PRESIDEN PADA SIDANG RAYA VIII DGI: DIALOG CIRI PENTING DASAWARSA SEKARANG

PRESIDEN PADA SIDANG RAYA VIII DGI: DIALOG CIRI PENTING DASAWARSA SEKARANG

Bantuan Luarnegeri untuk Kelompok Agama Harus lewat Pemerintah [1]

 

Jakarta, Kompas

Kita menginginkan dapat hidup bersama, bukan hanya dalam perdamaian, tapi juga suasana saling percaya-mempercayai dan setia satu sama lain. Ini berarti kita harus berusaha sekeras-kerasnya agar orang lain mempercayai kita, sebagai mana kita dapat memahami dan menghargai mereka. Kita harus berusaha menciptakan situasi dimana kita dapat menghormati nilai-nilai yang dihormati orang lain, dengan tidak usah meninggalkan nilai-nilai yang kita junjung tinggi sendiri. Untuk inilah dialog antar ummat beragama sangat penting artinya!

Demikian pesan Presiden Soeharto pada pembukaan Sidang Raya ke-VIII Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) di Salatiga Kamis kemarin. Presiden menekankan, dialog adalah proses untuk menghilangkan sating curiga dan saling takut. Dialog mempakan hubungan dinamis, bukan hanya antara berbagai pandangan yang rasionil tapi hubungan dinamis antara hidup dan kehidupan. Dialog ditujukan untuk hidup bersama, berbuat bersama dan mendirikan dunia baru bersama.

Presiden mengingatkan dialog adalah salah satu ciri penting dalam dasawarsa sekarang dan seterusnya. Dan hal inipun telah berkembang diantara negara maupun agama, ia tunjukkan berbagai dialog antara ummat beragama di dunia maupun di Indonesia sendiri. Seperti Dewan Gereja-gereja Dunia di Lebanon tahun 1958 dan 1970, Srilangka tahun 1972 dan Hongkong 1974, juga pada tahun 1975 suatu pemutusan Saudi Arabia berkunjung ke Vatikan dan di Libya tahun 1976 berlangsung pertemuan Katolik, Kristen dan Islam. Sedang di Indonesia sendiri telah dijalankan lewat perguruan tinggi di Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Ujungpandang, Medan, Banjarmasin dan tempat-tempat lain.

Lewat Pemerintah

Presiden Soeharto mengakui, dialog antara ummat beragama memang bukan sesuatu yang mudah, tapi bagaimanapun hal itu tentu dapat dilaksanakan meskipun diperlukan kesabaran, tenggang rasa, lapang dada, sikap menahan diri dan saling percaya antara sesama keluarga besar bangsa Indonesia.

Untuk kesekian kalinya Presiden menggariskan perlunya menjaga dan memperkuat kerukunan hidup antar beragama. Penyiaran agama harus dijaga jangan sampai mengganggu ketentraman masyarakat. Usaha untuk memperbanyak pengikut dan mendirikan tempat beribadah adalah baik. “Tapi tujuan-tujuan baik harus pula dijalankan dengan baik. Karena itu usaha-usaha tersebut harus dijaga jangan sampai menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat”.

Menyinggung bantuan dari luarnegeri untuk kegiatan keagamaan, Kepala Negara berpendapat kerjasama suatu kelompok agama di Indonesia dengan pihak luarnegeri memang dapat bermanfaat untuk pengembangan agama yang bersangkutan di Indonesia.

“Namun hendaknya segala sesuatu dilakukan sesuai ketentuan prosedur yang diatur Pemerintah. Bantuan kelompok agama hendaknya dilakukan melalui Pemerintah. Hal ini perlu untuk menjaga agar bantuan itu dapat digunakan setepat-­tepatnya”, demikian Presiden Soeharto.

Dalam kesempatan itu, Presiden menyatakan lagi bahwa pendapat yang menyebutkan pembangunan sekarang tak ada hasilnya adalah salah benar. Apalagi jika dikira kehidupan rakyat banyak bertambah buruk. “Ini sungguh-sungguh melawan kenyataan”. Dania pun menyerukan agar agama dapat terus membimbing dan mendorong pembangunan masyarakat Indonesia, lebih-lebih mengingat masyarakat Indonesia adalah sosialistis-religius.

Sampai 13 Juli

Begitu tiba di halaman kampus Universitas Kristen Satyawacana, Salatiga, Presiden segera turun dari mobil dan berjalan di tengah-tengah ratusan ummat Kristen yang akan mengikuti sidang raya. Mereka berkumpul sejak pagi-pagi hari dan telah mengadakan upacara kebaktian pembukaan. Salatiga yang berhawa sejuk itu terletak di lereng Gunung Merbabu.

Ketua Umum DGI Prof Abineno memukul kentongan delapan kali, sebagai tanda pembukaan sidang raya yang berthemakan ”Yesus Kristus Membebaskan dan Mempersatukan”. Sidang akan berlangsung sampai tanggal 13 Juli dihadiri lengkap oleh 44 gereja anggota DGI yang mewakili sekitar 7 juta ummat Kristen Indonesia. Ikut datang sebagai peninjau utusan Gereja Katolik, serta wakil-wakil gereja dari negara tetangga di Asia, Australia, Eropa dan Amerika.

Acara pembukaan itu ditutup dengan paduan-suara mahasiswa IKIP Satyawacana yang menyanyikan lagu “Curahkanlah Cahaya Terangmu”. Presiden kemudian meninggalkan kampus menuju lapangan Pancasila untuk selanjutnya berhelikopter menuju Waduk Nawangan dan Parangjoho. (DTS)

Sumber: KOMPAS (02/07/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 174-176.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.