PRESIDEN PANGGIL KAKANWIL DEPKOP JABAR

PRESIDEN PANGGIL KAKANWIL DEPKOP JABAR

Jakarta, Antara

PT. Tehnusamba Indah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, yang diresmikan Presiden Soeharto beberapa bulan lalu untuk meningkatkan kesejahteraan petani teh, kini ternyata tidak bisa berproduksi secara penuh karena para petani tidak mensuplai bahan baku seperti direncanakan.

Sehubungan adanya kasus itu, Presiden Soeharto, Kamis siang di Bina Graha, Jakarta, memanggil Kepala Kanwil Departemen Koperasi Jawa Barat dan lima kepala kantor koperasi tingkat kabupaten di propinsi itu untuk diberi petunjuk tentang jalan keluar permasalahan tersebut.

Menteri Koperasi Bustanil Arifin dalam keterangannya kepada pers seusai mendampingi Kepala Kanwil Depkop Jabar menghadap Kepala Negara menjelaskan bahwa petani teh di Jabar rupanya belakangan ini tidak menjual semua teh mereka kepada PT.Tehnusamba Indah karena “diiming-imingi” harga lebih tinggi di luaran.

Menurut rencana pengembangannya, para petani diharapkan menjual semua teh mereka kepada KUD untuk selanjutnya dijadikan bahan baku untuk diolah oleh PT. Tehnusamba Indah.

Dalam jangka panjang, jika rencana pengembangan itu berjalan lancar, petani teh melalui KUD mereka dapat memiliki saham perusahaan tersebut.

Menurut penilaian Menkop, penjualan teh petani kepada pihak di luar KUD itu terjadi karena para petani belum sadar bahwa perusahaan tersebut sesungguhnya milik mereka-sendiri.

Oleh karena itu, tambahnya, Presiden dalam petunjuknya minta kepada Kanwil Depkop Jabar untuk meningkatkan penyuluhan kepada para petani teh tentang arti penting mereka menjual teh kepada PT. Tehnusamba melalui KUD.

“Tetapi petani jangan sampai dipaksa. Ajak mereka bicara dengan melakukan tanya jawab,” kata Kepala Negara sebagaimana dikutip Bustanil.

Kakawil Depkop Jabar Ir. Iyan Muchtar Effendi mengungkapkan lebih separoh dari produksi teh petani belakangan ini lebih senang dijual di luar KUD.

Sebagai contoh ia menyebutkan bahwa di Kabupaten Sukabumi, dari 35 ribu ton teh yang dihasilkan, yang dijual ke KUD untuk mensuplai PT.Tehnusamba hanya 17 ribu ton.

Padahal, dengan adanya PT.Tehnusamba petani kini bisa menjual tehnya dengan harga lebih tinggi ketimbang dahulu, yakni Rp.160 per kg. Sebelum pabrik dibangun harga teh mereka hanya Rp.65 per kg.

Atas pertanyaan wartawan, Iyan menegaskan bahwa pembayaran pembelian teh petani oleh KUD selama ini juga berjalan lancar.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (23/08/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 350-351.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.