ABRI HARUS DAPAT MEMIKAT HATI RAKYAT

Presiden pada Prajurit ABRI

ABRI HARUS DAPAT MEMIKAT HATI RAKYAT

Parade Terbesar dalam Sejarah ABRI

Diikuti Satu Juta Penduduk

“Jika ABRl telah dapat memikat hati rakyat, maka akan lancarlah tugas ABRI sebagai pengaman dan pelopor pembangunan. Sebagai pengaman pembangunan, ABRI harus dapat menciptakan suasana tenteram di hati rakyat, dan sekaligus menyingkirkan segalahambatan yang mengganggu kelancaran jalannya pembangunan.

“Sebagai pelopor pembangunan. ABRI harus dapat menggugah semangat rakyat dalam melaksanakan pembangunan yang tidak lain tujuannya adalah untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat sendiri.”

Presiden Soeharto menyampaikan hal itu, Minggu pagi kemarin dalam upacara peringatan hari jadi ke-35 ABRl.

Menyinggung masalah Trilogi Pembangunan dan stabitas nasional, Presiden yang menurut pasal 10 UUD 45 adalah pemegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Laut dan Udara menegaskan Unsur yang penting dalam stabilitas nasional adalah keamanan lahir batin rakyat.

Ini adalah tugas dan tantangan terbesar bagi ABRI. Apapun wujud langkah yang diambil oleh ABRI, pada akhirnya perasaan tenteramlahir batin itu harus benar-benar tertanam di hatinya rakyat. Sehingga dapat tidur dengan nyenyak dan dapat bekerja penuh kegairahan. Sebaliknya rakyat harus ditumbuhkan kesadarannya bahwa pemeliharaan keamanan memerlukan dukungan dari rakyat.

Mengenai parade yang diikuti pasukan sebesar 7 brigade serta kendaraan­kendaraan berlapis baja dan pesawat-pesawat tempur. oleh Kepala Negara dikatakan sebagai

”Parade terbesar yang pemah kita saksikan dalam sejarah pertumbuhan ABRl sejak Indonesia merdeka.”

Namun Presiden mengatakan parade yang demikian besar itu sama sekali bukan pameran kekuatan.

“Pameran yang menggambarkan kekuatan dan kesiagaan ABRI ini,” menurut Presiden, “tidak lain merupakan pertanggungjawaban ABRl kepada rakyat.”

Tahun-tahun Sulit

Segala peralatan dan persenjataan yang dimiliki ABRl seperti yang kita saksikan. tidak lain merupakan kemajuan yang kita capai sebagai hasil pembangunan.

Peralatan dan persenjataan yang makin modem dan makin memenuhi kebutuhan itu dapat kita adakan sepadan dengan kemampuan kita untuk memberikan perhatian yang lebih besar dan melakukan perbaikan hidup prajurit dan keluarganya.

Dan kita makin mampu membiayai pemeliharaan dan pembangunan Angkatan Bersenjata seperti keadaannya yang sekarang ini, setelah keadaan ekonomi negara makin maju dan lebih merata, setelah tingkat kesejahteraan rakyat makin baik.

Presiden Soeharto yang juga adalah Jendral TNI Purnawirawan, dalam upacara yang dihadiri oleh warga ABRl, Korps Diplomatik asing di Indonesia serta anggota­anggota Kabinet Pembangunan, lebih lanjut mengatakan, Saat ini kita teringat pada tahun-tahun sulit yang harus dilalui oleh Angkatan Bersenjata kita. Pada tahun-tahun permulaan pembangunan sampai menjelang berakhirnya pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) II, pembangunan fisik ABRl dapat dikatakan sangat kecil dan kegiatannya dipusatkan pada memelihara apa yang telah dimiliki.

Pada tahun-tahun itu, pusat perhatian seluruh bangsa dan penggunaan kemampuan negara tertuju pada pembangunan ekonomi demi kesejahteraan rakyat.

Prioritas

Dinegara manapun, pembangunan Angkatan Bersenjata selalu memerlukan biaya yang besar. Lebih-lebih, bagi negara kita yang mempunyai wilayah yang luas dan terdiri dari beribu kepulauan pembangunan Angkatan Bersenjata jelas memerlukan biaya yang besar.

Wilayah tanah air yang harus kita lindungi demikian luas. meliputi garis-garis pantai demikian panjang. Lautan yang luas dan selat yang begitu banyak serta penduduknya yang begitu besar yang juga memerlukan perlindungan dan pengamanan.

Diingatkan oleh Presiden, pembangunan Angkatan Bersenjata adalah bagian dari pembangunan bangsa secara keseluruhan. Dan dalam membangun bangsa itu. kita harus pandai-pandai membuat prioritas yang tepat. Artinya, kita harus dapat mendahulukan apa yang memang harus didahulukan dan menunda apa yang masih dapat ditunda.

”Tidak ada gunanya kita memiliki Angkatan Bersenjata yang kuat, jika rakyat tetap melarat dan terbelakang,” kata Presiden. yang pernah menjadi Menteri Hankam, Panglima Angkatan Darat serta pemimpin gerilya pada masa perang kemerdekaan.

Sikap ABRI

“Karena itu,” kata Presiden yang mengenakan stelanjas warna biru-tua dan berkopiah, “kita patut menghargai sikap ABRI selama ini yang dengan sadar mendahulukan kepentingan rakyat ABRI rela menahan diri dan merasa cukup memiliki peralataan yang sederhana dan belum berkesempatan memiliki persenjataan modern yang diidam-idamkan oleh setiap prajurit, karena ABRl sadar bahwa pembangunan Angkatan Bersenjata yang dipaksakan itu akan berakibat memberatkan rakyat.

Dan sekarang, setelah ekonomi kita makin kuat dan pembangunan makin terasa hasilnya oleh rakyat. maka kita-pun dapat dan harus memperhatikan pembangunan Angkatan Bersenjata secara lebih besar.

Di masa datang, kita memang harus memiliki Angkatan Bersenjata yang kuat, yang modern peralatan dan persenjataannya, sesuai dengan kemajuan zaman teknologi.

“Namun kita tetap sadar bahwa kekuatan pokok Angkatan Bersenjata Republik Indonesia tidaklah cukup pada peralatan dan senjata. Meskipun peralatan dan senjata adalah penting, tetapi kekuatan pokok Angkatan Bersenjata Republik Indonesia haruslah tetap didasarkan kepada dukungan dan kemampuan rakyat Indonesia sendiri.”

Masuk Desa

Perlu adanya ABRl yang didukung rakyat, oleh Presiden Soeharto disebutkan sejarah perang kemerdekaan sejak 1945 hingga menjelang permulaan tahun 1950. Pada tahun-tahun yang penuh semangat kepahlawanan dan patriotisme itu, ABRl benar-benar manunggal dengan rakyat.

Dengan dukungan rakyat, ABRI mampu memukul musuh. Dan bila terdesak. dengan aman dapat menyelinap di tengah-tengah rakyat. Malahan, ABRI dihidupi dan diberi tempat berteduh oleh rakyat. Rakyat menjadi mata yang tajam dan telinga yang terpercaya dari ABRl. Itulah wujud yang paling jelas dari kemanunggalan ABRl dan rakyat.

Karena itulah gerakan ABRI Masuk Desa yang kini sedang digalakkan lagi, mernpakan bagian yang penting untuk merperkuat kemanunggalan ABRl dan rakyat itu.

Dalam Perang Rakyat Semesta. ABRl harus mengenal setiap jengkal tanah, dibumi Indonesia ini. ABRI lebih-lebih harus selalu mendengar setiap detak jantung dan perasaan rakyat. Apapun yang dikenakan oleh ABRI dalam gerakan masuk desa ini yang paling utama adalah agar rakyat merasa benar-benar tentram hatinya, dan terasa adanya uluran tangan dari ABRl kepada rakyat desa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.”

Perintah Harian

Menteri Pertahanan Keamanan dan Panglima Angkatan Bersenjata RI Jendral TNI M. Jusuf, dalam perintah hariannya yang dikeluarkan kemarin dan ditujukan kepada semua prajurit ABRl menyerukan agar mengembangkan secara terus-menerus peranan ABRI sebagai inti kekuatan pertahanan-keamanan nasional dengan tetap memegang teguh cita-cita perjuangan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit serta melanjutkan tugas dwifungsi ABRl.

Pelihara terus disiplin dan tata-tertib sehingga setiap anggota ABRl menjadi warga negara yang tauladan di tengah-tengah masyarakat. Pelihara dan tingkatkan terus kemampuan dan kesiagaan ABRI serta kewaspadaan kita. Pelihara sebaik-baiknya senjata dan peralatan, karena alat perlengkapan tersebut berasal dari cucuran keringat rakyat.

“Dengan kesemuanya itu,” bunyi perintah harian tersebut, “kita bina kemanunggalan ABRI dengan rakyat yang merupakan jaminan bagi terwujudnya persatuan nasional yang kokoh kuat.

Bersama-sama rakyat kita pelihara dan kawal kelangsungan hidup negara dan bangsa dengan segala cita-cita berdasarkan Pancasila dan Undang-UndangDasar 1945.”

“Saya berdoa untuk segenap prajurit ABRI di manapun engkau berada. Semoga senantiasa diberikan perlindungan oleh Tuhan dalam menunaikan tugas. Dan kepada keluarga yang mendampingi. Saya berdoa semoga senantiasa dilimpahi-Nya dengan kesejahteraan serta kebahagiaan. Kiranya segenap rakyat dapat senantiasa memberikan dukungan dan restunya dalam melanjutkan keljasama yang telah teljalin selamaini bersama ABRI.”

Pada awal Perintah Hariannya, Jendral TNI M Jusuf menyampaikan rasa terimakasihnya dan hormat kepada para janda dan ibu yang telah merelakan suami dan anak tercinta dan juga kepada para yatim yang telah kehilangan ayah di medan perjuangan.

”Tak dapat dan tak boleh pula kita lupakan pengorbanan yang diberikan oleh teman-teman yang cacad dalam mengemban tugas membela tanah air,” bunyi Perintah Harian itu.

Terbesar

Sekitar satu juta rakyat datang menyaksikan upacara peringatan HUT ke-35 ABRI di Jagorawi, kemarin. Tidak saja dari Jakarta, tetapi juga dari daerah Bogor dan Cibinong. Sejak pukul 03.00 WIB, jalan-jalan yang menuju Jagorawi sudah dipadati arus massa yang ingin datang menyaksikan.

Ada yang naik kendaraan sendiri, ada yang naik angkutan umum. Ada yang karena tidak mau ketinggalan, bahkan naik truk sampah. Mereka bergabung dalam bentuk keluarga RT atau RW atau dalam club­club sport seperti karate, silat dan sebagainya.

Benar-benar meledak keinginan masyarakat untuk datang menyaksikan peringatan HUT ABRI di Jagorawi tersebut. Bahkan pejabat-pejabat tinggi sampai Menteri-Menteri sekalipun yang biasa untuk acara-acara resmi seperti ini tidak biasa membawa keluarga, kali ini mobilnya penuh sesak.

Tentu saja HUT ABRI yang dirasakan seperti kemarin adalah yang terbesar sejak kemerdekaan Indonesia. Tujuh brigade pasukan tempur atau brigade persenjataan tempur serta 110 buah pesawat dari berbagai jenis diikut-sertakan.

Untung saja acara peringatan kemarin diadakan di jalan Jagorawi dan bukan di Senayan. Rakyat yang datang ingin melihat ABRI-nya datang berbondong-bondong.

Sekitar tiga kilometer jalan Jagorawi sepanjang tempat upacara menjadi lautan manusia. Mulanya massa seperti masih bisa dikuasai. Tetapi kemudian lari menyerbu daerah sekitar tempat upacara, ketika beberapa pesawat buru sergap “Skyhawk” terbang rendah melintasi tempat upacara. Meskipun tembakan-tembakan yang dilepaskan dari “Skyhawk” hanya sekedar “tipuan” sebab sebenarnya berasal dari bom-bom plastik yang sudah terpasang di tanah namun penembakan dengan skenario ingin membebaskan sebuah daerah yang diduduki musuh tersebut mendapat tepuk-tangan meriah dari massa yang hadir.

Begitu beberapa kali diselingi rangkaian serangan beberapa buah F-5 ”Tiger” dan “Hawk”. Dua jenis pesawat tempur terbaru TNI-AU, dipertunjukkan pada masyarakat berbagai gaya terbang dari pesawat-pesawat tersebut.

Bunyi pesawat yang meraung-raung dengan terbang yang begitu rendah seperti ingin menerkam tempat upacara membuat atraksi kemarin cukup menegangkan namun mendapat apluas.

Penerjunan

Setelah beberapa menit mengadakan serangkaian serangan. disusul oleh sembilan buah pesawat Hercules yang juga barn saja dibeli. Sebagai pesawat transport, munculnya pesawat-pesawat Hercules ini mulanya dianggap biasa saja.

Tapi suasana mulai berobah, ketika dari perut pesawat terlihat satu persatu pasukan penerjun “dimuntahkan”. Dirasa menegangkan karena formasi pesawat yang begitu dekat.

“Eiii… yang sana nyangkut… Yang itu payungnya tidak terbuka …”dan macam-macam lagi

komentar. Secara sepintas dari bawah memang terlihat seolah-olah penerjun yang dilepaskan dari satu pesawat, menyangkut dipesawat lainnya karena begitu dekatnya formasi pesawat. Sedangkan yang dikira payungnya tidak terbuka memang karena penerjunnya tidak terlalu cepat membukanya.

Tetapi suasana tegang serentak hilang, diganti dengan tepuk tangan ketika semua penerjun sudah berada di udara. Langit jalan Jagorawi pagi kemarin seperti ditumbuhi cendawan. Bayangkan saja satu batalyon pasukan diterjunkan sekaligus dalam tempo beberapa menit.

Namun yang lebih penting dari semua pandangan mata yang menarik ini ialah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia maju setahap lagi dalam armada angkutan udara.

Kita mampu menetjunkan banyak pasukan dalam tempo sekian menit. Dalam suatu pertempuran inimemang ideal. Dan bukan seperti yang dialami selama ini. Kalau hendak menerjunkan sekian banyak pasukan harus dilakukan dalam beberapa “sortie” (beberapa gelombang) karena pesawat udara untuk itu tidak tersedia.

Penerjunan udara oleh pasukan Linud (Lintas Udara) Kostrad kemarin memperagakan perebutan suatu daerah musuh setelah diadakan pembersihan dari udara. Dengan perasaan cemas, hadirin memperhatikan satu persatu para penetjun menginjakkan kakinyake bumi.

Harap-harap cemas terjadi. Ketika seorang penerjun yang ketika sudah mendekati tanah, payungnya menyangkut pada payung penerjun lainnya. Sehingga jatuhnya meluncur. Ternyata semua penerjun dari ketinggian 12.000 kaki tersebut tiba dengan selamat di lokasi yang ditentukan.

Tidak kalah menariknya adalah terjun bebas oleh 40 orang anggota Kopassandha di bawah pimpinan Mayor Luhut. Ini pun tidak kurang menegangkan karena sasaran pendaratannya lebih dekat dengan panggung upacara dan di antara kerumunan massa.

Semua penerjun dapat mencapai sasaran. Setelah tiba dengan selamat, keempat puluh anggota Korps Baret Merah itu kemudian memberi hormat kepada Presiden Soeharto. Anggota termuda masing-masing Prada Slamet Budiman dan Prada Sukono menyematkan terjun bebas untuk Presiden Soeharto dan bunga anggrek kepada nyonya Tien Soeharto.

Selain oleh pesawat-pesawat tempur baru F-5 “Tiger”, “Hawk” dan “Skyhawk”, demonstrasi kemampuan terbang kemarin dimeriahkan pula oleh jenis-jenis tempur lainnya yang meskipun sudah tua tapi cukup banyak jasanya yakni oleh F-86 “Sabre” yang sudah hampir habis rasa pakainya pesawat latih lanjutan L-29 Dolphin dan buru taktis Bronco OV-10, serta Helikopter Bell B0-105, Puma dan Allouet II.

Juga diadakan defile oleh tujuh Brigade pasukan tempur dari berbagai Angkatan dan Polri yang merupakan bagian dari 60 batalyon ABRI yang telah dimantapkan dalam tahun 1979-1980. Beserta berbagai persenjataan baik perorangan seperti senapan M-IG dan senjata-senjata bantuan seperti tank AMX, panser V-150 (kendaraan berlapis baja pengangkut personil) meriam artileri udara meriam 12.7 dan mortir. Tidak ketinggalan kendaraan angkutan mulai dari sampai truk. Semuanya serba baru. Acara defile dibuka oleh drumband AKABRI.

Kemanunggalan ABRI dan Rakyat secara sepintas barangkali dapat terlihat dalam upacara kemarin. Kesempatan yang diberikan kepada rakyat untuk menyaksikan jalannya parade, bahkan sampai mendekati panggung kehormatan dimana hadir Presiden dan Nyonya Tien Soeharto, Wakil Presiden dan Nyonya Adam Malik. Menhankam Pangab Jendral M. Jusuf diberikan secara leluasa.

Para petugas pun tidak terlalu “kasar” terhadap massa rakyat yang berdesak­desak. Ketika defile berakhir masa rakyat beramai-ramai naik angkutan yang disediakan untuk pasukan. Bahkan tank dan panser mereka naik beramai-ramai tanpa ditegur atau dibentak. Suatu pemandangan yang sederhana tetapi mempunyai suatu kesan mendalam di hati rakyat. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (06/10/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 868-874.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.