saya tidak akan sebut nama, tetapi itu pasti ada.” ujarnya.

Dia sendiri menyatakan, dengan keadaan seperti sekarang ini masih bisa dikatakan fundamental ekonomi Indonesia cukup baik, mengingat kesulitan besar juga terjadi di negara lain, malah Korsel dan Jepang mengalami hal serupa.

Secara kualitatif, kata Moerdiono, kurang lebih sama. Misalnya mereka mengadakan reformasi-reformasi kebijakan, reformasi ekonomi, mengadakan, deregulasi serta menyehatkan dunia perbankan.

“Bahkan, Thailand melikuidasi 50 bank. Korsel juga. Jepang ada satu dua perusahaan security company dilikuidasi.” ujar anggota dewan moneter ini sambil menambahkan, beberapa negara sedang memasuki zaman baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.

Apakah ada upaya spekulan memanfaatkan kesehatan Pak Harto dalam krisis sekarang ini? “Pers kan lebih baik menanyakan kepada para spekulan daripada saya yang menjawab.” katanya diplomatis.

Dia lalu mengimbau kalangan pers untuk ikut membantu.

“Saya melihat ceramah saya beberapa tahun lalu, ada gejala agenda politik dibuat oleh pers, ada seseorang ditanyai apa pendapat anda mengenai ini ? Bukan pendapat dia, dia menjawab. Lalu jadi head line.” katanya.

Sejumlah budayawan, aku Moerdiono, juga pernah mengeluh kepadanya soal ini.

“Saya katakan beberapa tahun lalu tatkala kita bertukar pikiran. Saya sudah ingatkan dan pemerintah selalu mengingatkan, jangan khawatir kita pasti menuju keterbukaan. Tetapi marilah kita semua bersama-sama agar jangan sampai keterbukaan itu pintunya yang roboh nanti.” Tuturnya

(FN)

Sumber: MERDEKA (22/12/1997)

_____________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 465-467.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.